34. Orang Kaya

4.2K 328 66
                                        

Kekacauan semalam berhasil Nana redam. Setelah menyelesaikan pembicaraannya yang tertunda dengan Dave dan Kevin, gadis itu juga berhasil membujuk sang kakak yang mulutnya maju menggunakan kata-kata manis.

Ah, tidak semudah itu. Selain kata-kata manis,  Rafa yang jiwa manjanya sedang kambuh itu juga meminta dibuatkan nasi goreng seafood. Meskipun lelah, Nana tetap menurutinya agar mulut maju Rafa kembali normal.

Usai memasak, gadis yang kantong matanya semakin jelas tersebut dipaksa makan bersama sambil mendengarkan siraman rohani selama hampir satu jam. Ya, Rafa yang sebelumnya tidak banyak bicara, bisa menghabiskan waktu selama itu saat mengeluarkan uneg-unegnya sampai lupa waktu.

Untung saja. Keesokan harinya, Nana mendapat kabar dari grup jurusan kalau tidak ada kuliah pagi. Jadi, dia bisa bangun lebih siang, serta beristirahat lebih banyak. Rafa pun yang merasa bersalah karena menceramahi Nana sampai hampir tengah malam memesankan makanan secara daring.

"Indahnya dunia ...." Nana tersenyum. Kedua tangannya terbuka, menerima embusan angin   yang menerpa. Matanya terpejam, sengaja mengabaikan beberapa pasang mata milik mahasiswa yang berlalu-lalang dia sekitar. "Semoga tiada lagi masalah baru, Ya Tuhan."

"Lo ngapain, Na?" Suara seorang gadis yang amat familiar menyapa pendengaran Nana.

Nana membuka mata, lantas menoleh ke si pemilik suara. Bibirnya masih membentuk lengkungan manis. "Cuma bersyukur akan keindahan dunia, Elis!"

Kening Elis berkerut dalam. Matanya berkedip cepat, menunjukkan rasa jijik. "Jijay, anjay."

"Jangan gitu, Lis," timpal Marina yang langsung memeluk lengan Rena. Seperti Rafa,  tokoh utama perempuan yang satu ini juga makin manja dan lengket kepada Nana setelah kejadian dengan kakak tingkat tempo hari. "Yang dilakuin Rena nggak salah, kok."

Elis mencebik sambil merebut Marina ke dalam pelukannya. "Yang salah bukan tingkahnya, tapi orangnya. Kalo lo yang kayak gitu nggak aneh buat gue."

"Diskriminasi sangat amat dilarang, wahai anak muda," ucap Nana sembari menggelengkan kepala dan menggerakkan jari telunjuk ke kiri dan kanan. "Alay itu adalah hak seluruh umat manusia."

"Ada aja jawaban lo, Jamilah!" Elis menarik rambut samping Nana sampai di empunya meringis karena kesakitan. Bukannya merasa bersalah, sang pelaku malah tertawa.

"Rena."

Ketiga gadis yang sedang asyik bercengkerama itu secara serentak menoleh ke arah suara sapaan jantan yang baru saja terdengar. Sedangkan yang baru menyapa langsung menggaruk tengkuk. Bola matanya spontan bergerak menghindari tatapan yang mendadak terarah padanya.

"Oh, Kevin. Kenapa?"

Kini atensi Elis dan Marina beralih cepat pada Nana yang baru saja menjawab. Ekspresi mereka berdua sangat mirip. Dahi berkerut, dan mulut setengah terbuka. Heran dan kaget. Lebih kaget lagi ketika Nana tersenyum ramah kepada Kevin.

Wajar saja mereka begitu, mengingat tingkah menyebalkan Kevin pada Marina ketika mereka pertama kali bertemu. Nana ingat betul, betapa menggelikannya tingkah lelaki tersebut dan betapa menyebalkan wajah songongnya saat itu.

"G-gue mau balikin ini. Kemaren ketinggalan di mobil, tapi baru inget." Dengan gerakan kaku dan intonasi suara bak robot, Kevin menyodorkan gantungan kunci kulit warna merah muda dengan aksen oranye berbentuk kuda yang dia pinta dari kakak lelakinya tadi pagi untuk memenuhi instruksi Nana semalam.

Instruksinya berbunyi, "Besok, bawa gantungan kunci yang menurut kamu lucu dan sesuai buat hadiah spesial buat orang spesial. Kalo bisa, jangan yang baru. Biar keliatan lebih natural."

Joyful For MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang