Sejak penolakan Jaemin yang berulang kali menusuk hati Wang Jeno, sosok putra mahkota itu berubah menjadi bayangan dirinya sendiri. Wajahnya yang dulu penuh semangat kini terlihat kusam, matanya kosong seperti mayat hidup yang tersesat dalam lorong-lorong istana yang megah namun sunyi.
Malam demi malam, Jeno tenggelam dalam gelas-gelas anggur yang tak pernah kosong. Aroma alkohol menjadi pelarian dari luka yang terus menggerogoti hatinya. Ia duduk terpaku di sudut kamar, menatap kosong ke luar jendela, membiarkan pikirannya hanyut pada nama yang tak pernah lepas dari bibirnya; Yoon Jaemin.
Pekerjaan sebagai putra mahkota mulai terabaikan. Surat-surat penting menumpuk tanpa disentuh, perintah kerajaan terlupakan, dan para pejabat mulai berbisik-bisik tentang perubahan drastis dalam diri sang pewaris tahta. Namun, Jeno tetap terperangkap dalam kesendiriannya, seolah dunia di sekelilingnya telah runtuh.
Suatu pagi yang dingin, ketika matahari mulai menyinari halaman istana, seorang pelayan setia mengetuk pintu kamar Jeno dengan lembut. “Yang Mulia, pengadilan kerajaan sudah menunggu anda.” ucap pelayan itu dengan suara penuh hormat.
Wang Jeno tak membalas, ia hanya diam melamun sembari menatap keluar jendela. Lagi dan lagi disebelahnya sudah ada kendi yang tentu saja berisi minuman keras. Saking banyaknya ia meminum, sampai membuat kantung matanya menghitam, pipinya memerah dan bibir yang mengering.
Su-Ah yang kini berganti melayani Wang Jeno, dengan berani memasuki kamar itu tanpa rasa takut atau ragu, namun tetap dalam posisi menundukan kepala.
“Jeoha... apa anda tidak ingin menghadiri pengadilan hari ini?” tanya gadis pelayan itu dengan sopan, namun tidak mendapat jawaban.
“Tuan muda Yoon berkata, dia berharap anda akan menjadi raja yang bijaksana di masa depan. Akankah anda mengkhiatani kepercayaannya?” lanjut Su-Ah lagi.
“Tapi dia sudah pergi, dia tidak menginginkanku lagi, apa gunanya seberapa baik aku? Dia bilang dia ingin bersama Shen Luo Cheng, dia pasti berbohong padaku kan? Dia mengatakan itu untuk menghentikan ku agar tidak mengganggunya,”
“Aku melihatnya menggandeng tangan orang lain, tahukah kau betapa hal itu menyakitiku?” tanya Wang Jeno dengan suara sedih dan kecewa.
“Maafkan hamba Yang mulia, namun pengadilan kerajaan sudah menunggu. Tugas anda menanti.” ucap gadis pelayan itu dengan suara penuh hormat namun juga penuh kekhawatiran.
Jeno menghela napas panjang, mencoba mengusir kabut kelam dalam pikirannya. Dengan langkah berat, ia bangkit dari tempat tidur, menyadari bahwa meski hatinya terluka, tanggung jawab sebagai putra mahkota tak bisa ia abaikan selamanya.
***
Setelah sidang pengadilan yang panjang dan melelahkan, Wang Jeno keluar dari ruang sidang dengan langkah berat. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak lelah, dengan kerutan halus di dahinya yang menunjukkan beban pikiran yang tak kunjung reda. Di ruang sidang, ia berusaha menahan amarah dan kecewa saat mendengarkan laporan para pejabat yang membicarakan tugas dan tanggung jawabnya, sementara hatinya masih terbelenggu oleh bayang-bayang Jaemin.
Sesampainya di kamar pribadinya, Jeno segera melepaskan pakaian resmi pengadilan yang berat— hanbok dengan warna gelap dan hiasan perak yang melambangkan statusnya sebagai Wangseja. Ia menggantinya dengan hanbok bangsawan berwarna lebih sederhana namun tetap anggun, menandakan kesiapan untuk meninggalkan dunia formal dan menghadapi dunia nyata yang lebih keras.
Dengan langkah mantap, ia keluar dari kamar dan menuju halaman istana. Heukcheol, kuda hitamnya yang gagah, sudah menunggu dengan tenang. Jeno menaiki punggung Heukcheol, merasakan kekuatan dan kepercayaan diri mengalir kembali dari hewan setia itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Vows || Nomin
FanfictionSeharusnya malam pernikahan Yoon Jaemin menjadi malam yang paling indah selama hidupnya. Namun, apa yang dia dapatkan saat Wang Jeno justru membawa budak laki-laki untuk lebih dinikmati? •Bxb •Homophobia DNI! •Historical fiksi •Tidak sesuai dengan s...
