34

306 33 9
                                        


BYURRRR

Angkasa yang tengah memejamkan mata, mengerang setelah seember air di guyurkan ke tubuhnya yang penuh luka.

Dalam tidurnya ia terusik, alam bawah sadar yang merengkuhnya dengan hangat di tarik paksa kembali ke atas permukaan kesadaran yang begitu menyakitkan.

Galaksi datang kembali, menyapa Angkasa tanpa keramahan.

"Nyenyak tidur lo hmm?" Galaksi menggeram, sepatunya menekan rahang Angkasa.

"Gue mau ngasih tau aja, lo bakal lebih nyeyak dari ini, gue pastiin lo nggak akan bangun lagi, gue pastiin nama lo tamat. Dan nama lo akan terkenang jelek seumur hidup, sebagai pembunuh Daniel Kaviero dan adik kandungnya Launa Kaviero."

Angkasa hanya diam, ingin melawan pun ia tak lagi memiliki tenaga.

"Tapi nggak sekarang, karena gue harus ke sekolah. Persiapin diri lo nanti." Galaksi menyeringai,ia berbalik pergi, lagi-lagi melangkahkan diri meninggalkan Angkasa.

Hati Angkasa bergejolak. Jika pun harus mati, bisakah ia dibiarkan tenang? Bukan Angkasa pelakunya, tapi mengapa lagi-lagi ia yang harus menanggungnya, sudah cukup kejadian beberapa tahun lalu, saat Angkasa diharuskan bungkam, ketika semua orang menyudutkannya, namun kali ini rasanya Angkasa tidak bisa.

Dulu Angkasa tak memiliki tujuan, ia berpikir hidupnya berakhir seperti apa pun tak masalah, di tuduh pelaku penabrakan juga Angkasa hanya diam saja, padahal saat itu faktanya seharian ia sedang kesakitan setelah dihukum oleh sang papa, Angkasa hanya diam saat Galaksi melemparkan fakta pada dirinya, itu karena dulu Angkasa tak lagi memiliki tujuan hidup, dulu rasanya begitu hambar, seakan ia adalah sebuah raga tanpa jiwa, sehingga terima-terima saja di perlakukan seperti apapun juga.

Tetapi entah mengapa saat ini ia marah, rasanya sungguh muak dan sesak, di atas kepasrahannya yang tak berdaya lagi, ia ingin menyangkal satu hal itu, berharap ada satu orang mempercayainya.

~•••••••••••••~


Pagi ini Raya berangkat dihantar Jevano, namun sebelum ke sekolah gadis itu meminta Jevano untuk menghantarkannya lebih dulu ke Rumah sakit.

Ia mengetuk pintu ruang rawat seseorang, sebelum masuk kedalam sana. Jevano senantiasa mengikuti langkah sang adik.

Daniel yang sudah sadar sejak semalam, menoleh ke arah pintu, ia tersenyum tipis, sedikit menginstruksikan lewat gerak geriknya agar kedua kakak beradik itu tidak gaduh, karena di sisi lain ada seorang gadis yang tertidur nyenyak di sebuah sofa setelah terlalu lelah menjaganya.

"Kak Daniel gimana kondisinya?" Tanya Raya.

"Udah membaik."

Daniel yang masih berbaring, berusaha untuk merubah posisi menjadi duduk, tetapi ia nampak kesusahan, Raya menyenggol Jevano memberi kode untuk segera membantu Daniel.

Jevano nampak ragu, namun ia segan melihat pelototan adiknya, akhirnya Jevano turun tangan membantu Daniel untuk menaikan sandaran ranjang.

Daniel menatap rekan lama yang sempat menjadi musuhnya. "Thanks Jev."

Jevano hanya berdehem, kemudian kembali ke posisinya.

"Makasih udah mau jengukin Ray." Daniel tersenyum menatap Raya. Membuat Jevano berdehem, menatap tak suka interaksi itu.

Daniel terkekeh. "Masih aja Jev. Gue gak akan nyulik adik lo lagi, selagi lo gak ngelarang gue deket sama adik lo."

ANGKASA Untuk RAYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang