Kulit wajah Dave seketika memucat begitu mendengar tudingan Nana yang sayang sekali tepat sasaran. Otaknya seketika ruwet seperti gumpalan benang kusut bersamaan dengan tubuh yang membeku.
Perasaan ini, perasaan yang Dave rasakan setiap kali dirinya merasa terancam oleh sesuatu. Kali ini bukan siksaan, melainkan kebencian Nana yang akan merusak usahanya yang baru saja menunjukkan titik terang.
Namun, bukan Dave namanya jika langsung mengaku begitu saja. Meskipun sempat kalah oleh permainan Nana, Dave bukanlah orang bodoh yang akan mengakui rencana mesumnya beberapa saat lalu.
"Apa maksud kamu?" Dave tertawa kecil, agak mengejek demi menutupi kegugupan. "Aku emang rusak, tapi nggak segila itu. Pikiran kamu terlalu liar, Kak. Ah, tunggu. Kamu emang selalu liar."
Buku tangan Nana mengepal. Dalam hati menyalahkan diri sendiri yang begitu mudah mengeluarkan isi pikirannya hanya karena dorongan emosi. Seharusnya Nana ingat bahwa Dave bukan pemuda polos layaknya anak kecil.
Karena sebelumnya Dave tampak sangat penurut, Nana sepertinya jadi terlena sampai merasa sudah memegang sepenuhnya tali kekang yang mampu mengendalikan pemuda itu.
Kesalahan lain yang sudah Nana lakukan adalah menuding langsung seorang pengidap kelainan mental di rumahnya sendiri. Nana tidak ada bedanya seperti anjing yang mengonggong ke arah beruang di sarangnya. Bodoh sekali.
Tidak bisa. Nana tidak bisa bersikap terlalu arogan sekarang jika ingin selamat. Kemungkinannya kecil, tetapi Dave bisa saja kehilangan kendali dan melakukan sesuatu yang mengancam nyawa. Bagaimanapun, Nana tidak akan bisa melawan sebab kemampuan fisik mereka yang jelas berbeda.
"Percaya sama aku, Kak. Mana mungkin aku punya pikiran kotor kayak gitu sekarang. Kita baru baikan, masa mau aku rusak gitu aja?" Dave memegang kedua bahu Nana, memberikan remasan ringan seiring dengan tatapannya yang berubah sendu. "Please believe me, Sis."
Permohonan itu tidak berefek apapun bagi Nana. Sebaliknya, gadis itu lebih mengkhawatirkan dirinya sendiri sekarang. Pikiran rasionalnya kembali mengambil alih sehingga memilih jalur aman.
Nana menghembuskan napas berat, sebelum menjawab, "Oke, aku percaya."
Dave kembali ceria. Matanya yang besar tampak berbinar senang. "Beneran percaya? Makasih. Aku bakal ambilin baju kamu di luar."
Kedua tangan besar Dave yang bertengger di bahu Nana segera terlepas. Dave berbalik, berniat keluar untuk mengambilkan pakaian Nana di luar tanpa menyadari dalam waktu singkat tersebut, tangan gadis itu bergerak cepat mengirimkan pesan pada seseorang.
Usai menyimpan ponsel ke dalam saku, Nana segera melangkah cepat mengejar Dave yang hampir mencapai ruang tamu. Begitu jarak mereka sudah dekat, tangan Nana langsung terulur meraih pergelangan Dave yang secara otomatis menghentikan langkah pemuda itu.
"Kenapa, Kak?" tanya Dave heran, sementara sisi lain dirinya dilanda kebimbangan.
Kebimbangan tersebut mendadak timbul saat sentuhan kecil yang gadis berambut sebahu itu berikan, mampu mengantarkan kehangatan yang menjalar sampai ke dada.
Dave tersenyum kecut begitu menyadari bahwa dirinya benar-benar haus akan sentuhan dari Renata, gadis yang dulu hanya terlihat sebagai tempat nyaman baginya tanpa embel-embel perasaan romantis.
"Nggak perlu. Aku nggak perlu ganti baju," ucap Nana sambil tersenyum kaku.
Mata Dave menyipit curiga. "Kamu gitu lagi. Katanya percaya sama aku."
Mulut Nana membuka, ingin mengatakan sesuatu ketika ponselnya yang berada di dalam saku celana berbunyi tanda adanya panggilan dari seseorang. Nana melepaskan genggaman tangan dari pergelangan Dave, lantas menjawab panggilan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Joyful For Me
FantasiSebagai jomblo dari lahir sampai usianya dewasa, Nana sangat menghindari hiburan bergenre romantis, karena itu akan memicu rasa iri yang teramat sangat di dalam hatinya. Melihat bagaimana tokoh utama diperlakukan bak ratu oleh pasangan mereka, atau...
