Dengan langkah tegas dan penuh harap, Wang Jeno berlari dan memeluk tubuh Jaemin yang hendak pergi dari belakang. Pria itu memeluk perut Jaemin, dan mendekapnya erat, meletakkan dagunya di atas pundak Jaemin. Dalam posisi itu, Wang Jeno akhirnya mendapatkan kehangatan yang ia inginkan selama ini.
“Wang Jeno, lepaskan aku!” Yoon Jaemin yang terkejut berusaha memberontak dan melepaskan diri dari pelukan Pria besar dibelakangnya itu.
“Jaemin... jangan tinggalkan aku, ya? Mari kita lupakan masalah perpisahan ini.” Wang Jeno merengek seperti anak kecil, membuat Jaemin sedikit malu karena dilihat oleh para pelayan dan kasim yang mengawalnya.
“Aku tahu aku sudah salah paham dan menyakitimu sebelumnya, aku sudah merenungkannya beberapa hari ini dan bersedia untuk memperbaiki kesalahanku, ya?” mohonnya kepada Jaemin.
“Jika satu permintaan maaf bisa memperbaiki keadaan di dunia ini, maka itu terlalu mudah.” jawab Jaemin yang kini sudah pasrah di peluk oleh Jeno.
“Kalau begitu kau bisa memukulku jika kau mau, bagaimana? Aku bersedia menerima sepuluh kali lipat atau seratus kali lipat.” Wang Jeno tidak akan menyerah, baginya luka pukulan itu tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan luka yang sudah ia berikan kepada Jaemin.
“Kau benar-benar aneh... saat aku didekatmu, kau ingin mengusirku. Dan saat aku pergi, kau justru membuat keributan dan bilang kau ingin mencintaiku.” gumam Jaemin lirih, masih dalam pelukan Wang Jeno yang terasa hangat.
“Jeno, tidak semua orang di dunia berpusat padamu.” perkataan Jaemin menyadarkan Jeno, bahwa ia selama ini terlalu kekanak-kanakan dan tidak bisa bersikap dewasa. Menganggap bahwa semua adalah miliknya.
“Jaemin... di hari pernikahan kita, aku keras kepala dan menolak untuk mengikuti ritual yang semestinya, dan kau memohon padaku untuk kembali... beberapa hari yang lalu aku membeli lilin merah dan menempelkan dekorasi pernikahan yang baru. Aku sudah menyiapkan semuanya, aku ingin mengikuti ritual yang semestinya bersamamu dan meminum anggur pernikahan.” ujar Jeno.
Yoon Jaemin melepaskan tangan Jeno dari perutnya, Pria itu tidak lagi keras kepala dan melepaskan pelukannya begitu saja dengan hati sedih.
“Bisakah kita mulai dari awal?” tanya Jeno, kedua netranya menatap punggung Jaemin dengan penuh harap.
“Apa gunanya melakukan semua itu?” balas Jaemin, lidahnya terasa kelu, kerongkongannya terasa sakit dan tercekat. Mendengar Jeno dengan mudahnya meminta hal itu padanya. Baginya, pernikahan adalah hal yang sakral, bukan untuk dijadikan main-main. Dan Jaemin hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya, ia tidak akan pernah bisa minum secangkir anggur pernikahan lagi.
“Astaga Jaemin! Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku?!” Wang Jeno berteriak penuh frustasi.
“Aku bersedia melakukan apapun!” kalimat itu menghentikan langkah Jaemin, ia menolehkan kepalanya sedikit untuk melirik Jeno.
“Kalau begitu, apakah kau bisa melepaskanku?” katanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat, keluar dari gerbang istana dan meninggalkan Jeno.
Wang Jeno mengepalkan kedua tangannya semakin keras, kedua alisnya menukik tajam menatap kepergian Jaemin. Semua usahanya, semua kerja kerasnya untuk membuat Yoon Jaemin kembali menerimanya tidak pernah mendapatkan hasil. Bahkan saat ia menurunkan egonya untuk memohon kepada Jaemin, mantan istrinya itu tetap keras kepala untuk meninggalkannya.
“Jaemin... kau tidak boleh pergi, aku tidak akan membiarkanmu...!” gumam Jeno dengan penuh tekad. Bagaimanapun caranya, ia harus membawa Jaemin kembali.
***
Yoon Jaemin akhirnya pulang ke kediaman Yoon— kerumah Ayahnya. Semua terasa lebih tenang dan melegakkan daripada tinggal lebih lama di dalam Istana dan harus menghirup udara di lingkungan istana yang selalu saja membuatnya sesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Vows || Nomin
FanficSeharusnya malam pernikahan Yoon Jaemin menjadi malam yang paling indah selama hidupnya. Namun, apa yang dia dapatkan saat Wang Jeno justru membawa budak laki-laki untuk lebih dinikmati? •Bxb •Homophobia DNI! •Historical fiksi •Tidak sesuai dengan s...
