CHAPTER 43

2.5K 106 15
                                        

Rolan, Cavan dan Fazlan, ketiga pria itu sampai rumah tepat pada pukul sembilan malam. Mereka singgah di beberapa tempat hanya untuk menghabiskan waktu bersama, bermain, bercerita, makan bersama bahkan berjalan-jalan seperti keluarga cemara. Mereka lakukan bersama.

Fazlan pun tidak lagi mempermasalahkan kejadian pagi tadi, ia sudah melupakannya karena tidak penting untuk ia ingat.

Kini Fazlan berada di kamarnya, usai mandi dan mengganti pakaian serta merapikan tempat tidurnya, Fazlan duduk melamun di kursi balkon kamarnya.

Pikirannya menerawang kemana-mana, membuatnya tak tau harus memikirkan apa dan kenapa.

Menghela nafas pelan, Fazlan meletakkan kepalanya pada besi pembatas yang dingin dan memejamkan matanya. Semilir angin lembut menyapu halus wajah Fazlan.

"Keadaan Mommy, Daddy sama abang gimana ya? "

Sudah hampir tujuh tahun mungkin Fazlan masih belum rela jika ia akan menetap di novel ini. Fazlan tidak pernah melupakan keluarga nya di dunia lain, Fazlan benar-benar sudah sangat merindukannya.

Dia pernah berpikir, bagaimana perasaan mereka saat tau anak mereka tidak akan kembali sadar dari koma? Bahkan sudah hampir tujuh tahun, dan tubuh Fazlan masih terbaring di rumah sakit dengan tanpa adanya jiwa.

Dia sangat ingin bertemu mereka, walaupun hanya dalam mimpi.

"Gue kangen sama mereka, " gumamnya lirih.

Fazlan menghembuskan nafasnya sedikit kasar, lalu beranjak berdiri. Menumpu tangannya pada besi dan memaksakan bibirnya membentuk sebuah senyuman.

"Alan harap, kalian selalu sehat dan jangan banyak pikiran. Mom, Dad, dan abang-abangnya Alan, pasti bakal ada waktunya buat Alan ketemu kalian semua. "

"Jangan khawatir sama Alan, Alan disini baik-baik aja. Selagi gak ada orang yang nyakitin Alan, Alan akan tetap hidup untuk yang kedua kalinya. "

Usai bergumam dan mengungkapkan keinginannya pada kesunyian malam, Fazlan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon. Tidak lupa ia juga menutup pintunya dengan tirai berwarna merah.

Berjalan ke arah kamar mandi, mencuci kaki setelah menggosok gigi dan mencuci muka lalu keluar dan menuju kasur. Berbaring di sana, sekedar menghilangkan penat dan kerinduan terhadap dunianya yang pertama.

"Alan akan selalu rindu sama kalian, love you Mom, Dad dan abang-abang Alan. "

Disisi lain, di sebuah gang sempit yang kumuh dan bau. Nampak dua orang lelaki, yang sama-sama berpakaian jubah berdiri saling berhadapan.

Tidak ada aura emosi di sekitar keduanya, mereka saling berhadapan yang masing-masing memegang tali hewan nya.

"Kakak, " panggil lelaki yang memegang sekitar tiga tali, dengan pelan dan gugup.

"Darimana saja kau selama ini, hm? Tidakkah kau tau, kalau aku selama ini mencarimu bahkan sampai sengaja menghancurkan markas ayah angkat karena mu? " ucap beruntun lelaki yang memegang satu tali, dengan hewan bertubuh besar yang memiliki bulu putih.

Adiknya menunduk sesal. "Maafkan aku Kak, selama ini aku kabur karena tidak mau ayah angkat tau kalau aku seorang pembunuh. " ungkap jujur sang adik dengan suara gemetar.

Sang kakak berjalan mendekat, diikuti harimau putihnya yang jinak namun ganas. "Padahal, ayah angkat sudah mengetahuinya loh. Sebelum kau kabur, dia sudah tau kalau kau seorang pembunuh tapi memilih diam. " ujar sang kakak sambil tersenyum tipis.

Saat tiba di hadapan adiknya yang terus menunduk, tangannya kemudian terulur mengusap kepala adiknya yang tidak tertutup tudung jubah. "Mau ikut kakak hm? " tanya sang kakak lembut.

𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang