Perjalan mereka terasa begitu lama bagi Yoon Jaemin. Dimana ia harus melihat pemandangan Wang Jeno dan Zhi Fengyu yang duduk berduaan di atas kuda dengan asik bercengkrama. Yoon Jaemin seperti tidak ada bedanya dengan pelayan yang ikut dengan mereka, duduk di atas kudanya seorang diri dan jauh di belakang menyaksikan suaminya bersama orang lain.
“Uhuk-uhuk!”
“Yang Mulia, anda baik-baik saja?” Tanya Su-ah saat melihat Jaemin terbatuk dan menutup mulutnya dengan sapu tangan.
“Ya... aku baik-baik saja, Su-ah...” Jaemin berusaha menyembunyikan sapu tangannya yang kotor oleh darah dari mulutnya. Ia tidak ingin seseorang melihatnya.
“Apakah anda perlu istirahat? Saya akan meminta Yang Mulia untuk memberikan waktu.” Seseorang datang dan menunggangi kudanya beriringan dengan kuda Jaemin.
Orang itu sepertinya berperawakan tinggi dan juga kekar. Jaemin tidak pernah melihat orang itu sebelumnya dan ini pertama kalinya.
Melihat reaksi kebingungan di wajah Jaemin, pria itu tersenyum kikuk dan mulai memperkenalkan dirinya. “Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Nama saya Lee Minhyung dan saya bawahan Putra Mahkota.”
Lee Minhyung sedari tadi memperhatikan Yoon Jaemin yang terlihat sangat menyedihkan saat ia diabaikan oleh Putra Mahkota. Melihat Jaemin yang terlihat kelelahan ia pun memutuskan untuk mendekatinya dan bertanya sebagai bentuk hormat nya kepada Putri Mahkota.
“Justru kalian lah yang harus beristirahat. Tidak apa, aku akan meminta Wang Jeno untuk memberikan kalian waktu beristirahat.” Ucap Jaemin, laki-laki itu tersenyum teduh sebelum membawa kudanya untuk berjalan lebih dekat dengan kuda Wang Jeno.
“Jeno... bagaimana jika kita beristirahat sebentar saja? Aku merasa kasihan dengan para pelayan karena terlihat kelelahan.”
Wang Jeno dan Zhi Fengyu menoleh bersamaan ke arah Yoon Jaemin. Jeno mengedarkan pandangannya dan melihat jika semua orang memang terlihat kelelahan. Ia berpikir sejenak dan menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan Jaemin.
Semua orang pun menepi dan beristirahat dibawah pepohonan rimbun di pinggiran hutan. Yoon Jaemin duduk seorang diri, matanya tidak bisa berhenti memperhatikan Wang Jeno dari kejauhan.
“Kapan kamu akan menerima ku, Jeno?”
“Aku melakukan semua ini demi Ayah ku, aku harus bertahan demi Ayahku. Meskipun kamu akan selalu membenci ku, aku akan tetapi bertahan untuk kebaikan Ayahku.”
'Chirp Chirp!
Suara gemerisik dari semak-semak mengalihkan perhatian Yoon Jaemin. Netra bambi nya tertuju pada sesuatu yang bergerak di balik semak-semak yang tak jauh dari tempatnya duduk. Yoon Jaemin melihat seekor kelinci berwarna putih bersih yang terlihat sangat cantik. Rasa untuk menangkap kelinci itu membawa semangat dalam diri Jaemin. Ia lantas berdiri dan perlahan-lahan mendekati seekor kelinci itu. Namun, sayangnya kelinci itu seperti mendapat pertanda bahaya sehingga melarikan diri sebelum Jaemin berhasil menangkapnya. Karena merasa gagal, Yoon Jaemin berusaha untuk mengejarnya. Tapi, ia tidak waspada jika di depannya ada sebuah jurang yang tidak terlalu dalam namun curam.
“AAKH!”
Kakinya terkilir dan tubuhnya hampir saja terjatuh jika seseorang tak langsung menahan tangannya.
“Apa kau sudah buta?!” Suara lantang Wang Jeno menggema. Entah datang darimana laki-laki itu hingga tiba-tiba berada di sisi Jaemin.
“Apa yang sedang kau lakukan, Apa kau ingin bunuh diri?!”
Pertanyaan gamblang itu mengejutkan Jaemin karena itu tidak benar, dan kenapa Wang Jeno bisa berpikir seperti itu?
“A-aku hanya ingin mengejar kelinci liar, jadi aku mengikutinya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Vows || Nomin
FanfictionSeharusnya malam pernikahan Yoon Jaemin menjadi malam yang paling indah selama hidupnya. Namun, apa yang dia dapatkan saat Wang Jeno justru membawa budak laki-laki untuk lebih dinikmati? •Bxb •Homophobia DNI! •Historical fiksi •Tidak sesuai dengan s...
