Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

26. Sebuah Kebenaran.

2.2K 173 20
                                        

Wang Jeno kembali ke Istana Jinseon, setelah semua usahanya untuk mendesak Yoon Jaemin. Ia kembali ke kamarnya, berniat untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda akibat masalah besar yang baru saja terjadi. Kepalanya sedikit berdenyut nyeri, ia duduk di hadapan meja kerja nya sembari memijat kepalanya.

Beberapa kali ia meyakinkan diri untuk tidak memperdulikan Yoon Jaemin yang sudah mengkhianatinya. Akhirnya, ia membuka lembar demi lembar dokumen yang hendak ia selesaikan malam ini, sebab kondisi Ayahnya yang masih belum sadarkan diri ia terpaksa harus mengambil alih pekerjaan Raja.

"Mengapa ada begitu banyak...?" Gumamnya.

"Kebutuhan masyarakat berbeda-beda, Jeno."

Wang Jeno terhenyak. Tiba-tiba, entah mengapa ia bisa mendengar suara Yoon Jaemin didekatnya. Suara yang tampak mengapung di udara.

"Mungkin dana bantuan tidak signifikan, namun bagi rakyat itu mungkin saja sangat berarti untuk melanjutkan hidup keluarga mereka." Suara itu terdengar semakin jelas, mengacaukan konsentrasi Jeno.

"Jeno, mungkin bagimu ini adalah tumpukan buku-buku yang tidak ada artinya."

"Yoon Jaemin...?" Jeno menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak menemukan keberadaan Jaemin.

"Tapi ini adalah awal untuk membangun negara dan dunia yang lebih baik." Suara itu masih berlanjut, seakan menghantui Jeno.

"Jeno..." Bisikan itu terdengar jelas di samping telinga Jeno.

"Berhenti menggangguku!" Wang Jeno menghempaskan tangannya, berusaha mengusir bayang-bayang Yoon Jaemin dari kepalanya. Ia tahu jika ia telah berhalusinasi.

"Aku sudah tahu itu semua!" Geramnya. Ia mencoba untuk menyingkirkan semua pikiran tentang Jaemin. Walau tidak berada disampingnya, laki-laki lemah itu masih saja mengusik dirinya.

Memilih untuk tidak memperdulikan hal-hal yang berkaitan dengan Yoon Jaemin, ia pun mengambil pena dan hendak mengerjakan pekerjaannya.

"Mungkin akan ada pengurangan pajak karena kekeringan di selatan dan Joseon. Tapi, badan keuangan nasional sangat membutuhkan ini." Katanya pada diri sendiri setelah membaca laporan keuangan.

"Jaemin, apa yang kau pikirkan tentang ini?" Tanpa sadar, Jeno menolehkan kepalanya ke arah meja kerja Yoon Jaemin. Bertanya mengenai masalah keuangan negara. Namun, hanya kekosongan yang menjawab.

"Ah... benar, aku sudah mengirim Yoon Jaemin ke Yeonghon." Ia teringat, jika ia telah mengurung Jaemin di penjara bawah tanah.

Jeno termangu, merutuki dirinya sendiri karena masih saja mencari Yoon Jaemin. Seharusnya ia bisa menahan diri dan tidak perlu bergantung pada laki-laki itu. Entah sudah menjadi kebiasaan untuknya atau karena rasa bersalah, yang pasti dulu Jaemin selalu berada di sisinya dan membantunya.

"Ada banyak orang yang mempelajari buku dan memahaminya. Kau pikir aku tidak bisa menjadi Putra mahkota hanya karena kau tidak ada?!" Jeno merasa emosi, laki-laki bodoh itu yakin pada dirinya sendiri bahwa ia bisa mandiri tanpa adanya Jaemin.

Bayang-bayang ucapan Jaemin saat di penjara bawah tanah pun masih terngiang di benaknya. Tangannya mengepal kuat di atas meja. Ia marah, entah kenapa ia menjadi sangat emosi mengingat hal itu.

"Aku sudah tidak mencintai mu lagi..."

"Yoon Jaemin ini... sudah tidak mencintaimu lagi."

Suara Yoon Jaemin kembali berbisik dalam ingatannya. "Ini benar-benar menggangguku." Geramnya. Ia menolak untuk mengakui, bahwa kehilangan Jaemin mempengaruhi dirinya.

Broken Vows || NominCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang