Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

27. Perasaan Bersalah.

2.1K 153 19
                                        

Setelah semua kebenaran terungkap dan Yang mulia Raja sudah sadarkan diri, Wang Jeno dengan rasa bersalah yang menumpuk di dadanya berdiri di hadapan Ayahnya dengan kepala tertunduk dalam. Ia mulai memikirkan segala sesuatu yang terjadi pada Yoon Jaemin di Yeonghon.

“Ayah, aku minta maaf karena manisan buah persik dan juga kotak makan ini. Semua ini dibuat oleh Zhi Fengyu di kediamanku.” Ucapnya dengan kepala tertunduk.

“Aku akan mengurusnya, aku akan memberikan hukuman yang pantas untuk Zhi Fengyu.” Lanjutnya dengan tegas.

Raja Taeso hanya duduk kedua matanya menatap jengah ke arah putranya itu. Dengan wajah yang masih terlihat pucat, ia memijat keningnya sendiri mendengar ucapan Jeno.

“Orang seperti dia tidak seharusnya berada disini, aku sudah memperingatkan mu sebelumnya. Itu pelajaran karena kau sudah memelihara budak seperti itu.” Raja Taeso berkata, suaranya keras namun sarat dengan kekecewaan.

“Ini belum terlambat, dan kau perlakukan Jaemin dengan baik saja.” lanjutnya menasehati Jeno.

Jeno tersentak saat Ayahnya menyebut nama Yoon Jaemin. Ia langsung merasa gugup di hadapan Ayahnya, mengingat apa yang sudah ia lakukan terhadapan Yoon Jaemin tanpa sepengetahuan Ayahnya.

“Jaemin... masih aku kurung di penjara bawah tanah...” ucapnya lirih, membuat sang Ayah langsung menoleh. Tatapannya menunjukkan kemarahan yang mendalam.

“Dasar bodoh!!” Raja Taeso marah, ia melemparkan cangkir isi air minum ke arah Jeno. Namun, Jeno sudah berbalik badan dan dengan cepat meninggalkan kamar Ayahnya, menghindari kemarahan sang Raja.

“Bagaimana mungkin kau bisa memperbaiki perasaanya kepadamu?!” omel sang Ayah yang sudah kehilangan kesabaran menghadapi perilaku Jeno.

Wang Jeno bergegas pergi, ia memerintahkan pengawal untuk membebaskan Yoon Jaemin dan keluarganya dari penjara termasuk mengembalikan semua kehormatan keluarga Yoon.

Sekarang, laki-laki itu sudah berdiri tak jauh dari gerbang Yeonghon. Hendak menjemput Yoon Jaemin.

“Jaemin... Jaemin...!” Wang Jeno berteriak memanggil laki-laki yang tengah berjalan seorang diri dengan langkah tertatih keluar dari area Yeonghon. Laki-laki itu terkejut saat melihat Jeno.

“Jaemin... aku kemari untuk menjemputmu.” ujar Jeno, suaranya lugas dan tanpa basa-basi. Ia melangkah mendekati Yoon Jaemin yang berdiri di depan gerbang Yeonghon, sosok yang tampak rapuh dan sendirian di bawah langit senja.

“Dimana Ayahku?” tanya Jaemin, suaranya bergetar karena khawatir. Kecemasan yang mendalam terpancar dari setiap kata yang terucap.

“Semua tuduhan yang dituju pada keluarga Yoon, sudah dibersihkan dan dia sudah mendapatkan semua posisinya seperti semula.” jawab Jeno. kata-kata itu terlalu mudah, terlalu mudah bagi Jaemin.

Namun, bagi Jaemin, kemudahan itu terasa mencekik. Meskipun kehormatan keluarganya telah dipulihkan, bayang-bayang peristiwa pahit itu masih menghantui. Melihat Jeno, ia hanya merasakan luka yang belum sembuh. Keinginannya untuk menjauh, untuk melupakan, jauh lebih kuat daripada apapun.

“Aku ingin pulang kerumah, aku ingin bertemu dengan Ayahku.” ucap Jaemin, suaranya datar, tatapannya menghindari Jeno. Ia tak ingin melihat wajah pria yang telah menyebabkannya menderita.

“Rumahmu di istana Jinseon, kembalilah bersamaku. Jika kau ingin bertemu Ayahmu, aku akan memanggilnya ke Jinseon.” kata Jeno, suaranya terdengar begitu mudah, tanpa memahami kedalaman luka yang terpatri di hati Jaemin.

Jaemin terdiam, hatinya menolak untuk kembali ke istana Jinseon, tempat yang menyimpan kenangan pahit dan luka yang menganga. Itu adalah tempat di mana ia mengalami penderitaan yang tak terlupakan, tempat yang telah menorehkan trauma mendalam dalam jiwanya.

Broken Vows || NominCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang