Tok tok...
Seseorang mengetuk pintu, setelah dipersilahkan masuk, ia melangkah ke dalam ruang direktur.
Dia yang sedang fokus berkutat dengan beberapa berkas mendongakan kepala menatap seseorang yang masuk ruang kerjanya.
Kegiatannya langsung ia jeda sejenak. Ia beranjak menghampiri sosok pria baya yang kini semakin tua, berjalan dengan tongkat penyangga, meski begitu aura wibawanya tidak pernah hilang.
"Kamu masih sibuk?"
"Hm, masih ada beberapa pekerjaan." Ia menuntun pria paruh baya itu untuk duduk di sebuah sofa.
"Saya pikir sudah cukup, kamu berkembang pesat dengan baik. "
"Cukup? Maksud Pak Arga?"
"Saya anggap kamu berhasil."
Dia mengembangkan senyum, matanya berkaca-kaca, merasa tak percaya dengan apa yang di ucapkan pria baya itu.
Setelah bertahun-tahun, sejak kejadian saat itu, dimana dirinya menghadapi masa kritis selama 3 bulan lamanya, ia mulai bangkit merubah dirinya, berkembang ke arah yang lebih baik untuk fokus pada masa depan dan membuktikan bahwa dirinya bisa pantas serta layak dengan usahanya sendiri.
Tidak mudah bagi Angkasa saat dirinya bangun justru mendapat kabar jika gadis yang ia cintai justru malah pergi.
Angkasa cukup sadar diri, kehidupannya membawa dampak pada gadis itu, ia terlalu banyak menyakitinya, terlalu banyak air mata yang Raya tumpahkan, dan Angkasa rasa ia harus membayar itu semua.
Selama ini dirinya diam, tidak mengabari gadis itu sama sekali mengenai keberadaan nya, hal itu diperintahkan sesuai arahan Argawangsa, bahkan lelaki tua itu sampai melarang teman-teman Raya dan Angkasa untuk memberitahukan kabar Angkasa pada Raya.
Angkasa seperti disembunyikan, benar-benar disembunyikan dengan rapat.
Tetapi ia rela melakukan itu semua, demi mendapatkan restu dari keluarga Raya.
Arga menuntun Angkasa mengambil langkah yang lebih baik, Angkasa di tuntut fokus belajar dan perlahan menempuh jalan sukses, bahkan pria itu merekomendasikan universitas terbaik untuk Angkasa hingga Angkasa bisa mencapai titik ini dimana dia bisa mendirikan perusahaan bisnis nya sendiri, meski Angkasa harus membayarnya dengan perasaan rindu yang harus ia tahan selama 8 tahun ini.
Karena melihat keseriusan serta keteguhan Angkasa, keluarga Raya berhasil luluh perlahan demi perlahan.
Tanpa sepengetahuan Raya, Angkasa semakin melangkah dekat dengan keluarganya, hubungan mereka justru semakin baik.
"Apa itu artinya saya sudah pantas?"
Arga menarik senyum. "Kamu sudah membuktikan usaha keras sejauh ini, kamu sangat pantas."
"Tetapi ingat Angkasa, usaha kamu ini tidak mudah, saya tau menahan rindu untuk tidak berkomunikasi itu hal yang paling sulit, maka dari itu... Tolong cintai Raya dengan rasa paling tulus."
"Saya sudah sejauh ini Pak, bahkan saya bisa yakin jika perasaan tulus saya adalah perasaan cinta paling tulus yang pernah ada. Saya tentu tidak akan menyia-nyiakan dia."
~••••••••••••~
Pagi ini adalah pagi paling bahagia yang pernah Angkasa rasakan, begitu dirinya sudah mendapat lampu hijau oleh kakek Arga, ia pagi ini langsung mengunjungi rumah kediaman Darmawangsa.
"Siapa yang berani ngambil donat di piring?!" Nyonya rumah meninggikan suaranya merasa geram karena donat yang sudah sengaja ia letakan di meja makan ternyata tersisa beberapa biji saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA Untuk RAYA
Fiksi RemajaSi bungsu dari keluarga kaya raya, di jaga seperti berlian yang berkilau, sangat berharga. Hidup Raya sangat sempurna. Tanpa celah. Di anugerahi paras ayu bak sang dewi, penuh bakat, pintar, berprestasi, dan hidup di tengah keluarga cemara yang begi...
