Malam telah tiba, membungkus Istana Jinseon dalam selimut keheningan. Yoon Jaemin terbaring lemah di tempat tidurnya, di bawah perawatan saksama tabib Jung. Sesuai keinginan Jeno, kesembuhan Jaemin menjadi prioritas utama.
Tabib Jung, dengan raut wajah serius, memeriksa kondisi Jaemin. Jari-jarinya yang terampil meraba denyut nadi laki-laki itu, sebuah keterkejutan tersirat dalam diamnya.
“Yang mulia, anda...”
“Shh...” Yoon Jaemin dengan sigap menahan tangan Jung Jaehyun, mencegahnya melanjutkan ucapannya.
“Aku tidak perlu memberitahunya...” bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar, berusaha menyembunyikan sesuatu dari Jeno.
“Yang mulia, ini... sangat berbahaya, anda harus memberitahunya. Mungkin saja Pangeran akan memperlakukan anda sedikit lebih baik.” tabib Jung menyarankan dengan suara pelan, menunjukkan keprihatinannya.
Rahasia itu bukan lagi rahasia. Hampir semua pelayan, kasim, dan penjaga istana telah menyaksikan perlakuan kasar Jeno terhadap Jaemin, baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Namun, ketakutan akan kemarahan Putra Mahkota dan Raja telah membungkam mereka.
“Itu artinya...”
“Bagaimana keadaannya?” tiba-tiba suara Jeno memecah suasana. Memotong kalimat yang ingin Jaemin ucapkan.
“Apakah Jaemin bisa sembuh dan apakah matanya bisa kembali seperti semula?” Jeno bertanya dengan penuh kekhawatiran. Suaranya menunjukan kegelisahannya.
“Luka-luka nya akan segera pulih, Yang mulia. Dan dia hanya perlu beristirahat agar penglihatannya segera membaik.” niat hati ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Jeno, justru tertahan begitu saja. Tabib muda itu tahu bahwa Jaemin hanya tidak memiliki waktu untuk mengatakannya.
Senyuman lebar merekah di wajah tampan laki-laki itu, ia duduk di alas tidur di dekat Jaemin. Tatapannya penuh dengan rasa lega dan kegembiraan.
“Jaemin, apa kau mendengarnya? Tangan dan matamu akan segera sembuh. Saat kau sudah pulih kau bisa membaca dan menulis seperti sebelumnya Jaemin...” ucap Jeno dengan senang. Suaranya mencerminkan perasaannya yang tulus.
“Kita harus segera pergi kerumah tabib kerajaan untuk mencari obat untukmu.” lanjut Jeno.
“Mungkin... Putri mahkota akan segera mendapatkan gelarnya kembali...” tabib Jung menyahut dengan sopan, ia cukup lega saat melihat keperdulian Putra mahkota terhadap Jaemin.
“Itu benar... saat kau berhasil menyembuhkan Putri mahkota, aku akan memberikan hadiah lain untukmu.” ujar Wang Jeno dengan harapan besar jika tabib Jung mampu menyembuhkan Yoon Jaemin.
Tabib Jung membungkuk dengan hormat, ia berpamitan untuk undur diri dari ruangan itu dan kembali ke rumah tabib kerajaan untuk mempersiapkan obat-obatan yang dibutuhkan, dibantu oleh para tabib lainnya.
Setelah Tabib Jung pergi, hanya tersisa Jeno dan Jaemin di dalam kamar. Wang Jeno mengambil sebuah ember air dan kain lembut, ia ingin menyeka tubuh Jaemin. Dengan hati-hati, ia menyingkap lengan Jeogori yang dikenakan Jaemin. Ia tersentak melihat bekas luka bakar yang belum sempurna sembuh. Kulit yang mengelupas dan sedikit darah yang mengalir membuat hati Jeno terpukul dalam, menciptakan rasa penyesalan yang mendalam.
“Apa ini masih sakit?” tanya nya, menunjukan kekhawatirannya.
“Ya, itu menyakitkan.” jawab Jaemin tanpa ekspresi di wajahnya. ekspresinya tidak menunjukkan rasa sakit yang ia rasakan.
“Aku lelah Yang mulia, izinkan aku untuk beristirahat sementara waktu.” Jaemin menoleh ke samping, menghindari Jeno. Meskipun ia tidak bisa melihat wajah Jeno, suara pria itu saja sudah cukup untuk membuatnya merasa enggan. Luka di hatinya belum sembuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Vows || Nomin
FanfictionSeharusnya malam pernikahan Yoon Jaemin menjadi malam yang paling indah selama hidupnya. Namun, apa yang dia dapatkan saat Wang Jeno justru membawa budak laki-laki untuk lebih dinikmati? •Bxb •Homophobia DNI! •Historical fiksi •Tidak sesuai dengan s...
