42

1.4K 139 35
                                        

HAPPY READING!









...

"Oh, tidak! Aku tidak mau seperti ini. Taehyungie jangan membawa ku ke korea ya? Mohon maafkan bibi."

Adeline memohon sambil mencoba memberontak walaupun nihil karena tenaga Vincent dan pria bertubuh besar itu sudah memborgol tangannya dan membawanya keluar dari ruangan ini. Namun, tidak ada satupun yang peduli dengan ucapannya.

"Kami akan membawa mereka ke mobil dan akan di terbangkan ke korea hari ini juga. Kau tenang saja, aku bisa mengurusnya." Ucap Vincent dan di angguki oleh Taehyung.

Setelahnya Vincent melangkah pergi meninggalkan Taehyung yang hanya berdiri melihat betapa jijik nya Adeline ketika memohon untuk di lepaskan. Sorot matanya sangat tajam bahakan, siapapun yang melihat juga pasti tau kalau Taehyung berada di puncak emosinya.

Rasanya, Taehyung ingin menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya untuk melampiaskan segala emosi dalam dirinya.

Memori memori tentang ibu dan ayahnya seolah kembali berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Taehyung tidak pandai mencurahkan kesedihan nya sejak kecil. Tapi ia selalu menangis dalam diam tanpa di ketahui oleh siapapun.

Kim Taehyung hanyalah seorang anak yang menyimpan kesedihan nya selama bertahun tahun.

"Aku menyesal. Aku menyesal karena begitu menyayangi Adeline dan menganggap wanita licik itu seperti ibuku sendiri."

Sergio melirih dengan tubuh yang merosot di dinding depan ruangan yang bahkan masih bisa didengar jelas oleh Taehyung karena pintu itu terbuka lebar.

Ia mengacak rambutnya frustasi merasa bahwa segala kesedihannya di masa lalu kini tercampur aduk dan baru bisa ia keluarkan hingga sekarang.

Namun, Taehyung tidak menjawab atau bahkan merespon perkataan Sergio. Ia hanya diam kini menatap beberapa pisau yang terpajang di lemari kaca dan juga berkas berkas penting yang ada di atas meja itu.

Taehyung seolah merasakan kehancurannya kembali.

"Bertahun tahun kau mengumpulkan bukti ini, kenapa kau tidak bilang dan minta tolong padaku saja, brengsek?"

Sergio berucap kini berdiri menghampiri Taehyung dan mencengkram erat kaos hitam yang pria itu kenakan.

"Apa kau hanya menganggap ku sebagai anak lemah yang tidak bisa melakukan apapun?" Ucap Sergio lagi dengan suara yang cukup keras. Wajahnya berubah dingin dan datar.

"Jawab brengsek!"

Cengkraman di kaos Taehyung di lepas kasar oleh Sergio. Tapi sama sekali tidak di respon oleh Taehyung sama sekali. Pria itu hanya diam tanpa ekspresi namun kedua matanya menatap Sergio dengan segala luka yang ia rasakan selama ini.

"Sergio,"

Taehyung memanggil adiknya dengan nada rendah kini melihat bagaimana dada Sergio kembang kempis menahan amarahnya.

"Kau tidak tau apapun."

"Mana mungkin aku bisa tau kalau kau tidak memberi tahu apapun padaku? Bagaimana bisa aku membantu mu jika kau saja tidak pernah membicarakan sesuatu yang penting padaku, bajingan?"

Sergio tertunduk dengan segala kesedihannya yang ia rasakan saat ini.

"Kau membiarkanku di asuh oleh Adeline sedangkan kau memilih tinggal bersama Dominic. Kau senang karena mendapatkan teman seperti Vincent. Kau punya banyak orang yang mendukung mu tapi aku? Adeline selalu mendesak ku untuk menjadi anak yang membuatnya bangga tanpa memiliki satupun teman. Aku tau kau sulit, tapi aku juga sulit."

CRUELTY' Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang