31. Kombo

3.2K 294 46
                                        

Setelah menyelesaikan pembayaran, Nana pergi keluar. Dia menoleh ke sana kemari, kemudian berjalan menuju mobil Kevin yang terparkir di seberang. Akan tetapi, si empunya tidak terlihat di sana. Dave pun menghilang entah ke mana.

"Mereka ke mana, sih?" Nana melirik ke arah motor Dave yang berada tak jauh dari mobil Kevin sambil mengeluarkan ponsel guna menghubungi Kevin. "Aku cuma nyuruh keluar, bukan ngilang," gerutunya sebal sebab panggilannya tidak dijawab.

"Mana bentar lagi masuk jam kerja." Nana mengeluh lagi saat melihat jam di ujung kanan ponsel.

Sekitar lima belas menit lagi, jam kerjanya dimulai. Sebenarnya, Nanap bisa saja datang agak terlambat dengan alasan kuliah, tetapi cara itu akan mengikis kepercayaan Irina jika sampai ketahuan.

Tidak juga melihat batang hidung kedua lelaki yang sempat diserang penyakit gila itu, akhirnya Nana memutuskan untuk pergi ke toserba saja dengan menaiki bus. Saat berjalan menuju halte, telinga Nana secara tidak sengaja menangkap suara pekikan lelaki yang sangat familiar, diikuti oleh umpatan lelaki lain.

Nana mengernyit. Firasatnya buruk. Meski sebelumnya sudah memutuskan untuk tidak peduli, nyatanya kaki gadis itu tidak bisa menahan langkah yang semakin cepat. Nana setengah berlari menuju gang depan, di mana suara itu berasal.

Kepalanya langsung dibuat pening begitu mendapati dua manusia gila yang tadi dicari malah kembali berkelahi. Kali ini bukan hanya dengan mulut, melainkan benar-benar menyerang fisik.

Posisinya, Dave duduk di perut Kevin sambil memberikan pukulan bertubi-tubi ke arah lengan lelaki itu yang menjadi pelindung kepala. Mereka berdua melakukan itu, tanpa memedulikan lirikan orang-orang.

Tidak ada yang menengahi. Kebanyakan pejalan kaki hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan langkah cepat mereka. Mungkin karena tidak mau terlibat sama sekali.

"Sinting lo! Bangsat!" umpat Kevin di sela ringisannya.

"Nggak usah bacot." desis Deva sambil terkekeh. "Gegara kebanyakan bacot, keadaan jadi berbalik, kan?"

"Gimana gue nggak ngebacot?! Muka lo macem musang birahi pas gue pukulin tadi!" balas Kevin saat Dave mengibaskan tangannya, memberikan waktu untuk beristirahat sejenak.

Dave menyugar rambutnya yang lepek oleh keringat ke belakang sembari menyeringai lebar. Rona merah menghiasi pipi yang lebam,  menjalar hingga telinga. "Nggak ada musang seganteng ini."

"Jijik, anjir!" Kevin memaki. "Dasar gay! Jangan nunjukkin muka birahi lo ke gue, bangsat!"

"Gay?" Dave menggertakkan giginya geram. Panggilan semacam itu selalu berhasil memicu emosinya lebih parah hingga kehilangan ketenangan. "Gue normal, babi."

Saat ketenangannya terganggu, fokus Dave menjadi kacau. Hal itu mempengaruhi saraf motoriknya dan memberikan kesempatan bagi Kevin untuk melawan. Lelaki itu segera menangkap tangan Dave yang akan melesatkan tinju, kemudian menariknya.

Saat tubuh Dave agak membungkuk, Kevin langsung menyerang tenggorokan Dave menggunakan tepian tangan hingga pemuda terbatuk dan kehilangan keseimbangan. Tidak ingin memberi waktu bagi lawan untuk membela diri, Kevin segera mendorong tubuh Dave, membalikkan keadaan sehingga kini dialah yang berada di atas.

"Nggak ada orang normal yang malah nafsu pas dipukulin!" Kevin mengepalkan tinju, berniat memukul wajah Dave yang sudah dihiasi lebam akibat perkelahian mereka sejak beberapa saat lalu.

Namun, gerakan terhenti begitu kepalanya ditempeli sesuatu. Lebih tepatnya tangan. Secara spontan, tangan Kevin bergerak mencengkeram pergelangan tangan yang entah milik siapa itu. Kevin baru akan menariknya, lalu berniat memberikan pelajaran pada orang yang telah secara lancang memegang kepalanya saat suara Nana terdengar.

Joyful For MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang