Pagi sekali, Raya di hantar oleh Jevano ke sekolah.
"Kalo ada apa apa telpon."
"Hm"
"Jangan murung terus, jelek."
"Apasih." Dengus Raya malas.
"Gue bilangin juga apa, jangan cowok cowokan, sakit hati baru nyesel kan?"
"Kaya sendirinya bukan cowok."
"Beda dong, cowok kamu itu bajingan tengik."
"Nanti pulang abang jemput lagi."
"Hm."
"Ham hem ham hem, jawab yang bener Qalesya Raya."
"Yang bener." Raya menatap Jevano datar.
Jevano tersenyum dengan rasa greget.
"Gak gitu dek.... Susah banget kalo lagi bete."
"Iya ish! Udah sana aku cape liat muka abang!" Decak Raya kesal.
"Dih? Orang mah seneng deket muka genteng begini."
"Muak banget."
"Jahat banget. Gitu-gitu kalo ada apa apa abang dulu yang ngelindungin kamu."
"Iya makasih." Jawab Raya ketus.
"Gak ikhlas."
"Bang, mau pergi sendiri atau aku teriakin maling."
"Ya tuhan... Sabarkan hatiku memiliki seorang adik durhaka seperti ini...."
"Aku beneran teriak ya, MA—"
"Iya iyaaa gue pergi nih, pergi." Jevano bersiap pergi, pemuda itu terkekeh melihat raut galak dan kesal adiknya.
"Jangan sedih lagi." Sebelum pergi, Jevano mengusap puncak kepala Raya pelan.
Jevano pergi dengan mobilnya. Sedangkan Raya berjalan ke arah gerbang.
"Raya!" Dari arah belakang, seseorang menarik tangan Raya, membuat gadis itu refleks berbalik dengan terkejut menarik lepas tangan nya.
"K-kak Daniel?"
Daniel terkekeh kikuk menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. "Maaf, kaget ya?"
Raya menghela napas, menetralkan detak jantungnya. "Kenapa?"
"Mau ngasih ini." Daniel menyodorkan sebuah paper bag dengan senyuman manis.
Raya mengernyit. "Ini apa?"
"Puding cokelat vanila kesukaan kamu."
Raya tak langsung mengambil puding itu, ia ragu dengan niatan Daniel.
"Ambil aja, gak aku kasih apa apa kok."
Para murid yang lewat sontak melihat interaksi Raya dan Daniel, beberapa dari mereka berbisik-bisik karena tak ayal semua murid tau status Raya yang menjadi kekasih Angkasa.
Enggan menjadi pusat perhatian, Raya segera menerima paper bag itu.
"Makasih kak, aku duluan."
"Sama sama, semangat belajarnya Lau— eh Raya." Sayangnya Raya sudah lebih dulu berbalik pergi memasuki gerbang saat Daniel menyemangatinya.
Raya melangkah di koridor, sepanjang jalan entah mengapa setiap ia lewat orang orang berbisik pada orang terdekat mereka.
Sebelum ke kelas, Raya memutuskan untuk singgah ke toilet lebih dulu, gadis itu meletakan paper bag di atas wastafel kemudian masuk ke salah satu bilik.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA Untuk RAYA
Genç KurguSi bungsu dari keluarga kaya raya, di jaga seperti berlian yang berkilau, sangat berharga. Hidup Raya sangat sempurna. Tanpa celah. Di anugerahi paras ayu bak sang dewi, penuh bakat, pintar, berprestasi, dan hidup di tengah keluarga cemara yang begi...
