"Apa maksud kamu Alvan? Bukannya Opa selalu ada di pihak mu selama ini?" Tekan Renhard.
Alvan menatap malas "untuk sebuah penebusan dosa itu wajar" jawabnya dan berlenggang pergi.
"Alvan!" panggil Gino sembari mencekal lengan Alvan dan dengan refleks Alvan menepis kasar tangannya menatap nyalang ke arah Gino.
"Gak usah sentuh gua!"
Degg.!!
Gino terdiam kaku kala sorot mata Alvan dengan ucapannya yang seakan seperti menusuk di hatinya itu, entah kenapa rasanya bisa sesakit itu hingga membuat dia bungkam sejenak, namun buru-buru Gino menetralkan rasa sakitnya dan menghalau semua kemungkinan yang ada di benaknya.
"Sebegitu bencinya kamu dengan Daddy?" Ucapnya dengan nada rendah. Namun Alvan hanya meliriknya sekilas tanpa mau menjawab apa yang di katakan Gino.
"Alvan.!!" Panggil Gino lagi namun di hiraukan oleh Alvan tanpa menoleh sedikit pun.
Sampai ia berada di ambang pintu, Alvan berpapasan dengan mobil yang baru saja sampai di halaman depan monsion, hingga keluarlah Raka, Dion yang memapah Laksa yang seperti masih terkulai lemas.
"Al" sapa Raka yang seolah terkerjut dengan kehadiran Alvan di hadapannya. Namun Alvan melirik sekilas menatap Laksa yang seolah menatapnya haru. Tak ingin menghiraukan hal itu dia lebih memilih menatap Raka dengan tanya.
"Sudah ingin pergi lagi?"
Alvan mengangguk "seperti yang Abang lihat" jawabnya.
"Jangan mematikan koneksi mu lagi Al, setidaknya untuk abang"
"Aku usahakan" ucapnya dan berlenggang pergi.
Dion hanya menatap sendu ke arah Alvan, seolah merasakan sakit ketika ia mendapati Alvan yang mengabaikannya, entah kenapa semenjak ia tau kebenarannya membuat ia merasa teepukul dan itu membuat rasa bersalahnya kian memuncak.
"Apa sebegitu bencinya kamu sama abang Alvan?" Lirih Dion dalam hati dengan pandangan yang mengarah pada Alvan meski tubuhnya kini masih menopang Laksa.
"Apa yang kamu lakukan Laksa?" Kaget Dion ketika Laksa seolah berontak dan melepas pegangannya.
Dengan lunglai dia berlari ke arah Alvan hingga ia memeluk Alvan dari belakang "Alvan tolong jangan pergi, maaf, maaf kan abang Alvan maaf" sendu Laksa yang kini sudah meneteskan air matanya dengan pelukannya yang semakin erat pada tubuh Alvan.
Alvan terdiam sesaat, entah kenapa ada rasa hangat yang menjalar pada hatinya, namun pada akhirnya ia tak menggubris perasaan itu hingga aura dingin turut ia keluarkan "lepas" tegasnya dan itu membuat Laksa menggelengkan kepalanya cepat "jangan pergi lagi Alvan, tolong~" lirihnya.
"Lepas, atau gua perparah luka lo.!" ucapnya dingin dan itu berhasil membuat Laksa melepas pelukannya dan menatap Alvan takut ketika sorot mata penuh amarah memancar dari matanya, seolah dia mengingat kejadian dimana Alvan membabi buta terhadapnya.
Alvan menatap sengit ke arah Laksa "jangan pernah sentuh gua dengan tangan busuk lo itu" cam nya yang seolah menandakan peringatan.
"Al apa tidak ada ruang di hatimu untuk menerima permaafan abang?"
"Tcih, gak guna buat hama kaya lo" jawabnya seakan menohok dan itu membuat Laksa terdiam kaku, merasakan sakit yang teramat, meski tidak ada luka fisik yang ia terima, namun itu mampu menorehkan luka di hatinya.
Braght.!!
"Laksa.!!" Teriak Dion dan langsung menghampiri Laksa ketika dia ambrug ke tanah.
Laksa yang masih terduduk di tanah itu menatap sendu dengan air mata yang sudah keluar dari pelupuk matanya "Al.. sungguh Abang meminta maafmu, apa yang perlu abang lakukan agar kamu mau memaafkan abang?" Ucapnya sendu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
Teen FictionAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)