26. Permainan

3.8K 329 37
                                        

Tindakan kurang ajar yang baru saja Elio lakukan membuat tangan kiri Nana yang bebas secara refleks mengepal, bergerak cepat hampir menghantam rahang lelaki itu andai tidak dihentikan oleh pertanyaan dari seorang pembeli yang mendadak muncul dari salah satu lorong.

"Kak, Downy yang ungu nggak ada, ya?"

Nana menoleh, segera memasang senyum ramah yang sangat dipaksakan selagi kepalan tangannya yang berhenti di udara turun secara perlahan. Gadis itu baru saja akan menjawab saat suara Elio menginterupsi.

"Lagi kosong, Kak," katanya. Kemudian, setelah pembeli tersebut hilang di balik rak, Elio tersenyum miring ke arah Nana sebelum berbisik, "Aku udah ngecek sama ngisi stok. Jadi, yang nggak ada di rak berarti memang kosong."

"Aku udah tau, kok," balas Nana dengan nada tenang tapi penuh tekanan, sambil tetap mempertahankan senyum karirnya. "Semalem juga aku udah ngecek stok."

Sudut-sudut bibir Nana yang dipaksa tersenyum berkedut, menahan segala macam umpatan yang seolah tengah berdesakan ingin keluar. Nana benar-benar ingin mengumpati Elio dan memukul lelaki itu, tetapi tidak bisa dilakukan demi menghindari keributan di depan pembeli.

Bagaimanapun, Nana tetap punya batas toleransi. Dia tahu, selama perilaku buruk Elio belum melewati batas itu, dia akan diam. Namun, di dalam hati, ia mulai menyusun cara untuk membalas perbuatan lelaki itu.

Liat aja. Aku bakal bikin kamu ngerasa jijik juga nanti. Nana membatin jengkel seraya menatap Elio yang melengganggang pergi dengan santai tanpa melepaskan tautan matanya dari Dave. Kedua lelaki berbeda usia itu terus beradu tatap sampai Elio keluar dari toko.

Dari balik meja kasir, Nana yang terus memperhatikan mereka pun menyadari tingkah aneh yang ditunjukkan Dave. Dia bisa merasakan gejolak emosi negatif  menguar, mengelilingi tubuh pemuda yang masih mengenakan seragam SMA itu.

"Kamu mau beli apa, Dave?" tanya Nana setelah menghela napas panjang.

Sementara Dave yang baru saja akan keluar menyusul punggung Elio yang semakin menjauh itu pun berjengit, refleks berhenti. Pemuda itu terkejut, bukan karena suara Nana, tetapi pikirannya yang dipenuhi tindakan anarkis yang siap ia lakukan pada lelaki karena telah berani menyentuh Nana sembarangan.

"Aku kenapa?" Dave bergumam pelan, sangat pelan sampai hanya dia yang dapat mendengar. "Aku marah. Tapi kenapa harus marah?"

"Dave, kamu nggak papa?" Nana bertanya lagi. Bukan karena khawatir, tapi agar pemuda menyebalkan sekaligus menyeramkan itu cepat menyelesaikan urusannya di toko ini. "Mau beli apa? Kalo nggak tau tempatnya biar aku bantu."

Mendengar pertanyaan bernada ramah itu membuat hati panas Dave seketika menghangat. Padahal dia bisa merasakan kalau Nana hanya sedang berusaha profesional. Raut wajah datar berbalut senyum tanpa rasa yang ditampilkan itu, sudah cukup sebagai jawaban.

Meski begitu, Dave tetap senang, dadanya yang selama beberapa hari ini terasa sesak mendadak lega. Aneh sekali. Perasaan ini adalah perasaan yang dulu dia rasakan setiap kali tidak memandangi foto Marina barang beberapa jam saja.

Dave menyentuh dada kirinya sendiri, merasakan debaran jantung bertalu yang sangat menyenangkan, tetapi di saat yang sama juga menyebalkan.

"Nggak boleh. Aku nggak boleh kayak Ayah dulu. Aku nggak boleh jadi laki-laki bajingan kayak dia," gumam Dave sambil menggertakkan giginya geram.

Lelaki bajingan yang tidak setia karena gampang berpindah hati dan menyakiti cinta pertamanya. Dave  tidak ingin menjadi lelaki yang seperti itu.

Dia ingin setia pada perasaannya kepada Marina, cinta pertamanya. Hanya Marina seorang yang berhak Dave rindukan. Bukan Renata atau siapapun.

Joyful For MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang