Tidak bisa di bayangkan betapa paniknya keluarga Darmawangsa malam itu, ketika si bungsu tidak kunjung pulang ke rumah padahal waktu hampir menuju tengah malam.
Mereka merasa kecolongan lagi. Semua anak buah Frans langsung di kerahkan untuk melacak keberadaan Raya.
"El gimana sama temen temen yang lain? Udah ada kabar?" Tanya Rainanda yang sudah cemas setengah mati, perasaan ibu dua anak itu merasa sangat buruk.
"Nggak ada yang tau tante, seinget El tadi pas pulang Raya barengan sama Galaksi, tapi Galaksi nya juga sulit di hubungin Tan." Gaviela yang dihubungi jika sahabatnya hilang kabar langsung berangkat menuju kediamannya, sehingga gadis itu kini berada di rumah Raya. Tidak hanya Gaviella, Ashel bahkan Nakula berada disana.
"Galaksi?" Tanya Ashel dengan keryitan.
"Iya Shel, tadi pas pulang, gue, Naku, Raya sama Gala yang paling terakhir, terus gak tau kenapa Raya nggak biasanya minta anter ke Galaksi." Gaviella menatap sekilas kekasihnya yang sedang menerima panggilan telpon di sudut lain.
"El, sebenernya gue ngerasa ada yang aneh sama Galaksi." Ucap Ashel.
"Aneh? Maksud lo?"
"Waktu chaos kemarin pas tiba-tiba ada geng motor bikin kacau di kelas lo, gue denger Galaksi bilang sesuatu."
"Bilang apa?"
"Katanya, hidup Angkasa gak lama lagi akan hancur. Gue nggak tau, apa mungkin ada hubungannya sama hilangnya Raya? Secara... Raya itu orang yang penting buat Angkasa?"
Nakula kembali bergabung dengan tergesa setelah ia mengakhiri panggilannya. "Gue tau dimana Galaksi."
"Dimana?" Jevano yang sejak tadi menyimak langsung bertanya.
"Hazel baru aja dapet akses cctv villa milik keluarga Galaksi yang dipuncak, katanya keadaan udah chaos banget, kita harus segera kesana."
"Yaudah langsung kesana. Lo tau tempat nya?" Tanya Jevano gelisah.
Nakula mengangguk. "Tau bang."
Mereka segera bergerak menuju kesana.
~••••••••••••~
Seorang gadis yang sudah tertidur kurang lebih selama 24 jam, perlahan membuka matanya.
Hal pertama yang ia lihat adalah, lampu cahaya, dan ruangan yang didominasi warna putih.
Kepala Raya terasa pusing. Ia seketika mengingat hal apa yang sebelumnya terjadi, gadis itu langsung mencoba bangun dari ranjangnya, menghiraukan jarum infus yang menancap di tangannya.
Seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi di ruangan itu seketika terkejut saat melihat putrinya hampir terjatuh setelah mengambil beberapa langkah, ia langsung bergerak cepat menahan tubuh si bungsu yang begitu lemas.
"Adek astaga!" Rainanda panik, ia begitu khawatir.
"Kamu mau kemana sayang? Kenapa infusnya di copot? Kata dokter kamu belum boleh kemana mana." Rainanda kembali menuntun putrinya kembali ke atas ranjang.
"Bunda..." Raya menangis, air mata itu kembali mengalir, dadanya kembali merasa sesak, hatinya begitu rapuh.
Rainanda tidak berkata apa apa, ia langsung menarik sang putri ke dalam dekapannya.
Membiarkan tangis yang begitu sesak itu pecah disana.
Tangisan Raya yang telah kehilangan Angkasanya. Raya tak sanggup, jika dirinya harus menerima fakta yang begitu pedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA Untuk RAYA
Teen FictionSi bungsu dari keluarga kaya raya, di jaga seperti berlian yang berkilau, sangat berharga. Hidup Raya sangat sempurna. Tanpa celah. Di anugerahi paras ayu bak sang dewi, penuh bakat, pintar, berprestasi, dan hidup di tengah keluarga cemara yang begi...
