Dua bulan lalu, di negara London.
Setibanya Fazlan di London, pria itu bergegas menjauh dari bandara agar bisa dengan cepat menemukan taksi. Ponsel yang berdering terus dia abaikan, dia tidak peduli dengan mereka semua, terkecuali Cavan dan Rolan, mungkin.
Perlu diingat, hubungannya dengan Rolan cukup dekat. Sedangkan untuk anggota Sailendra yang lain, Fazlan menjaga jarak dengan mereka.
Setelah mendapatkan taksi, saat Fazlan akan masuk ke dalam mobil. Teriakan anak kecil yang memanggilnya 'paman' memenuhi ruang telinganya.
"Paman.... "
Fazlan tidak jadi masuk ke dalam mobil, pria itu berbalik dan terkejut melihat anak perempuan yang kini memeluk kakinya erat.
Berjongkok, Fazlan menatap gadis kecil itu heran. "Siapa paman mu? " tanya Fazlan, sembari menyingkirkan anak rambut dan menyalip nya ke telinga gadis itu.
"Paman adalah paman ku. " jawab gadis kecil itu. "Paman, gendong. " mintanya manja.
Fazlan tidak menuruti permintaan gadis itu, dia mana bisa menyentuh anak orang yang tidak sama sekali dia kenal?
Gadis kecil itu menatap Fazlan dengan sendu, bibirnya bergetar hingga tidak lama isakan kecil lolos dari bibir kecilnya. Fazlan panik, jelas. Ini negara orang lain, bukan negaranya.
Kalau mereka melihatnya, mereka pasti akan salah paham.
Tidak mau membuat anak itu semakin menangis, Fazlan dengan paksa menggendongnya dan gadis itu berhenti dan tersenyum manis ke arahnya.
Fazlan terdiam, wajahnya datar pertanda dirinya tidak senang. Gadis kecil itu memeluknya terlalu erat, seperti tidak mau berpisah dengannya.
"Excuse me, son, did I drive you? " (permisi nak, apa aku jadi mengantar mu?) tanya pak sopir.
Fazlan lantas menoleh ke arah supir taksi yang telah lama menunggu. "Sorry, sir, I didn't go. Sorry once again. " (Maaf pak, saya tidak jadi pergi. Maaf sekali lagi.) ucap Fazlan dengan rasa bersalah.
Pria itu kemudian merogoh saku celana nya dan mengambilkan beberapa uang dari dompetnya, lalu memberikannya pada supir taksi. "Instead, I pay more even though I haven't gone up at all. " (Sebagai gantinya, saya membayar lebih walaupun saya belum naik sama sekali. ) sambung Fazlan sambil tersenyum tipis.
Sopir taksi pun mengambil uang itu dan berterimakasih pada Fazlan, kemudian berlalu dari hadapannya. Fazlan menatap gadis kecil itu yang sudah tertidur, menghela nafas kasar Fazlan berjalan masuk ke dalam lingkungan bandara.
Dia akan meminta tolong pada siapapun yang dia temui untuk memberikan informasi tentang anak hilang ini.
Beberapa menit kemudian, Fazlan yang tengah makan siang bersama gadis itu terkejut mendengar suara teriakan seorang wanita dari arah belakang.
Fazlan menoleh dan terdiam di tempat melihat siapa yang datang bersama seorang wanita dan dua pria berjas formal.
Fazlan memalingkan mukanya, menurunkan gadis itu dengan paksa lalu duduk di kursi dan makan. Mengabaikan mereka semua yang ada di dekatnya.
"Nata, " suara yang terdengar bergetar, mengandung makna penyesalan yang sangat amat dalam.
Fazlan bergeming.
"Bang Nata, Diandra kangen sama abang. "
Ya, mereka adalah Dipta, Diandra dan Daffa. Entah bagaimana bisa mereka ada di London, sedangkan bulan lalu saja. Fazlan tau jika mereka tinggal di Australia, lalu kenapa bisa ada di London?
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲
Roman pour Adolescents[ERA BROMANCE AND BROTHERSHIP! NOT BL/HOMO!!] Bagaimana jadinya jika pemuda Office Boy ber-transmigrasi kedalam novel dan menempati raga seorang remaja SMA yang berperan sebagai antagonis? ••• 📍Cerita hasil otak yang gabut mikir. 📍No plagiat! 📍...
