30. Menghapus Semua Jejak

1.7K 157 10
                                        

Tanpa seberkas cahaya pun, ruangan itu tenggelam dalam keheningan yang pekat, hanya suara gemericik hujan yang setia mengalun seperti melodi pengantar tidur. Di balik selimut tebal, sebuah sosok terbaring, meringkuk sendiri, berusaha memejamkan mata. Namun, ia tahu, tak ada bedanya antara terpejam atau terbuka— dunia tetap sama sunyinya.

Di tengah usahanya menenggelamkan diri dalam pelukan mimpi, tiba-tiba sebuah tangan hangat merangkul pinggangnya dari belakang. Hembusan napas lembut di lehernya menambah kehangatan di malam yang dingin dan menusuk itu.

“Kau bilang, kau tidak akan meninggalkan ku kan?”

Suara berat itu mengalun pelan di telinga Yoon Jaemin. Usahanya untuk terlelap pun sia-sia, karena kini, orang yang paling ia ingin hindari justru menyatu dalam satu selimut yang sama.

“Ya, benar...” jawabnya lirih. Tanpa mau menoleh sedikit saja kepada Wang Jeno.

“Aku tahu, kau tidak akan tega meninggalkanku, dan kau tidak akan bisa melakukannya...” Wang Jeno semakin merapatkan tubuhnya pada Jaemin, memeluk sosok kecil itu seolah takut kehilangan bagian terpenting dari dirinya.

Yoon Jaemin perlahan membuka matanya, bibirnya tersungging kedalam, berjuang menahan getaran yang mengguncang hatinya.

“Maafkan aku, aku harus mengingkari janjiku padamu Jeno...”

“Berhenti mencintai seseorang bukanlah hal sulit, bukan?”

Malam itu, kata-kata pun terhenti, tak ada pertanyaan, tak ada pernyataan yang terucap dari bibir mereka. Jaemin tetap memunggungi Jeno, sementara laki-laki itu terus memeluk erat perutnya. Keduanya memejamkan mata, tenggelam dalam labirin pikiran yang berkelana jauh di dalam relung hati masing-masing.

***

Mentari bersinar menelusup celah-celah pintu kayu di istana besar itu. Suasana nampak sangat berseri, seperti senyuman yang terukir dibibir Pangeran Wang Jeno. Laki-laki bertubuh gagah perkasa itu berdiri di antara kedua pelayan yang tengah merapikan pakaian kerajaannya.

“Yang mulia, aku lihat mereka membuat pakaian untukmu terlihat lebih mewah daripada sebelumnya. Apakah Yang mulia menyukai pakaian ini?” tanya Su-Ah dengan hormat.

Senyumannya semakin merekah saat Su-Ah memuji pakaian kerajaan yang ia kenakan berbeda daripada sebelumnya. “Ini sangat cocok, bagaimana kau bisa memilih hal yang aku suka?” tanya Jeno kepada sang gadis pelayan.

“Aku juga mengajari Su-Ah membuat beberapa camilan favorit mu.” Suara lembut Yoon Jaemin mengalun. Laki-laki cantik itu duduk bersila disana, menunggu Jeno bersiap-siap.

“Jika kau ingin memakannya, kau bisa meminta dia membuatkan camilan yang kau mau.” ucap Jaemin lagi.

Wang Jeno menoleh sedikit, melirik Jaemin dengan senyum nakal, “Itu tidak seenak buatanmu.” jawabnya penuh kehangatan dan candaan.

“Aku tidak bisa membuatnya lagi Yang mulia...”

Dengan sigap, Wang Jeno merapat, menarik dagu Jaemin dengan lembut, lalu mengecup bibir ceri itu. Yoon Jaemin tersentak, namun rasa yang dulu menggetarkan hatinya kini berubah menjadi hampa, hanya kekosongan yang membungkus jiwa.

“Jangan khawatir, mata dan tanganmu akan segera sembuh. Aku akan pergi, tunggu aku pulang setelah sidang berakhir.” Wang Jeno menegakkan tubuhnya dan berbalik untuk bergegas menuju pengadilan.

“Yang mulia...” Yoon Jaemin berdiri dari duduknya, menghentikan langkah kaki Jeno.

“Ada apa?” tanya Jeno.

Broken Vows || NominCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang