Sinar mentari pagi masuk melalui celah tirai jendela yang masih tertutup, suasana pagi di kota London kali ini berbeda bagi Raya.
Jika biasanya pukul 7 pagi gadis itu sudah bangun dan bersiap berangkat ke butik, tetapi pagi ini, sudah hampir pukul 8, ia masih bergelung selimut.
Lantaran terlalu nyaman dengan kehadiran sosok pemuda yang berada didekatnya, Raya masih mendekap Angkasa seolah tidak ingin melepaskannya, gadis itu masih menenggelamkan diri dalam peluk Angkasa.
Ya, mereka tidur bersama, namun benar-benar tidur semalaman, tanpa melakukan apa-apa, Angkasa dan Raya masih menguasai batas kewarasan masing-masing.
Angkasa mengecup puncak kepala Raya, kemudian ia dekatkan wajahnya ketelinga gadis yang masih mendekapnya erat. "Good morning, wake up sweety." Bisik Angkasa ditelinga Raya.
Gadis itu bergerak, namun bukan melepas malah semakin mengencangkan dekapannya, semakin menenggelamkan dirinya meraih kenyamanan di dada Angkasa.
"Sayang...." Angkasa usap surai gadis itu.
Angkasa sebetulnya berusaha keras, menahan diri ketika bangun tidur untuk tetap waras saat seorang gadis menempel padanya adalah sebuah godaan yang tidak mudah. Beruntungnya Raya, rasa menyayangi dan menghormati gadis itu lebih besar ketimbang nafsu yang jelas Angkasa miliki sebagai laki-laki normal.
Raya mulai bergerak mengendurkan dekapannya, ia membuka mata, menatap wajah Angkasa yang kini benar-benar berada di dekatnya, rasanya masih seperti mimpi bagi Raya.
Angkasa tersenyum, mengecup sekilas bibir gadis itu. "Morning."
Raya membalas dengan senyum teduh sesaat, kemudian kembali menenggelamkan diri memeluk Angkasa sejenak. "Rasanya masih seperti mimpi." Gumam gadis itu si pemuda yang mendengar hanya terkekeh, tangannya senantiasa mengusap surai gadis itu.
"Hp kamu dari tadi bunyi terus." Ucap Angkasa.
Raya berdecak kecil. "Biarin aja, aku nyaman kaya gini."
"Kamu nggak kerja?"
"Nggak, aku mau meluk kamu seharian."
Angkasa terkekeh kecil. "Tapi dari tadi hp nya bunyi terus, coba angkat dulu sayang, siapa tau penting?"
Raya mengendurkan pelukannya lagi, ia menatap Angkasa dengan kerutan kesal yang mana membuat Angkasa terkekeh kembali.
Angkasa menangkup wajah gadis itu yang kini terlihat menggemaskan, ia selipkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya ke belakang telinga, kemudian ia kecup lagi bibir itu sekilas.
"Aku masih disini, nggak akan kemana-mana, kita bisa pelukan lagi setelah kamu pulang kerja nanti."
Raya menghela napas saat dering ponselnya kembali terdengar, dengan lesu ia terbangkit duduk menatap ponsel yang menyala sembari berdering menunjukan nama kontak Aurora.
Angkasa turut duduk kemudian ia tarik gadis itu kedalam pelukan sejenak sekedar mentransfer energi semangat pada gadis itu.
"Semangat ya, jangan lemes gini."
"Hmm..." Gumam Raya terdengar malas.
"Dah sana, angkat telponnya." Angkasa melepaskan dekapannya.
Meski malas tapi gadis itu beranjak namun sebelumnya ia kecup bibir Angkasa sekilas, sebelum ia mengambil ponsel kemudian melangkah ke balkon kamar.
20 panggilan tak terjawab dari Aurora.
Gadis itu menghela napas. Kemudian mengangkat panggilan yang kembali berbunyi untuk yang ke 21 kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA Untuk RAYA
Teen FictionSi bungsu dari keluarga kaya raya, di jaga seperti berlian yang berkilau, sangat berharga. Hidup Raya sangat sempurna. Tanpa celah. Di anugerahi paras ayu bak sang dewi, penuh bakat, pintar, berprestasi, dan hidup di tengah keluarga cemara yang begi...
