Wang Jeno berdiri di tepian tebing, wajahnya terpahat oleh garis-garis kelelahan dan kerinduan yang mendalam. Di bawahnya, lembah membentang bagai permadani putih yang disulam oleh sungai beku. Angin musim dingin bertiup kencang, mencambuk wajahnya dengan butiran salju yang tajam, seolah alam pun turut merasakan pedihnya kehilangan.
"Yang mulia, mari kita kembali ke ibu kota. Tuan muda keluarga Yoon sepertinya tidak bisa diselamatkan."
Jenderal Lee Minhyung menghampiri dengan langkah berat, membungkuk hormat di hadapan Sang Putra Mahkota. Suaranya lirih, tenggelam dalam gemuruh angin yang memilukan. Kata-katanya bagai belati yang menghunus jantung Wang Jeno.
Jenderal Lee menundukkan pandangannya, tak berani menatap mata Sang Putra Mahkota yang berkilat bagai bara api di tengah badai salju.
"Saya telah salah bicara, Yang mulia!" Pria itu segera meminta maaf, suaranya bergetar dihembus angin setelah menyadari ucapannya menyinggung perasaan sang tiran.
"Aku tidak menyalahkan mu."
"Dia bilang... temperamen ku terlalu keras, bahwa aku tidak seharusnya menghukum bawahanku. Kali ini aku akan mendengarkannya." Ucapannya meluncur bagai desahan angin, membawa serta kenangan akan suara lembut Yoon Jaemin yang selalu menenangkannya.
"Tapi kau salah. Dia bukan tuan muda keluarga Yoon, dia adalah penguasa istana Jinseon, putri mahkota ku."
"Lain kali jangan memanggilnya dengan gelar yang salah." ucap Jeno dengan tegas.
"Dimengerti!" suara tegas Lee Minhyung mengudara.
Ditengah udara dingin musim salju, keduanya masih merenungi sesuatu. Seperti Lee Minhyung yang saat ini menyarankan Wang Jeno agar kembali ke istana dan menunggu kabar dari para mata-mata. Akan tetapi, keteguhan hati seorang Wang Jeno seperti baja yang keras. Ia akan tetap mencari Yoon Jaemin dengan usahanya sendiri bahkan jika itu harus mengorbankan dirinya sendiri.
"Aku tidak akan kembali, aku tahu dia pasti masih hidup. Aku bisa merasakannya, dia ada disana, menungguku." Wang Jeno menunjuk ke arah barat, di wilayah Luoyang.
"Aku akan pergi ke kota kerajaan Luoyang sekali lagi!"
***
“Jaemin, kau harus membantuku.” suara berat pria berkumis tebal itu menyadarkan Yoon Jaemin dari lamunannya.
Saat ini laki-laki malang itu tengah memangku putranya sembari memberikannya susu. Namun ia langsung bersigap saat Hao Ran datang dan duduk didekatnya sembari membawa selembar surat.
“Sebentar lagi Yang mulia kaisar akan mengadakan perayaan ulang tahunnya dan aku di undang untuk hadir ke pesta itu. Tapi aku tidak tahu harus memberikan hadiah apa untuknya.” Hao Ran menunjukan surat itu kepada Yoon Jaemin.
“Kau pandai dalam membuat kaligrafi dan tulisan mu sangat indah, aku yakin jika Yang mulia kaisar akan menyukai kaligrafi yang kau buat.”
Yoon Jaemin tertegun, seperti tengah memikirkan sesuatu. “Jika aku mengirim kaligrafi untuk diberikan kepada kaisar Shen Luo dia pasti akan mengenali tulisanku dan aku bisa memanfaatkan hal ini untuk meminta pertolongannya.”
“Aku berjanji tidak akan menyentuhmu sampai kau sembuh jika kau mau membantuku.” ujar Hao Ran guna meyakinkan Yoon Jaemin.
Yoon Jaemin terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala tanda setuju. Ia berharap jika apa yang dikatakan pria itu benar, bahwa ia akan aman sampai dia benar-benar mendapatkan jalan keluar untuk kabur dari rumah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Vows || Nomin
FanfictionSeharusnya malam pernikahan Yoon Jaemin menjadi malam yang paling indah selama hidupnya. Namun, apa yang dia dapatkan saat Wang Jeno justru membawa budak laki-laki untuk lebih dinikmati? •Bxb •Homophobia DNI! •Historical fiksi •Tidak sesuai dengan s...
