Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

25. Pengakuan dan Hukuman.

1.7K 142 27
                                        

Dalam kegelapan ruangan itu, di tengah ketegangan yang mencekam, tiba-tiba suara tawa pecah.

“Hahahaha...!” Tawa Yoon Jaemin bergema, tajam dan sedikit mengerikan di tengah kesunyian. Ia tertawa sampai terbatuk-batuk, tubuhnya bergetar karena tawa yang tak terkendali, sebuah tawa yang berasal dari lubuk jiwa yang terluka dalam. Meskipun kepala menunduk, tawa rendah itu masih terdengar jelas, menciptakan kontras yang aneh dengan suasana yang sangat serius.

“Apa yang kau tertawakan!” Suaranya keras, namun terdengar sedikit getar karena kebingungan dan kemarahan yang bercampur baur. Ia tidak memahami apa yang menyebabkan Jaemin tertawa di situasi yang begitu kritis.

“Apa yang sudah aku lakukan Yang mulia, sampai kau masih menanyakan hal seperti itu?” Yoon Jaemin bertanya, suaranya gemetar. Ia lelah dengan tuduhan-tuduhan yang menyerangnya.

“Apa yang sudah aku lakukan, sampai kau menganggapku ingin mencelakai Ayahmu tanpa bukti?” Ia mengulang pertanyaan itu, mencari sedikit pun keraguan di hati Jeno. Ia tak percaya bahwa Wang Jeno bisa sekejam ini padanya.

“Hentikan omong kosong ini dan jawab aku!” Jeno memotong dengan keras, suaranya dingin dan tajam seperti pisau. Kesabarannya telah habis, ia ingin mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

Yoon Jaemin tersenyum getir, sebuah senyum yang menunjukkan rasa sakit dan kecewa yang mendalam. Tubuhnya yang kurus dan lemah membungkuk di hadapan Jeno, menunjukkan betapa lemahnya ia di hadapan kekakuan Jeno.

“Sedangkan aku... aku mencintaimu sejak aku masih muda.” Pengakuan itu keluar dari bibirnya seperti sebuah bisikan yang rapuh.

“Bahkan sebelum kau bertemu denganku di akademi, saat kau berusia lima tahun mungkin? Bahkan tidak lagi mengingatnya...”

“Mungkin Ayah hanya bercanda denganku, dia mengatakan bahwa kau tidak akan melepaskanku saat kau berumur satu tahun, dan aku pikir itu takdir.”

“Karena itu kau memiliki kepribadian yang kejam. Jadi kalau kau hanya bertahan dan bermain aku akan mengabaikan mu...”

“Aku tidak pernah percaya bahwa dua anak yang tidak bersalah bisa berakhir sebagai orang asing.” Yoon Jaemin kecewa, ia tidak tahu harus menyalahkan siapa atas semua hal yang menimpa dirinya. Apakah ia harus menyalahkan dirinya sendiri atau takdir, ia tidak tahu.

Satu hal yang sangat ia sesali dalam hidupnya adalah, ia menyesal... menyesal karena telah menerima pernikahan itu.

Wang Jeno terdiam, semua ucapan Jaemin berhasil membuat pikirannya kacau. Ia kembali mengingat masa lalu, dimana saat ia dan Yoon Jaemin menjadi teman dekat di akademi Seungkyungkwan. Saat itu ia hanya menganggap Yoon Jaemin sebagai teman dekat, seseorang yang bisa dia suruh. Tapi ia tidak tahu jika ternyata Yoon Jaemin telah salah mengartikan semua itu.

“Lalu Raja mengatur pernikahan kita. Aku benar-benar berpikir bahwa aku adalah orang paling beruntung di dunia, tapi ternyata itu hanya mimpi.” lanjutnya, hati muda itu berdenyut nyeri seperti tertusuk duri yang tajam, saat mengingat itu semua.

“Saat aku berhasil dalam ujian kerajaan dan pada malam pernikahan kami, apa manfaat atau kemampuan yang harus aku dapatkan dari keduanya?” Ia merasa bahwa semua pencapaiannya tak berarti apa-apa di hadapan kekecewaan yang ia rasakan.

“Aku selalu berpikir suatu hari nanti kau akan berfikir dewasa, kesalahpahaman di antara kita akan menghilang, aku selalu menunggu dan bertahan.”

“Apa kau pernah menganggapku juga sebagai manusia yang bisa merasakan sakit?” Pertanyaan itu keluar dari bibir Jaemin dengan nada yang sedikit pedih.

Suara api yang terbakar pada obor di dalam penjara bawah tanah itu hanya menemani kesunyian yang menyesakkan. Kegelapan dan keheningan itu seperti mencerminkan rasa sakit dan keputusasaan yang menyelimuti hati Yoon Jaemin.

Broken Vows || NominCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang