Yeaaay! Akhirnya bisa double up!
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading!
.
.
.
.
.
....................
Suara musik jazz yang mengalun lembut di dalam restoran terasa semakin jauh dari pendengaran Elio. Setelah mendapatkan pertanyaan tak terduga dari gadis yang duduk di depannya, lelaki itu tercenung. Pikirannya kusut sebab skenario semacam itu bukan seperti dugaan.
Ketika mengatur rencana ujian sederhana ini, hanya ada dua reaksi Nana yang Elio bayangkan. Jika tipe materialistis akut mendekati serakah, maka sifat dinginnya akan berubah lembut, bahkan berusaha menggoda. Sebaliknya, jika tipe sederhana, maka akan tetap menjadi diri sendiri dan menolak dengan sopan.
Akan tetapi, siapa sangka responnya akan begini? Elio merasa ditelanjangi oleh sepasang mata Nana yang menatap lekat, sementara pertanyaannya seperti ujung pisau tajam yang menusuk ulu hati sebab terlalu blak-blakan sampai membuatnya bungkam seribu bahasa untuk beberapa saat.
"Dari raut muka kamu, aku asumsikan tebakan tadi bener." Nana mengetuk-ngetuk meja bundar di depannya, enggan meraih tablet menu di sana.
Gadis itu mendengus sambil menunjukkan wajah kesal. "Aneh. Mengecewakan. Emangnya kamu ini apa? Narsistik yang merasa semua cewek suka sama kamu? Denger, Elio. Ujian itu diperuntukkan buat orang yang tertarik buat mendapatkan atau mencapai sesuatu yang spesifik."
Nana menunjuk dirinya sendiri, tanpa sadar matanya melebar. "Dan aku, sama sekali nggak punya ketertarikan buat jadi istrimu. Jadi, jangan seenaknya ngasih ujian yang nggak perlu. Tenang aja, aku mau bantu, kok. Bantu biar mamamu nggak ngasih restu. Itu udah cukup, kan?"
Di tempatnya duduk, Elio tertegun. Tubuhnya yang semula santai jadi tegak membeku. Lelaki itu kehilangan kata-kata, padahal bibirnya sesekali membuka seolah ingin memberikan balasan.
"Aku anggep, hal ini udah clear." Nana kembali berbicara, sembari jarinya menyentuh layar tablet, memilih menu paling murah yang bisa dia bayar kembali. "Sekarang, jelasin rencanamu. Misal jam pertemuan, persiapan, dan apapun yang bikin mamamu illfeel."
Seperti yang dikatakan Dennis, pertemuan tadi hanya memakan waktu sebentar. Bahkan mungkin lebih cepat dari perkiraan karena Nana yang tidak ingin banyak berbasa-basi. Berulang kali kata-kata dan perlakuan manis Elio diabaikan sampai lelaki itu akhirnya menyerah.
"Dia bukan Cinderella." Elio bergumam sambil menatap keluar jendela restoran. Kini dia sendirian, sebab gadis yang duduk di hadapannya sudah pergi lima menit lalu. "Bukan Belle, Ariel, atau pun Fiona. Dia lebih mirip Mulan? atau Merida? Minus nggak bisa berantem aja."
Tangan kanan bertumpu pada meja, sedangkan tangan kiri menopang dagu. Senyum tipis mengembang samar di bibir Elio yang baru saja dibasahi oleh salivanya sendiri.
"Bukan masalah." Lelaki itu menertawakan diri sendiri, karena memaksa mencari kemiripan Nana dengan dua putri disney yang tidak berorientasi pada cinta.
Padahal cinta dan kelembutan hati, ditambah bumbu teraniaya adalah elemen penting dalam fantasi romansa yang ingin dirasakan Elio. Dia ingin merasakan sensasi menjadi penyelamat bagi calon pendamping hidupnya yang memilki sifat murni.
"Sedikit toleransi bukan masalah. Toh, gue orang yang toleran." Elio mengangguk pada bayangannya sendiri yang memantul samar dari kaca jendela.
Dalam perjalanan pulang, Nana membaca kembali ringkasan rencana Elio yang dia tulis di aplikasi catatan. Catatan pendek itu berisi waktu pertemuan, pakaian, dan beberapa hal yang disukai ibu Elio dari seorang gadis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Joyful For Me
FantasySebagai jomblo dari lahir sampai usianya dewasa, Nana sangat menghindari hiburan bergenre romantis, karena itu akan memicu rasa iri yang teramat sangat di dalam hatinya. Melihat bagaimana tokoh utama diperlakukan bak ratu oleh pasangan mereka, atau...
