Selama di pengadilan, Raja Taeso terus memperhatikan Wang Jeno. Anak itu sudah tidak banyak bicara seperti sebelumnya, ia bahkan tidak menentang semua pengajuan yang diberikan oleh para menteri negara. Wang Jeno bisa menerima dan menampung semua usulan dan keluhan yang diberikan. Ia tidak lagi impulsif dan mudah tersinggung seperti sebelumnya. Dia sudah cukup tenang, tidak sama seperti Wang Jeno yang baru saja kembali dari kamp militer.
“Jeno, kenapa kau tidak berbicara?” tanya sang Raja dengan suara lembut, namun sarat akan kehangatan dan rasa ingin tahu yang mendalam.
“Ayah baru saja diracuni, dan saya kewalahan mengurus urusan negara. Saya merenung beberapa hari dan membaca buku-buku yang mengatakan bahwa memahami hal-hal duniawi adalah kebijaksanaan dan menguasai hubungan manusia adalah sastra. Saya memang kurang pengetahuan tentang pemerintahan. Semua saudara pengadilan adalah pilar negara dan perkataan mereka sangat masuk akal.” jawab Jeno dengan bijaksana, suaranya mengalir seperti aliran sungai yang tenang namun penuh kekuatan.
“Sebelumnya saya sombong, dan saya meminta maaf dengan tulus kepada kalian semua...” Wang Jeno menyatukan kedua tangannya kedepan, membungkuk hormat kepada semua orang dengan kerendahan hati yang tulus.
“Kami tidak bisa menerimanya Yang mulia, anda adalah orang yang bijaksana!” serempak para menteri menolak, karena bagi mereka, sikap rendah hati sang Putra Mahkota adalah mahkota sejati yang menghiasi jiwa pemimpin.
“Jika seperti itu kau harus mendengarkan lebih banyak lagi. Saat kau kembali ke istana Jinseon, kau bisa meminta pendapat dari Jaemin, dia adalah orang yang bisa memberikan pemahaman mendalam dan pastinya akan memberikan pengetahuan yang berbeda-beda.” Raja Taeso berbicara dengan nada penuh wibawa dan keyakinan. Ia sangat mempercayai Jaemin, mengenal kecerdasan dan kebijaksanaan Yoon Jaemin, sehingga menjadikannya sebagai pendamping setia Wang Jeno.
“Ya, Ayah...” balas Jeno dengan hormat, suaranya mengalun lembut penuh penghormatan.
“Ayah... saya ingin memberitahu Ayah bahwa saya ingin masuk kedalam akademi selama satu tahun lagi bersama Jaemin...” kata Jeno dengan nada penuh harap.
Mendengar penuturan anaknya, Raja Taeso terdiam sejenak, wajahnya menampakkan renungan mendalam.
“Sepertinya itu agak sia-sia karena dia sudah menemanimu belajar, dan sekarang kau ingin pergi ke akademi. Kau harus bertanya padanya dulu Jeno.” usul sang Ayah dengan lembut. Sebenarnya, Raja Taeso merasa bahagia mendengar permintaan itu keluar dari bibir Jeno. Ia yakin bahwa cara berpikir putranya telah berubah, dan persahabatan yang kembali terjalin akan membawa kebaikan bagi keduanya.
“Sebagai pendamping Putra mahkota, dia pasti bersedia Ayah.” jawab Wang Jeno dengan rasa penuh percaya diri.
'Dung!
'Dung!
'Dung!
Tiba-tiba suara genderang yang dipukul keras menggema hingga memenuhi aula persidangan. Wang Jeno menoleh, matanya tertuju pada pintu, di mana seorang pengawal berlari masuk dengan tergesa-gesa menerobos ke dalam ruangan.
“Siapa yang berani membunyikan itu?” tanya Jeno dengan raut penuh keingintahuan.
“Itu... itu Putri mahkota, Yang mulia...!” jawab sang pengawal dengan suara panik yang bergetar.
“Jaemin? Kenapa dia menabuh genderang keluhan...?” gumam Jeno, hatinya berdebar.
“Cepat panggil dia kemari!” perintah Raja Taeso dengan suara tegas yang menggema di seluruh aula, memerintahkan pengawal agar segera mengizinkan Yoon Jaemin memasuki ruang persidangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Vows || Nomin
FanficSeharusnya malam pernikahan Yoon Jaemin menjadi malam yang paling indah selama hidupnya. Namun, apa yang dia dapatkan saat Wang Jeno justru membawa budak laki-laki untuk lebih dinikmati? •Bxb •Homophobia DNI! •Historical fiksi •Tidak sesuai dengan s...
