25. Tsundere

4K 373 39
                                        

"Lo nggak takut ketemuan sama gue sendirian di sini?"

Nana mengedikkan bahu santai menanggapi pertanyaan aneh yang dilontarkan Kevin padanya. Gadis itu kemudian duduk di samping pemuda yang tadi mengajak bertemu di taman belakang fakultas ekonomi melalui sepucul surat tersebut.

"Ngapain takut? Tinggal teriak kalo kamu berani macem-macem, kan? Kita masih di lingkungan universitas soalnya," ucap Nana sambil menyodorkan secarik kertas kepada Kevin. "Sekarang, jelasin alesan kamu ngajak ketemuan di sini. Cepet, ya. Bentar aku harus kerja."

Kevin memandang Nana heran. Semula pemuda tersebut berpikir bahwa gadis berambut sebahu yang duduk di sampingnya itu akan bereaksi berbeda.

Mungkin benci, takut, atau setidaknya merasa waspada karena ulah teman-temannya yang mengganggu beberapa waktu lalu. Kemungkinan terbesar dan terburuk adalah, Nana tidak akan datang sehingga Kevin tidak terlalu berharap.

Akan tetapi, dugaannya ternyata salah. Nana tampak sangat santai, bahkan tidak mengajak teman-temannya seperti yang diminta Kevin melalui surat. Gadis itu tidak menunjukkan kegelisahan sama sekali, maupun tanda-tanda permusuhan.

"Halo?" Nana melambaikan tangan di depan wajah bengong Kevin. "Cepetan bilang ada perlu apa. Waktuku udah terbuang tiga detik, nih," tegurnya karena tidak ingin membuang waktu lebih banyak.

Kevin berdehem, memandang Nana sayu dengan sepasang telinga yang memerah. "S-sebenernya gue ngajakin lo ketemu berdua karena ... lo jangan ngeliatin gue kayak gitu, dong!"

Lelaki itu diam setelah melontarkan protes, lantas menghindari tatapan Nana yang mendadak tampak sangat fokus, melotot sebab gadis itu langsung merasakan de Javu melihat tingkah Kevin yang mirip seperti Dave. Mereka berdua menunjukkan ekspresi wajah yang mirip.

Tidak seperti dulu, Nana tidak langsung merasa gugup atau kegirangan karena berikut dia akan ditembak oleh panah cinta. Berkaca pada pengalaman, perilaku tidak biasa Kevin ini pasti berhubungan dengan protagonis novel alias Marina. Jadi, kini Nana segera menekan kepercayaan diri, serta asumsinya.

"Oh, maaf. Mendadak muka keliatan kayak rebusan Tuan Krab," ucap Nana asal setelah mengatur ekspresi wajahnya, tak lagi memelototi Kevin seperti tadi. "Oke, lanjutin."

Alih-alih lanjut mengutarakan tujuannya mengajak bertemu, Kevin malah membahas hal lain. "Maksud lo muka gue mendadak kek kepiting rebus?" Ia melirik Nana sekilas sebelum membalik badan, memunggungi gadis itu sambil mengumpat lirih, "Sialan."

Dari balik punggung Kevin, Nana bisa melihat pemuda itu yang tengah menampar-nampar pipi, lalu menggosok telinganya sendiri, berusaha menetralkan rasa malunya yang jelas terlihat.

Tanpa sadar, sebuah senyuman terbit di wajah Nana saat melihat tingkah malu-malu Kevin yang tampak lucu. Karena tidak lagi berpikir macam-macam dan lebih sadar diri, Nana jadi tidak gugup sama sekali menghadapi perilaku Kevin saat ini. Malah, timbul keinginan untuk menjahilinya.

Nggak papa, kan? Toh, dia bukan jodoh Marina. Jadi, nggak perlu terlalu jaga sikap ke dia.

Nana menjulurkan kaki. Dengan gerakan cepat berpindah tempat ke hadapan Kevin. "Wah, beneran kek kepiting rebus!" ledeknya sambil  tertawa kecil. "Merah banget, lho. Kenapa bisa semerah ini? Emangnya kamu mau ngomongin apa, sih?"

"Di-diem, lo!" Pupil mata Kevin bergetar hebat saat mendapati tatapan jahil Nana. Mukanya yang sudah merah, semakin merah sampai terasa panas.

Cepat-cepat Kevin ingin membalik tubuh, tapi kedua tangan Nana lebih gesit meremas lengan bajunya, menahan pergerakan lelaki itu.

"Kamu kenapa, sih?" tanya Nana sok imut. "Eh, tunggu! Bukannya situasi ini familiar?"

"Familiar apaan?!" tanya Kevin ketus sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Nana.

Joyful For MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang