37. Akhir dari segalanya?

1.3K 93 1
                                        

Yoon Jaemin duduk bersila sembari menatap keluar jendela, ia dengan samar dapat melihat punggung Jeno yang perlahan berjalan pergi meninggalkan pelataran rumah. Sedangkan didepannya kini Kaisar Shen terus memandangnya. Ia ingat bagaimana Jaemin untuk pertama kalinya menggenggam tangannya terlebih dahulu. Meskipun ia tahu, itu hanyalah alasan agar membuat Wang Jeno pergi dari sana.

“Jeno yang tadinya sombong, sekarang merendahkan dirinya untuk memohon. Apa dia benar-benar takut kehilanganku...?” gumamnya lirih, tapi masih dapat didengar oleh Shen Luo.

“Kaisar Shen... maafkan aku, aku menggunakanmu dan-- ” kini pandangannya sudah tertuju sepenuhnya pada Kaisar Shen.

Shen Luo langsung memotong perkataan Jaemin, “Aku tahu kau mengatakan hal itu untuk membuat Putra mahkota pergi.” kata Shen Luo dengan lembut, suaranya benar-benar halus agar tidak membuat Jaemin merasa bersalah.

“Kaisar Shen...”

“Tapi saat itu aku benar-benar bahagia, meskipun itu hanya pura-pura.” Shen Luo tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan hatinya yang sebenarnya terasa sakit. Yoon Jaemin menunduk lemah, kedua alisnya nampak berkerut, seolah menahan perasaan bersalah yang menggunung di dadanya.

Laki-laki cantik itu meraba meja, tangannya yang lembut berusaha mencari letak tangan pria didepannya. Setelah merasakannya, ia menggenggam tangan Kaisar Shen dengan erat.

“Bisakah aku memelukmu?” pertanyaan itu membuat Shen Luo sedikit kaget. Namun, ia mulai berdiri dan berpindah tempat, pria itu memeluk tubuh Jaemin dengan lembut, dan Jaemin langsung membalas pelukan itu dengan sangat erat. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Kaisar Shen dan perlahan mulai terisak.

“Aku tahu bagaimana kau merasa waktumu hampir habis, dan kau berhutang padaku. Tapi aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku ingin kau membayarnya dengan dirimu sendiri, dengan melihatmu sehat. Jaemin, aku tidak bisa menjadi orang kedua yang menyakitimu. Yang ku inginkan hanyalah melihat mu bahagia di hari-hari yang akan datang, tanpa harus menyanjung siapapun, tanpa harus berkompromi dengan siapapun, menyenangkan siapapun, atau membalas siapapun.” kata-kata Kaisar Shen semakin membuat Jaemin merasa terpuruk, karena setiap kata yang keluar dari bibir Kaisar Shen benar-benar membuatnya merasa terharu.

Akhirnya, ada seseorang di dunia ini yang memahami kesulitannya, menerima kekurangannya, dan menerima keluhannya. “Kaisar Shen, kau benar-benar baik. Maafkan aku... aku tidak bisa mencintaimu sama seperti aku mencintai Wang Jeno, hiks...” ucap Jaemin di tengah-tengah tangisnya.

“Tidak apa-apa... tidak apa-apa Jaemin.” Kaisar Shen mengelus punggung rapuh Jaemin dengan lembut, berusaha menenangkan laki-laki itu.

***

Hari ini, Jaemin ikut pergi ke pinggiran kota untuk mengantar kepergian Kaisar Shen Luo ke Luoyang. Sebelumnya, Kaisar Shen menawarkan untuk mengajak Jaemin pergi bersamanya. Karena ia takut jika ia tidak akan bisa melihat Jaemin lagi saat kembali. Namun, Jaemin menolak karena beberapa alasan. Terutama, karena ia masih memiliki Ayahnya, ia tidak ingin meninggalkan Ayahnya seorang diri.

“Hati-hati saat berjalan di atas kuda.” ujar Jaemin kepada Kaisar Shen.

“Apa kau lupa jika aku dibesarkan di atas kuda?” Shen Luo terkekeh kecil, yang membuat Jaemin ikut tersenyum.

“Jaemin, maukah kau berjalan denganku sedikit lagi?” tanya Shen Luo kepada Jaemin.

“Baiklah, tapi jika kau tidak segera pergi kau akan melewatkan waktunya. Kau harus mencapai pos perbatasan sebelum malam tiba. Jika tidak, jalan didepan mungkin akan berbahaya.” jawab Jaemin dengan nada sedikit khawatir.

Broken Vows || NominCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang