Di rumah Cavan, Rolan membantu si tuan rumah membuat makan malam. Dia sudah mendengar cerita dari Cavan kalau Fazlan sudah kembali dan akan menginap dengan waktu yang cukup lama di rumah Cavan.
Hal itu membuat Rolan senang bukan main, dia sudah sangat merindukan adiknya itu.
Melihat keduanya yang memasak bersama, Fazlan tersenyum tipis. Dia senang karena kedua pria itu tidak bertengkar ataupun beradu tatapan seperti biasanya.
Fazlan pun mendekati keduanya dan duduk di kursi, memperhatikan kedua pria itu yang sesekali melempar candaan dan tertawa tidak jelas. Hal itu semakin membuat Fazlan senang, dia hanya mau mereka berdua terus seperti ini.
Tuk
Fazlan tersentak saat tiba-tiba kepalanya seperti sedang dipukul, tapi anehnya, tidak ada siapapun di dekatnya. Kecuali kedua abangnya yang masih memasak bersama.
Lalu, siapa yang memukulnya?
"Lo yang getok kepala gue, kan? " tuduh Fazlan pada alter egonya.
"Dih apaan, gue aja dari tadi diam aja. " sangkal nya cepat, bagaimana bisa dia memukul kepala Fazlan, kalau dia saja hanya jiwa asing yang tidak memiliki raga lagi dan telah melekat dengan jiwa Fazlan palsu? Ekhem...
"Terus siapa? "
"Ya gue mana tau, setan kali yang getok kepala lo. "
Fazlan terdiam memikirkan ucapan Arlan. "Emang ada ya tuh makhluk jelek di sini? " tanya Fazlan penasaran.
"Tanya aja dulu ama mereka (setan), kalau mereka (setan) jawab iya, berarti ada. " jawab Arlan malas.
Fazlan mendengus kasar, pria itu meletakkan kepalanya di atas meja. Pria itu tampak tidak bersemangat.
Kedua manusia yang tadinya sibuk memasak, kini menatap Fazlan heran. Mereka telah selesai memasak, tinggal menyajikannya di atas meja saja.
"Dek, " Cavan dan Rolan berjalan ke meja makan, menaruh piring lauk-pauk di atas meja dan memanggil Fazlan bersamaan.
Fazlan mendongak dan menampilkan senyum ramah nya, hal itu membuat keduanya semakin penasaran.
Rolan duduk di depan Fazlan, membiarkan Cavan mengambil lauk-pauk yang lain sendirian. "Kamu kenapa, dek? Kok kayak sedih gitu? Ada yang gangguin kamu? " tanya Rolan beruntun.
Fazlan menggeleng kecil. "Gak ada yang gangguin Falga kok bang, " jawab Fazlan.
"Terus kenapa lemes gitu, hm? " tanya Cavan.
Fazlan menghela nafas pelan, lalu menatap keduanya yang terus menatapnya. "Tadi Falga diam aja, tapi tiba-tiba kayak ada yang mukul kepala Falga. Tapi gak ada siapapun di dekat Falga tadi. Makanya Falga lemes, jangan-jangan ada setan lagi di rumah ini. " jawabnya panjang.
Fazlan tidak tau saja kalau jawabannya itu bentuk aduan, dia seperti anak-anak yang mengadukan apa saja yang mereka alami kepada orang tua atau saudara nya.
Keduanya saling pandang, lalu terkekeh kecil mendengarnya. Fazlan yang melihat itu jelas tidak terima jika mereka menertawai nya.
"Kok ketawa sih? " tanya nya kesal.
Cavan dan Rolan, pria tampan yang usianya bahkan sama namun berbeda beberapa bulan saja itu berhenti tertawa. Mereka menggeleng dan melanjutkan kegiatan mereka.
Fazlan kesal bukan main melihat mereka yang mengabaikan nya, Fazlan menelungkupkan wajahnya ke lipatan tangannya sendiri.
"Lo gak bosan, Fal? " tanya Arlan tiba-tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲
Roman pour Adolescents[ERA BROMANCE AND BROTHERSHIP! NOT BL/HOMO!!] Bagaimana jadinya jika pemuda Office Boy ber-transmigrasi kedalam novel dan menempati raga seorang remaja SMA yang berperan sebagai antagonis? ••• 📍Cerita hasil otak yang gabut mikir. 📍No plagiat! 📍...
