27. Baju Kotor

3.4K 339 26
                                        

Pupil mata Dave melebar. Dada pemuda itu berdentum kencang, seiring dengan euforia aneh yang menggelegak tak terkendali di kepalanya.

Untuk beberapa saat, tubuh tinggi dan kekar itu membeku, tak mampu bergerak seolah baru saja mendapati serangan kejut dari aliran listrik bertegangan rendah.

Ciuman dari bibir empuk nan lembab yang baru saja mendarat di pipi putihnya membuat kepala Dave pening seketika. Terlalu pening, sampai otaknya tak mampu mengkomando anggota gerak dengan benar.

Padahal hanya ciuman singkat yang tidak ada bedanya dengan menempelkan bibir ke kulit tanpa kesan emosional, tetapi efeknya sungguh tak main-main hingga menyebabkan suhu tubuh pemuda itu menjadi panas dan membuat rona merah di kedua pipinya tampak semakin jelas.

Di sisi lain, subjek yang menjadi penyebab dari gangguan otak sementara yang dialami Dave baru akan mengambil jarak, saat sepasang tangan pemuda itu bergerak lebih cepat merengkuh tubuhnya.

"Kak, kamu pasti pake pelet," bisik Dave terkekeh pelan, kemudian mengusap-usapkan wajahnya di ceruk leher Nana. "Kalo nggak, gimana kamu jelasin ini?"

Nihil. Tidak ada jawaban, pun perlawanan yang diberikan Nana. Gadis itu hanya diam menatap kosong ke arah rumah besar milik Dave sambil berusaha meredakan debaran jantungnya.

Nana tahu, pilihannya kali ini akan memberikan hasil yang mengejutkan, tetapi tetap saja, sebagai seorang gadis yang belum pernah bersentuhan seintim ini dengan lawan jenis, Nana masih harus menyesuaikan diri. Tidak semudah itu mengendalikan diri dari reaksi kimiawi dari pengalaman hidupnya selama ini.

Andai ingatan Renata dan adaptasi fisiologisnya ikut meresapi pikiran dan tubuh Nana, pasti akan jauh lebih mudah menghadapi semua sentuhan dari Dave.

Atau tidak? Bagaimanapun, Renata sepertinya menyimpan perasaan suka pada berondong berwajah cantik, yang sayang sekali setengah kewarasannya telah raib tersebut.

Memikirkan hal itu membuat Nana kembali mempertanyakan pilihan yang baru saja dia buat.

Kayaknya aku salah langkah, tapi nggak mungkin juga mundur sekarang. Pertarungan bahkan belum dimulai.

Dave mengangkat wajah, menatap pupil bergetar Nana dengan pandangan yang berkabut. Saat ini, sebagian besar sel otaknya seolah saling terhubung hanya untuk fokus pada Renata, dan melupakan rasa sukanya pada Marina.

"Ini cuma cium pipi, tapi rasanya bahkan ngalahin french kiss." Dave bergumam, mengeluarkan seluruh isi pikiran dalam keadaan sadar tidak sadar. "Aneh banget."

Pupil mata Dave yang telah melebar sejak beberapa detik lalu bergerak turun dengan gerakan lambat, memandang sayu ke arah sepasang bibir Nana yang agak terbuka.

Ibu jari kanannya secara perlahan naik, menyentuh, lantas mengusap bibir bawah Nana yang lebih berisi dari bagian atas.

Pertanyaan yang sama terus berputar, membuat kepala Dave semakin pening. Pertanyaan tentang mengapa ciuman pipi bisa mengalahkan sensasi dari ciuman bibir? Padahal sudah hampir belasan kali mereka berdua saling menempelkan bibir, tapi sensasinya tidak pernah segila ini.

"Ah, bukan." Dave bergumam sendiri sambil kembali menatap mata Nana yang kini telah stabil. Dia tersenyum saat menyadari sesuatu. "Bukan areanya yang bikin gila, tapi ..."

Pupil mata Dave bergulir turun lagi ke arah sepasang bibir Nana yang terkatup rapat. "... tapi karena udah lama kita nggak sedeket ini."

Begitu kalimatnya selesai terucap, satu tangan Dave berpindah ke belakang kepala Nana, sementara yang satunya menekan pinggang bawah gadis itu agar tubuh mereka semakin menempel.

Joyful For MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang