Elio langsung menghela napas lega segera setelah terlepas dari dua tekanan berbeda yang menghimpitnya secara bersamaan. Lelaki itu lantas mengalihkan pandangan pada Nana, sebelum secara spontan menoleh cepat ke arah lain demi menghindari tatapan tajam yang menghunus ke arahnya.
Marah. Renata jelas terlihat marah. Sejujurnya Elio sudah menduga akan begini sejak gadis itu menginjak ujung kakinya yang masih berdenyut sampai sekarang. Namun, melihat ekspresinya sekarang malah membuat pemuda tersebut merasa gugup. Dia bukannya takut, hanya saja bingung tentang beberapa hal.
Bagaimana hubungan kerja mereka ke depannya?
Bagaimana cara menjelaskan tentang situasinya saat ini kepada Renata?
Tidak. Bagaimana kalau setelah ini sikap Renata yang semula dingin, berubah lengket setelah tahu Elio sebenarnya putra keluarga kaya?
Menurut penilaian pribadi Elio, Renata merupakan gadis yang cukup peka pada keadaan sekitar meskipun terkadang dia memilih untuk tidak peduli. Dia juga tipe orang yang cepat beradaptasi dengan situasi.
Contohnya tadi, tanpa perlu banyak tanya atau menunjukkan raut kebingungan, Renata langsung berkompromi, ikut bersandiwara di depan sang ibu. Dia gadis cerdik yang mungkin saja akan mengambil kesempatan untuk menggoda Elio seperti beberapa gadis yang pernah dia temui.
Kalau sudah begini, rencana mencari jodoh ala Cinderella milik Elio akan berantakan. Paling buruk, dia mungkin harus mencari pekerjaan lain untuk menjauhi Renata yang berubah. Akan tetapi, bagaimana dengan pertemuan dua minggu lagi di rumahnya? Elio jadi pening sendiri.
"Pikirin nanti aja," gumam lelaki tersebut pelan sambil menggelengkan kepala, guna menepis semua pertanyaan itu dari pikirannya untuk sementara.
Lebih baik Elio mengatakan sesuatu untuk mencairkan suasana terlebih dahulu, sebelum mereka berpisah karena sudah waktunya berganti shift. Entah bagaimana sikapnya Renata nanti, Elio tidak mau meninggalkan kesan buruk dengan meninggalkan masalah tanpa penjelasan apapun.
"Wah, cuaca hari ini cerah banget, ya?" ucap Elio berusaha terdengar santai. Dia menggigit bibir bawah sebentar, lalu kembali beralih menatap Nana dengan senyuman yang dipaksakan. "Sayang banget Mbak Na nggak bisa jalan sore."
Nana menjawab cepat. Suaranya rendah, tetapi terdengar jelas. "Sekarang lagi mendung."
"Eh, iya kah? Padahal tadi keliatannya cerah." Elio menggaruk belakang kepala sambil tertawa kaku. "Kok bisa berubah dalam beberapa detik, ya? Alam memang penuh misteri."
Argh! Gue ngomong apa, anjir?! Batin Elio menjerit di balik topeng wajahnya yang memasang senyum lebar. Saking canggungnya situasi sekitar mereka sekarang, lidahnya bahkan keseleo, sampai-sampai mengutarakan celotehan tak berguna seperti itu. Tenang. Dia harus tenang.
"Aduh, omongan saya nggak jelas banget." Kini Elio sudah bisa meraih ketenangan, sehingga sikap santainya kembali muncul secara alami. "Mohon maaf untuk yang tadi, gimana kalau ...."
"Ha ..." Nana membuang napas, dengan sengaja menyela ucapan Elio hingga pemuda itu merasa waspada. Namun, antisipasi itu malah dipatahkan oleh kalimat Nana selanjutnya. "Aku ganti baju dulu."
Tak ingin membuang waktu kerjanya lebih banyak demi sesuatu yang tidak berguna, Nana pun segera berbalik, melangkah pergi ke ruang ganti dalam toko. Sementara di belakang meja kasir, Elio kembali menghela napas lega. Setidaknya, dia punya waktu beberapa menit untuk berpikir lebih banyak.
Atau tidak? Elio lupa kalau Renata adalah tipe gadis yang gerakannya cepat. Hanya butuh waktu lima menit baginya untuk bersiap. Wajar saja, karena gadis itu hanya mengenakan cushion dan liptint tanpa tambahan blush on dan kawan-kawan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Joyful For Me
FantasíaSebagai jomblo dari lahir sampai usianya dewasa, Nana sangat menghindari hiburan bergenre romantis, karena itu akan memicu rasa iri yang teramat sangat di dalam hatinya. Melihat bagaimana tokoh utama diperlakukan bak ratu oleh pasangan mereka, atau...
