CHAPTER 37 - Mood - Cavan

2.8K 168 24
                                        

Malam harinya, Fazlan makan dengan tenang. Fazlan tidak lagi memakai gips karena tangannya kaku, bahkan dokter Galang yang mengetahui itu tidak bisa berkata-kata mendengar alasannya.

Tidak, bukan hanya dia sebenarnya. Hampir seluruh Sailendra terdiam tidak percaya mendengar alasan Fazlan.

Jika Fazlan makan dengan tenang, aman dan damai. Beda lagi dengan ke-enam pria tampan yang masih menunjukkan sedikit rasa takut mereka pada Fazlan karena kejadian tadi siang.

Kalian pasti ingat kan?

"Dek, mau nambah lagi gak? " Cavan bertanya.

Mereka berenam duduk di sofa, dengan berbagai macam rasa makanan dan minuman tersimpan di atas meja.

Fazlan yang sedang menyeruput mie kuah di mangkok pun menatap Cavan, dan mengangguk antusias. Cavan dan yang lain mengulum bibir melihat Fazlan yang mengangguk seperti itu, apalagi mulut Fazlan penuh dengan makanan, dan menurut mereka itu lucu dan ingin sekali mereka mencubit pipinya.

Cavan berdiri dari duduknya, mendekati bangsal dengan semangkok mie di tangannya. Fazlan suka mengonsumsi mie saat malam hari, itu sebabnya Cavan sudah  menyiapkannya.

Dan ingat, Fazlan tidak setiap malam makan mie.

Kek author sih, tapi author hampir tiap hari (malam dan siang dan kalau benar-benar pengen) makan mie. Apalagi kalau yang pedas-pedas, beuh enak... 😃🗿

Cavan meletakkan mangkok itu di atas meja kecil di depan Fazlan, lalu mengusap kepala Fazlan yang basah. Pria muda itu tadi sempat mandi, katanya agar otaknya fresh dan dingin.

"Makan sampai kenyang, besok pagi abang akan mengantar kamu sampai ke mansion Sailendra. " ucapnya lirih, seakan-akan sedang berbisik di telinga Fazlan.

Suaranya terdengar bergetar, tatapannya juga sendu.

Fazlan yang melihat itu berdecak, di ambilnya mangkok berisikan mie itu dan melahap nya langsung. Cavan mengulas senyum tipis melihatnya, tangannya terangkat dan mengusap kepala Fazlan.

"Yaudah, abang ke sana dulu. "

Setelah itu, Cavan menjauh dan bergabung dengan yang lainnya. Fazlan tidak melirik sama sekali, pria itu sedang tidak mood.

Beberapa saat kemudian, seusai makan malam. Fazlan yang moodnya turun drastis langsung sibuk bermain ponselnya, setelah menunggu beberapa saat, pria itu kemudian berbaring di atas bangsal dan membelakangi mereka semua.

Cavan, Rolan, Gery, Farhan, Elang dan Rano. Ke-enam pria tampan itu saling tatap, mereka bingung dengan sikap Fazlan yang aneh, menurut mereka.

"Dia kenapa? " tanya Gery.

Rano menatap Fazlan, lalu pada Cavan dan Rolan. "Pasti karena kalian berdua? " tuduh Rano, raut wajahnya tidak terlihat sedang menuduh, tapi ragu.

"Dih, bukan saya lah. Kan tadi adem aja. " sangkal Rolan cepat.

Mereka pun menatap Cavan, dengan tatapan intimidasi.

"Saya cuma bilang kalau besok saya mau antar dia ke mansion Sailendra, " jelas Cavan membuat mereka membuang nafas secara kasar.

"Lo ngomongnya bukan di waktu yang tepat, Van. " ujar Elang.

"Bener tuh Van, harusnya lo ngomongnya besok atau kapan-kapan aja. " timpal Rano.

"Saya tidak mau tau ya, kau harus mengembalikan mood dia kayak semula. Saya gak mau bawa dia kalau moodnya masih rusak kayak gitu. " ucap Rolan sambil mencomot makanan Farhan yang terlihat enak?

𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang