Usai menyelesaikan semua ritual penutupan, Nana mengganti seragam kerjanya dengan pakaian santai, lalu berpamitan pada Irina yang masih sibuk menghadap monitor di ruang kerjanya.
"Pulang dulu, Kak," kata Nana sambil menganggukkan kepala sopan pada Irina.
Irina mengangkat pandangan, membalas dengan senyum lebar di bibir meski secara keseluruhan, ekspresinya menunjukkan kelelahan. "Iya, hati-hati."
Nana menutup pintu ruang kerja Irina pelan, lantas berjalan keluar dari toko. Tidak lupa dia merapatkan pintu dorong sebelum melangkah santai menuju halte bus. Di sela perjalanan ke sana, Nana mengeluarkan ponsel guna memeriksa aplikasi WhatsApp seperti biasa.
Ada beberapa pesan masuk. Dari grup, Elis, Marina, Dave, dan yang paling pertama Nana buka, Rafa. Lelaki itu mengatakan kalau dirinya akan datang menjemput setelah selesai mengedit sebuah bab novel, dan meminta sang adik untuk menunggu di dalam toko saja.
Nana ingat malam ini punya janji temu dengan Elio. Jadi, dia langsung memberikan penolakan dengan alasan pergi bersama Elis agar Rafa tidak uring-uringan lagi mengingat kejadian semalam.
Kakak yang mulai menunjukkan sikap protektifnya secara terang-terangan itu, pasti tidak akan senang kalau tahu adiknya pergi bersama lelaki lain malam-malam begini.
"Maaf ya, Kaks," eja Nana sambil mengirim emoticon memelas yang imut agar hati Rafa terbujuk.
Balasan sudah terkirim, hanya saja belum dibaca. Nana terus melangkahkan kaki santai menuju halte sampai pada satu waktu, sebuah mobil mewah berwarna merah marun metalik berhenti di sisinya.
Secara refleks, Nana menoleh ke samping dengan mulut setengah terbuka. Langkahnya pun melambat tanpa sadar untuk sekedar mengagumi kendaraan roda empat itu dengan siulan kecil disertai gumaman pelan.
"Mataku terberkati. Semoga rejeki orang ini nular, Ya Tuhan. Aamiin!"
Seorang wanita berpakaian formal berupa setelan hitam polos yang agak mengkilat keluar dari sana. Wanita berkulit putih, tinggi, dan rapi yang rambutnya dikuncir kuda bak model itu diam sejenak saat beradu tatap dengan Nana. Tatapan datar penuh selidik.
Sadar dirinya ditatap demikian membuat Nana langsung saja mengulas senyum formal supaya tidak terlalu malu. Malu karena ketahuan menatap mobil mewah orang lain. Setelah itu, dia segera mengembalikan atensi ke depan sambil mempercepat langkah.
Baru tiga langkah diambil, sebuah suara feminim yang lugas terdengar dari belakang. "Nona Renata, saya diminta untuk menjemput Anda."
Ayunan kaki Nana terhenti. Secara refleks, kepalanya menoleh ke belakang, menunjukkan ekspresi bingung. "Ya?"
Kedua tangan meremas tali tas selempang, agak waspada ketika wanita berjas hitam berjalan mendekat. Makin dekat, kepala Nana makin mendongak karena tinggi badan mereka yang ternyata berbeda.
Tinggi badan di atas rata-rata perempuan Indonesia dan tatapan datar, tetapi tegas itu membuat Nana merasa cukup terintimidasi. Di saat seperti itu, dis masih sempat melirik pin kecil berbentuk sayap di dada berwarna keemasan yang tersemat di dada kiri wanita itu.
Itu emas asli? Nana bertanya dalam hati.
"Perkenalkan, saya Dennis. Tuan Muda Halimantara meminta saya menjemput Anda karena Beliau memilki urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Mari ikut saya," jelas Dennis sopan. Seulas senyum tipis terpatri di bibir yang berpoles lipstik cokelat merah maroonnya, sambil merentangkan sebelah tangan ke arah mobil.
Tentu saja ajakan itu tidak langsung Nana terima. Meskipun air liurnya hampir menetes melihat mobil mewah itu, tetap saja, dia bukan anak SD yang ikut begitu saja dengan orang asing. Anak SD pun belum tentu sebodoh itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Joyful For Me
FantasySebagai jomblo dari lahir sampai usianya dewasa, Nana sangat menghindari hiburan bergenre romantis, karena itu akan memicu rasa iri yang teramat sangat di dalam hatinya. Melihat bagaimana tokoh utama diperlakukan bak ratu oleh pasangan mereka, atau...
