Halo!
Ketemu lagi sama emaknya Nana yang ngaretnya nauzubillah 👋
Gimana kabar kalian? Semoga sehat selalu, ya!
Oke, cukup basa-basinya.
Jangan lupa vote dan komen(。•̀ᴗ-)✧
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam di ujung kiri atas layar ponsel sudah menunjukkan pukul satu pagi. Meskipun begitu, Nana masih belum bisa tidur lantaran harus segera mengirim pesan berisi batasan dalam hubungan barunya dengan Dave.
Nana tidak bisa mengulur waktu lagi. Dia takut kalau tidak segera dikirim, maka pemuda sinting itu bisa saja melakukan sesuatu di luar dugaan. Muncul pagi-pagi di depan pintu rumah misalnya, atau mendadak datang menjemput di kampus.
Entahlah. Pokoknya Nana tidak bisa tidur dengan tenang sebelum melakukan tindak pencegahan. Isi pikiran Dave kadang tidak bisa ditebak seperti wajah cantiknya yang ternyata menyembunyikan kegilaan mutlak.
"Oke, siap!" seru Nana sambil menyunggingkan senyum puas setelah selesai mengetik beberapa poin yang dianggap paling penting. "Hm, ini udah aman belum, ya?"
Nana kembali berpikir. Namun, melihat waktu yang terus berjalan semakin larut, gadis itu akhirnya memutuskan untuk mengirimkan poin-poin yang sudah dia ketik terlebih dahulu. Pada akhir pesan, dia menambahkan; batasan bisa bertambah tergantung situasi.
Usai mengirimkan pesan kepada Dave, Nana segera menghidupkan mode pesawat karena tahu, pemuda itu pasti akan langsung menghubunginya. Entah untuk protes atau membahas hal yang berkaitan dengan batasan mereka.
Benar saja. Keesokan harinya, puluhan pesan masuk begitu Nana mematikan mode pesawat. Kesampingkan pesan grup dan dari kontak lain. Terhitung ada 45 pesan dan 13 panggilan tidak terjawab dari Dave.
"Gila," cibir Nana sambil berdecak takjub karena respon Dave melebihi ekspektasinya. Nana tahu, pemuda itu pasti akan melayangkan protes, tetapi siapa yang menyangka kalau akan sebanyak ini sampai menjadi spam?
Nana menggelengkan kepala tak habis pikir. "Kalo kamu punya waktu, dateng ke kampus sepulang sekolah. Kita bahas sama-sama," ejanya sambil mengetik balasan. "Jangan bertindak di luar batasan. Okay, Honey?"
Emoji cium menjadi penutup pesan balasan itu sebelum Nana membuat sarapan, lalu bersiap pergi ke kampus. Nana berniat memasak salah satu makanan kesukaan Rafa, yaitu ayam kecap dan tumis pok coy untuk membujuk lelaki itu.
Nana juga sudah menyusun kata-kata yang pas agar permintaan maafnya terasa lebih tulus dan alami. Namun, belum juga rencananya terlaksana, Rafa sudah lebih dulu muncul saat Nana membuka pintu kamar.
"Maafin Kakak, ya, Dek," ucapnya lirih sambil memandang lantai. Tak ingin basa-basi dan membuang waktu. "Tadi malem Kakak udah berlebihan, padahal kamu cuma bercanda."
Nana berkedip bingung. Dia tertegun untuk sesaat sebelum bibirnya membentuk lengkungan tipis. Di satu sisi, dia menganggap tingkah labil Rafa itu lucu, tetapi di sisi lain merasa prihatin sebab permintaan maaf yang baru saja lelaki itu utarakan menunjukkan betapa rendah dirinya dia.
Rafa memvalidasi ucapan bercanda Nana semalam, alih-alih menjelaskan alasan kekhwatirannya. Itu tidak sehat. Jika dilanjutkan, Rafa akan menjadi seseorang yang selalu ingin menyenangkan orang lain dengan mengatakan sesuatu yang ingin mereka dengar, dengan mengesampingkan maksud dan perasaannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Joyful For Me
FantasySebagai jomblo dari lahir sampai usianya dewasa, Nana sangat menghindari hiburan bergenre romantis, karena itu akan memicu rasa iri yang teramat sangat di dalam hatinya. Melihat bagaimana tokoh utama diperlakukan bak ratu oleh pasangan mereka, atau...
