Cuaca hari itu begitu cerah, sinar matahari menari lembut di atas atap-atap istana Joseon yang sibuk dan padat seperti biasa. Meski niat Yoon Jaemin untuk tidak lagi menginjakkan kaki di dalam istana sudah bulat, takdir berkata lain ketika Raja Taeso memanggilnya untuk bertemu secara pribadi.
“Yang mulia Raja telah menunggu di paviliun Changdeokgung, Tuan putri. Harap berhati-hatilah dengan jalan batu yang tidak rata.” ucap seorang Kasim yang setia menuntun langkahnya. Ia adalah kepala pelayan di istana Changdeokgung, sekaligus pelayan pribadi Raja Taeso.
“Panggil saja aku dengan namaku.” pinta Yoon Jaemin dengan suara lembut, menegaskan bahwa gelar Putri mahkota sudah ia lepaskan dan kini ia adalah bagian dari menteri kerajaan.
Dalam benaknya, Jaemin berharap bisa terus bersembunyi di balik dinding rumah ayahnya, menghindari tatapan dan bisik-bisik istana. Namun, panggilan Raja datang tanpa ampun, dan ia tak punya pilihan selain menghadapinya.
“Maaf, saya salah bicara dan lupa untuk mengubah kata-kata saya. Saya selalu berpikir bahwa anda dan Putra mahkota tidak seharusnya berada di situasi seperti ini. Kalian adalah pasangan yang serasi, sungguh sangat disayangkan...” ujar Kasim Hong dengan nada penuh simpati.
“Saya telah mengabdi di istana hampir sepanjang hidup saya, dan saya tidak pernah melihat Putra mahkota begitu patah hati seperti ini.” Kasim Hong kembali bersuara ditengah-tengah perjalanan menuju paviliun.
“Akhir-akhir ini, dia tampak begitu gelisah di setiap pertemuan di pagi hari. Pakaiannya berantakan dan penampilannya tidak terawat. Untuk seseorang yang biasanya angkuh dan sombong, dia terlihat benar-benar kacau.” lanjut Kasim Hong, memberitahu keadaan Wang Jeno kepada Yoon Jaemin. Dari nada bicaranya, pria tua itu seperti sangat iba dengan kondisi Jeno yang jauh dari kata baik.
Namun, Yoon Jaemin sama sekali tak terkejut. Ekspresinya justru menunjukkan sikap dingin dan ketidakpedulian terhadap kondisi mantan suaminya itu. Ia tak ingin mendengar lagi tentangnya; luka yang pernah tergores masih membekas dalam hatinya, dan rasa sakit itu belum hilang.
“Itu bukan apa-apa, dalam beberapa hari dia akan lupa dan kembali ke dirinya yang biasa.” jawab Jaemin seolah tahu bagaimana watak Jeno yang sebenarnya.
Setibanya di paviliun, Jaemin disambut oleh Raja Taeso yang duduk bersila dengan bahu tegap, menatap danau yang tenang di depan mata. Suasana hening sejenak, hanya suara angin yang mengelus dedaunan.
“Mentri Yoon Jaemin memberi hormat kepada Yang mulia...” Yoon Jaemin membungkukkan tubuhnya dengan hormat. Raja Taeso yang mendengar suara Jaemin langsung menoleh dan tersenyum teduh.
“Jaemin, kau masih dalam masa pemulihan, tidak perlu formalitas.” ucap sang Raja dengan suara penuh perhatian.
Dengan perintah halus dari Raja, Jaemin duduk dan bergabung di sisi paviliun. Ia merebahkan pantatnya dengan sopan, menatap sang Raja yang duduk berseberangan.
“Kau sudah tinggal di kediaman Yoon selama tiga hari. Aku lihat tubuhmu lebih berisi dan tidak sekurus sebelumnya. Apa kau sudah merasa lebih baik?”
“... Apa kau masih ingin berpisah dengan Jeno?” sambungnya, setelah memberi jeda singkat pada pertanyaannya.
“Keputusan ku sudah bulat.” Yoon Jaemin menjawab dengan rasa percaya diri, ia menegaskan bahwa keputusannya untuk berpisah dengan Jeno benar-benar sudah mantap dan tidak bisa di ganggu gugat.
Wang Taeso menghembuskan napas panjang, seolah menanggung beban berat di pundaknya. Ia terus berusaha merajut kembali hubungan yang telah retak di antara dua hati yang dulu pernah bersatu, namun kini terpisah.
“Sepertinya Jeno benar-benar telah membuatmu patah hati. Tidak peduli apapun yang ku katakan untuknya, itu tidak akan membantu. Aku mengerti, kau selalu tenang dan tabah, tidak pernah bertindak gegabah. Karena kau dan Jeno memang tidak ditakdirkan untuk bersama, maka aku tidak akan memaksanya.” ucap sang Raja dengan raut sedih dan kecewa yang tersirat dalam setiap kata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Vows || Nomin
FanfictionSeharusnya malam pernikahan Yoon Jaemin menjadi malam yang paling indah selama hidupnya. Namun, apa yang dia dapatkan saat Wang Jeno justru membawa budak laki-laki untuk lebih dinikmati? •Bxb •Homophobia DNI! •Historical fiksi •Tidak sesuai dengan s...
