29

309 41 10
                                        

Pagi hari ini Raya akan berangkat sekolah bersama Yudha. Pemuda itu menjemput Raya, karena Jevano dan Ayahnya tidak ada, Yudha menawarkan diri bersedia menghantar sang sepupu.

Raya mendengus, menghampiri Yudha di teras halaman depan, dimana pemuda itu baru saja datang dengan mobilnya.

"Lama banget, aku hampir kesiangan." Ucap Raya dengan decakan serta ekspresi sinis.

"Maaf tadi macet, tapi dijamin gak akan telat, Princess." Yudha mengusap puncak kepala Raya.

Raya mendengus. "Tau gitu ikut bunda." Raya berjalan menuju mobil Yudha

"Maaf Ray, Mas Yudha udah berusaha kok." Yudha masuk, menempati kursi kemudi, kemudian membawa mobil itu pergi dari halaman keluarga Darmawangsa.

Tanpa mereka sadari, seseorang sejak tadi mengintai, ia bersembunyi di balik pohon tatkala mobil Yudha melewat. Orang itu menyeringai di balik masker yang menutupi sebagian wajahnya. Sebuh ide terlintas dibenak orang itu, sebuah ide gila, yang mungkin akan membuat beberapa orang terkejut.

~•••••••••••••~


"Kenapa? Lagi banyak pikiran?" Yudha menotice sang sepupu yang tidak seberisik seperti biasa. Pagi ini, Raya terlihat berbeda dari biasanya, gadis itu lebih bayak diam, tidak memancarkan hawa cerah yang biasa gadis itu umbar.

Raya menghela napas. Tatapan nya beralih menuju luar jendela.

"Kayanya yang Mas Yudha bilang bener." Ucap Raya menatap kosong jalanan.

Yudha menoleh, menyimak dengan baik sang adik, memberikan reaksi seperti ia tidak pernah tau tentang apa apa.

"Soal apa?"

"Aku salah." Raya menunduk menatap jari jemari yang saling bertaut.

"Mas Yudha bener, mencintai seseorang yang belum selesai sama masa lalunya itu bikin sakit, seharusnya aku dengerin kata-kata Mas."

Yudha melirik sekilas. Pemuda itu tersenyum getir. "Maaf ya, Mas gak bisa nyegah Angkasa."

Raya menggeleng. "Nggak, aku yang salah. Dari awal aku yang ngelewatin batas, nggak seharusnya aku terbawa perasaan."

"Tapi mulai sekarang, aku nggak akan luluh lagi, aku mau coba lupain, dan nggak akan terjebak lagi." Raya melirik Yudha, menanti pendapat pemuda itu.

"Bagus, kamu jadi punya pendirian." Yudha mengangguk ngangguk.

Raya mengernyit, melirik sinis Yudha. "Jadi selama ini, aku kelihatan nggak punya pendirian?"

Yudha mengangguk. "Kamu ceroboh, nggak hati-hati, dan nggak sadar sama sekitar."

Raya menunduk, ia merenung sejenak, ia pikir mulai saat ini dirinya memang harus berubah. Berubah menjadi pribadi yang baru, versi terbaru yang telah mempelajari kesalahan dan celah dirinya.

"Oke, aku bakal berubah." Raya menatap Yudha.

Pemuda itu menarik senyum nya. "Mas Yudha percaya, kamu itu pintar dan cerdas Raya, jaga diri kamu sendiri dari apa dan siapa pun, harus aware."

Mobil Yudha sampai di depan sekolah Raya.

"Hati-hati, kalo mau pulang kabarin orang rumah atau Mas Yudha, jangan nekat pulang sendiri."

"Iya, makasih." Raya segera keluar dari mobil Yudha. Ia berjalan ke gerbang yang berada di seberang jalan dimana mobil Yudha berhenti.

Raya sudah berusaha untuk menengok kanan dan kiri sebelum menyebrang. Setelah ia rasa aman karena tidak banyak kendaraan berlalu lalang dengan kecepatan tinggi, dengan percaya diri gadis itu melangkah, tetapi tidak ia duga, seorang pengendara motor melaju mengarah tajam ke arah Raya yang posisinya sudah berada di tengah jalan, seakan pengendara itu sengaja melakukan nya.

ANGKASA Untuk RAYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang