Kamis pagi, tepat pada pukul tujuh dan juga hari libur siswa—Fazlan yang berencana akan ke rumah barunya mendadak tidak ingin pergi dari rumah Cavano.
Entahlah... Rumah ini sudah sangat nyaman baginya, seperti ia sudah lama tinggal di sana.
Fazlan mengatur nafasnya perlahan sampai merasa tenang. Ketika akan berbalik, Fazlan melihat kehadiran Cavano di ambang pintu, tanpa suara.
"Sejak kapan berdiri disitu? " Fazlan meraih handuk dan menaruhnya di bahu.
Cavano tetap berdiri di ambang pintu, tak sekalipun masuk ke dalam. "Belum lama... Mau mandi? " tanya Cavano.
Fazlan mengangguk.
"Nanti turun ya, kita sarapan sama-sama. " kata Cavano yang langsung pergi setelahnya.
Fazlan masuk ke kamar mandi, hingga sepuluh menit kemudian ia keluar dengan tubuh setengah telanjang.
Aroma sabun yang dipakai Fazlan menguar hebat dari dalam kamar mandi.
Fazlan memilih pakaian yang akan digunakan hari itu, dan setelah menemukan yang cocok, ia langsung mengenakan nya.
Pemuda itu keluar kamar dan menuju dapur, dimana Cavano sudah menunggu sambil bermain ponselnya.
"Sudah? " Cavano menaruh ponselnya di meja, menatap Fazlan sembari tersenyum kecil.
"Hm, " Fazlan duduk di seberang Cavano, menatap menu makanan yang dimasak Cavano. "Kenapa banyak sekali? " tanya Fazlan ketika sadar bahwa menu sarapan pagi itu agak banyak.
"Apanya yang banyak? " Cavano balik bertanya, yang membuat Fazlan menatap nya heran.
"Makanan ini banyak sekali, memangnya kau kedatangan tamu pagi begini? "
Cavano menggeleng. "Tidak ada tamu yang datang, "
"Lalu? "
"Saya memasak sebanyak ini karena kamu. "
Alis Fazlan mengerut. "Karena saya? "
Cavano mengangguk, diam menahan tawanya yang akan keluar karena ekspresi Fazlan yang lucu. "Sudah makan saja, kalau tidak habis saya panaskan untuk makan siang nanti atau membagikan nya pada orang yang membutuhkan. " ucap lelaki itu.
Fazlan mengangguk saja, lalu mulai menyantap sarapan yang menggugah seleranya itu.
Setelah sarapan, Cavano memisahkan menu yang tidak di sentuh oleh mereka ke dalam box kecil untuk dibagikan ke orang-orang yang membutuhkan, lalu sisanya ia taruh untuk makan siang mereka.
"Temani saya ya hari ini. " Cavano menghampiri Fazlan yang duduk di ruang tamu sambil menyantap buah.
Tidak menolak ataupun bertanya lebih, Fazlan langsung mengangguk. Cavano tersenyum, pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian, lalu mereka pergi ke suatu tempat.
•••
Lalu di mansion Bagaskara, kediaman yang pernah dibandingkan Fazlan dengan milik ayahnya di dunia sebelumnya—kedatangan tamu dari pihak Bagaskara sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲 [Revision]
Ficção Adolescente[ERA BROMANCE AND BROTHERSHIP! NOT BL/HOMO!!] Bagaimana jadinya jika pemuda Office Boy ber-transmigrasi kedalam novel dan menempati raga seorang remaja SMA yang berperan sebagai antagonis? ••• 📍Cerita hasil otak yang gabut mikir. 📍No plagiat! 📍...
![𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲 [Revision]](https://img.wattpad.com/cover/373851541-64-k493255.jpg)