Malam itu, Raya pulang dengan aman dihantar oleh Galaksi.
"Selamat istirahat ya Ray." Ucap Galaksi sebelum Raya masuk ke dalam gerbang rumahnya.
Raya hanya mengangguk, ia tak lagi sanggup barang untuk menarik seutas senyum pada siapa siapa. Raya melepas jas Galaksi yang tersampir dibahu nya, ia mengembalikan jas itu pada Galaksi. "Makasih Gala."
"Jangan dipikirin ya Ray, soal Angkasa." Ucap Galaksi, di-angguki oleh Raya, meski mustahil jika malam ini Raya tidak akan memikirkan pembicaraan nya dengan Angkasa tadi.
Raya masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, ia menjumpai Bundanya yang sedang melakukan panggilan video bersama sang Ayah yang sedang berada di luar kota.
"Eh adek, udah selesai pestanya?" Tanya Rainanda pada si bungsu.
Raya hanya mengangguk. Ia mencoba untuk tersenyum, meski besar kemungkinan Raya tidak bisa menutupi keadaannya di depan bunda saat ini.
"Raya keatas dulu ya Bun." Ucap Raya dengan suara yang terdengar parau.
Rainanda mengernyit melihat tingkah aneh putrinya, begitu juga Frans yang melihat perubahan raut istrinya.
"Ada apa sayang?" Tanya Frans pada istrinya.
"Raya aneh banget, tadi pas mau berangkat dia excited loh, sekarang pulang pulang udah kaya nggak ada energi, mukanya sembab."
Frans diseberang sana mengernyit. "Coba kamu tanya, siapa tau dia mau cerita."
"Yaudah ya, aku mau cek dulu keadaan dia."
"Iya udah sana, kasih tau aku apa yang terjadi."
Panggilan diakhiri.
Diseberang sana, Frans terdiam sejenak, kemudian menatap si sulung yang sibuk dengan laptop.
"Jev, soal anak yang namanya Angkasa, kamu udah berhasil temui?" Tanya Frans.
Jevano beralih menatap Ayahnya. "Belum Yah, aku kan belum sempet. Kenapa lagi sama Raya?"
Frans berdecak. "Kalo adekmu down terus, Ayah rasa, ayah yang akan turun tangan sendiri."
Jevano menghela napas. Jika Ayahnya sudah berkata seperti ini, kemungkinan hal ini akan menjadi sedikit serius. Mungkin Angkasa bisa saja dibuat habis.
Disisi lain, Raya terududuk di sisi tempat tidur, masih dengan dress yang belum ia ganti, ia meraih sebuah teddy bear putih pemberian Angkasa.
Raya menundukan wajahnya, gadis itu kembali terisak, potongan memori ingatan nya bersama Angkasa terputar di kepala Raya, meski pertemuan itu terasa singkat, Angkasa mampu membuat Raya terjebak sedalam ini, terlanjur dalam, sehingga ketika jatuh, ia langsung tenggelam ke dasar paling kejam, kejam karena begitu sakit.
"Kalau pun lo nggak punya perasaan itu, tunggu gue ya Ray, sampe hati gue merasa yakin buat memperjuangkan lo."
"Perasaan gue ke Hazel udah pudar sejak ada lo..."
"Buat saat ini udah cukup, gue nggak mau ditinggal siapa siapa lagi, gue mau memperjuangkan lo, gue nyaman sama lo...."
"Gue Cinta sama lo..."
"Bohong Sa, pada akhirnya semua itu omong kosong." Bisik Raya getir diiringi turun nya air mata dan rasa sesaknya.
"Atau aku yang terlalu berlebihan?..." Raya menatap ke arah teddy bear di pangkuannya, seolah ia berbicara pada Angkasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA Untuk RAYA
Teen FictionSi bungsu dari keluarga kaya raya, di jaga seperti berlian yang berkilau, sangat berharga. Hidup Raya sangat sempurna. Tanpa celah. Di anugerahi paras ayu bak sang dewi, penuh bakat, pintar, berprestasi, dan hidup di tengah keluarga cemara yang begi...
