Angkasa duduk bersandar, terdiam di atas ranjang rawatnya, pemuda itu merenungkan diri.
"Makanya Sa, gue bilang juga apa. Rencana lo tuh cuma sia sia. Dampaknya, Raya beneran benci lo kan? Dan lo akan sulit mengawasi dia dalam jangkauan dekat." Ujar Nakula.
Angkasa menghela napas frustasi. "Gue nggak mau jadi penyebab buruk di hidup dia. Mungkin emang lebih baik, kita nggak bersama."
"Belum apa-apa udah pesimis." Cibir Nakula.
"Bukan pesimis, tapi gue sadar diri. Dunia gue sama dia itu beda, Na."
"Lo emang gak khawatir sama dia Sa? Dia udah terlanjur diincar sama musuh musuh lo, dan kayaknya... mau lo lanjutin drama hubungan pura pura kita juga akan percuma." Ucap Hazel yang sejak tadi menyimak Nakula mengoceh pada Angkasa.
"Gue khawatir, tapi gue gak punya kesempatan lagi."
"Jadi lo nyerah?" Yudha tiba-tiba memasuki kamar rawat Angkasa.
"Lo tau dari mana gue disini, Bang?" Angkasa mengernyit, tak menyangka dengan kedatangan Yudha.
"Gue liat lo bikin kegaduhan di lobi, waktu nebus obat adik gue, kemarin."
"Gimana kondisinya?" Tanya Angkasa.
"Kondisi apa maksud lo?" Yudha bersedekap menatap datar Angkasa.
"Adek lo."
Yudha membuang pandangannya, ia berdecih. "Buat apa lo peduli? Kalo mau nyerah, mending lo menghilang selamanya dari depan dia."
Tak ada yang berani menyela Yudha, mereka merasa terintimidasi dengan aura tak mengenakan dari pemuda itu, Yudha nampak geram.
"Percuma aja lo bikin bikin sandiwara, kalo akhirnya nyerah? Nyawa Raya hampir dalam bahaya."
"Justru kalo gue lanjutin, dia akan semakin terancam?"
Yudha menatap nyalang Angkasa. "Lo liat kemarin? Liat gak? Raya hampir celaka ketabrak pengendara motor!"
"Dengan lo menjauh, justru lo ngebuat sepupu gue makin sakit!! Gue awalnya percaya sama lo, karena lo bukan orang yang gampang nyerah tapi kayanya gue salah... Beruntung lo lagi sakit, tangan gue sebenernya udah gak tahan buat nonjok lo."
"Sekali lo lepasin dia, jangan harap lo bisa liat dia yang dulu Sa." Ucap Yudha lalu kemudian ia keluar dari ruangan Angkasa.
Angkasa semakin dibuat gundah oleh ucapan Yudha barusan, dirinya menghela napas gusar.
~••••••••••••••~
Raya termenung sembari duduk di sofa ruang tengah, ia menyalakan televisi, hanya membiarkannya menyala sementara isi pikirannya entah berkelana kemana.
"Makanya kalo mau nyebrang tuh tengok kanan kiri." Jevano yang baru bertemu Raya lagi setelah 2 hari tidak bertemu, duduk disamping gadis itu sembari mengecek kondisinya.
Raya terdiam, dirinya terasa kosong, terlalu banyak menerima fakta mengejutkan hari ini.
"Kenapa diem aja? Sakit?" Jevano menyentuh kening Raya dengan punggung tangannya. Tetapi suhunya normal, terasa tidak panas.
"Bang, misalkan, abang ngajarin aku nyetir mobil, terus aku kecelakaan, semisal aku mati, abang bakal gimana?"
Jevano mengernyit dengan pertanyaan random si bungsu. "Ngapain kamu belajar nyetir? Gak akan ada sesi belajar nyetir, ayah bisa cari supir pribadi buat kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA Untuk RAYA
Teen FictionSi bungsu dari keluarga kaya raya, di jaga seperti berlian yang berkilau, sangat berharga. Hidup Raya sangat sempurna. Tanpa celah. Di anugerahi paras ayu bak sang dewi, penuh bakat, pintar, berprestasi, dan hidup di tengah keluarga cemara yang begi...
