Kericuhan yang terjadi di kelas Angkasa membuat satu sekolah heboh. Apalagi dengan kabar jika Angkasa dibawa pergi oleh penyusup yang sempat menyerang penjaga dan merusak gerbang sekolah.
Anggita selaku orang tua Angkasa langsung bertindak melaporkan itu ke pihak berwajib. Tetapi terhitung berapa belas jam setelah ia melapor hingga kini langit sudah menggelap masih belum ada kabar dari pihak kepolisian mengenai pencarian anaknya.
"Mam, apa kita minta bantuan kakek Arga lagi? Lala gak percaya sama pihak kepolisian."
Anggita menggeleng. "Mama nggak enak La, kita udah banyak merepotkan Pak Arga."
Athala yang kini sedang duduk di sofa ruang tengah menemani Mamanya yang sedang merasakan resah, menghela napas.
~•••••••••••••••~
Seorang gadis menatap kosong ke arah piring berisi nasi dan lauk pauknya, tatapannya kosong tak fokus, tangannya yang memegang sendok serta garpu hanya bergerak mengaduk isi piring tanpa ia makan, pikirannya kosong entah melayang kemana.
Semua orang di meja makan yang sedang menikmati makan malam bersama seketika bertanya-tanya.
"Ssstt... kenapa?" Rainanda memanggil si sulung yang duduk tepat di samping si bungsu, wanita itu bertanya tanpa suara.
Makan malam kali ini, tidak seperti biasa, suasana nya sedikit kaku, karena kehadiran sosok seorang pemegang tahta tertinggi di pohon keluarga.
Jevano menyenggol Raya dengan kakinya. Membuat Raya tersadar kemudian menoleh pada Jevano. Namun sayang sekali perbuatannya tidak bisa disembunyiikan, sang kakek sudah menatapnya dengan tatapan tajam khas pria tua itu.
"Qalesya, ada masalah? Kakek perhatiin kamu tidak fokus?" Kakeknya memang selalu terlihat serius ketika sedang bersama anggota keluarga yang lain, lain hal ketika mereka sedang berdua saja.
"Hah? Enggak kok." Raya kembali fokus terhadap makan malamnya.
"Kakek tau jika kamu sedang memikirkan sesuatu, coba bicarakan."
Raya menghela napas. "Enggak apa-apa kakek... aku cuma kecapean mikir tugas sekolah terlalu banyak." Bohong Raya karena sejatinya, pikirannya melalang buana berputar mengenai satu nama.
"Oke, kalo ada masalah bilang aja."
"Iya."
Raya menghela napas. Ia sudah berusaha sebisa mungkin, melupakan Angkasa, sebisa mungkin membangun dinding antara pikiran dan hatinya, tetapi sebuah hal ajaib yang dinamakan cinta itu sangatlah luar biasa, seberapa tinggi dan tebal ia membangun batas, seberapa keras ia berjalan melawan arus perasaannya, Raya tetap tidak bisa mengenyahkan Angkasa dari hatinya.
Sekarang ia baru paham dengan kalimat, cinta itu membuat buta dan cinta membuat seseorang bodoh. Pada nyatanya, setelah Angkasa menyakitinya, nama pemuda itu masih terukir manis di hati Raya.
Logikanya mengatakan jika ia harus mengenyahkan pemuda itu, tetapi hatinya bertolak belakang, dan feelingnya mengatakan ada sesuatu yang terasa mengganjal, seperti kepingan puzzle yang hilang.
Raya sedang di fase kacau berperang dengan perasaan nya sendiri.
Makan malam berakhir. Raya hendak pergi beranjak ke kamarnya, tetapi bel rumah berbunyi pertanda ada seseorang yang datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA Untuk RAYA
Roman pour AdolescentsSi bungsu dari keluarga kaya raya, di jaga seperti berlian yang berkilau, sangat berharga. Hidup Raya sangat sempurna. Tanpa celah. Di anugerahi paras ayu bak sang dewi, penuh bakat, pintar, berprestasi, dan hidup di tengah keluarga cemara yang begi...
