Hening. Ketiga orang yang sebelumnya ribut di depan toko itu terdiam untuk sejenak dengan ekspresi yang berbeda. Kevin berkedip bingung, Dave mengerutkan dahi tidak senang, sedangkan Nana sendiri menelan ludah gugup.
Nana bukanlah gadis penakut, meski terkadang lebih suka mengalah untuk main aman. Namun, tatapan tajam yang dilayangkan oleh Rafa kali ini mampu membuat bulu kuduknya meremang. Auranya persis sekali seperti saat ayah atau kakak lelaki pertamanya dulu ketika sedang kesal akan sesuatu.
"Lo siapa?" Kevin bertanya ketus selagi menarik Nana ke belakang punggung seolah ingin melindungi. "Dateng-dateng nyuruh Rena pulang."
Nana yang baru tersadar oleh lamunan dan kegugupannya sendiri pun segera bersuara. "Dia kaka—"
"Kak Rena pulang sama aku, Bang." Dave menyela cepat. Dia melipat lengan di depan dada sambil berpindah posisi di samping Kevin dan menutup keberadaan Nana sepenuhnya. "Nanti aku anter sampe rumah dengan selamat."
Mendengar panggilan Dave kepada lelaki yang baru muncul itu membuat Kevin menoleh heran. Apalagi cara bicaranya menunjukkan seolah mereka sudah saling kenal.
"Lo kenal dia, Bot?" tanya Kevin tanpa beban yang langsung dihadiahi lirikan tajam oleh Dave yang paham dirinya sedang dipanggil apa.
Namun, daripada membalas dengan marah-marah, Dave kali ini lebih memilih bersikap lebih santai. Ya, santai baginya sendiri. "Dia Bang Rafa, Cil. Calon ... akh!"
Omongan Dave langsung terpotong oleh jambakan kuat Nana pada rambutnya. Kepala pemuda secara refleks miring ke bawah, wajahnya meringis. Di saat yang sama, tangan Nana yang bebas bergerak cepat membungkam mulut Dave. Mulut yang berpotensi mengeluarkan kata-kata tidak penting dan memicu masalah baru itu.
"Kak, bener kata Dave. Nanti dia bakal nganterin aku, kok. Aku juga ada janji sama Kevin buat bantuin dia ... ngerjain tugas. Ya, ngerjain tugas. Haha. Ehem! Jadi, bakal pulang agak terlambat," ucap Nana berdusta, memberikan alasan palsu apapun yang terlintas di otaknya detik itu juga sambil tersenyum kaku. Dia benar-benar tidak bisa santai melihat raut wajah serius sang kakak sekarang.
Meskipun Nana tahu kalau Rafa tidak akan melakukan kekerasan fisik padanya kalaupun lelaki itu marah besar, tetapi tetap saja sulit untuk diabaikan. Biasanya orang yang lembut dan selalu mengalah seperti Rafa akan sangat sulit dibujuk ketika sudah kecewa. Sebagai seseorang yang mengutamakan keluarga, Nana tidak mau itu terjadi.
"Rena," panggil Rafa dengan suara yang tenang, tetapi terasa berat di telinga Nana. Biasanya, lelaki itu akan memanggilnya Dek atau Renren sebagai panggilan mesra. Akan tetapi, kali ini tidak.
Nana meneguk ludah kasar. "Iya, Kak?"
Rafa menghembuskan napas berat, matanya yang nyalang menatap lurus ke pupil bergetar sang adik. "Kamu mau lepasin dia sendiri atau Kakak yang lepasin?"
"Y-ya?" Nana berkedip belum mengerti akan perintah barusan.
Kelopak mata Rafa menyipit sebelum mengambil dua langkah lebar. Tangannya yang terulur cepat menarik Nana ke dalam pelukannya. Di saat yang sama, pemuda itu mendorong bahu Dave dan menepis kasar tangan Kevin yang ingin meraih Nana.
"Woy, lo siapa, anjing?! Lepasin Rena!" Kevin memprotes, lalu melangkah maju untuk merebut Nana sambil mengepalkan buku tangan. Dia belum bisa mencerna situasi, sehingga belum tahu status Rafa sebagai saudara kandung gadis itu dan hanya melihatnya sebagai orang asing yang kasar.
"Dia kakakku, Kev!" pekik Nana cepat sambil mengangkat tangan di dalam pelukan Rafa yang terasa posesif, tetapi tidak menyakitkan.
Menyadari akan hal itu, Nana bisa saja sedikit melawan untuk melepaskan diri. Namun, lagi-lagi, dia tidak mau memancing amarah Rafa lebih jauh karena gadis itu mengerti, akar kemarahan sang kakak adalah kasih sayang dan kepeduliannya sebagai keluarga. Hal itu amat patut untuk dihargai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Joyful For Me
FantasySebagai jomblo dari lahir sampai usianya dewasa, Nana sangat menghindari hiburan bergenre romantis, karena itu akan memicu rasa iri yang teramat sangat di dalam hatinya. Melihat bagaimana tokoh utama diperlakukan bak ratu oleh pasangan mereka, atau...
