38. Trauma

954 119 38
                                        

Suara maskulin rendah yang anehnya terdengar jelas menginterupsi tindakan Nana. Gadis itu spontan menoleh untuk mendapati Dave berdiri di tengah lorong tak jauh darinya, dengan aura suram yang memberi tekanan pada udara di sekitar mereka.

Nana seolah terpaku di tempat. Tangan masih menggantung di depan gagang pintu. Tubuhnya kaku, dingin seperti maling yang tertangkap basah akan mencuri. "A-aku ..."

"Itu gudang," sela Dave cepat, tak butuh jawaban dari pertanyaannya sendiri barusan. Ekspresi wajah yang gelap memudar. Tatapan masih dingin, tetapi senyum terulas di bibirnya. "Di sana ada bangkai tikus yang baru aku bunuh semalam. Cuma belum sempet buang aja. Kalau dibuka, baunya bakal busuk banget. Jadi, jangan ya, Kak."

"Ah, iya. Maaf," jawab Nana gugup, sembari menarik tangan yang langsung bersembunyi di balik punggungnya sendiri. Ia berdiri tegak, menghadap Dave, berusaha kembali menguasai diri. "Ada suara dari dalam sini. Kupikir apa, ternyata tikus. Kayaknya masih ada yang belum mati, deh."

Dave memiringkan kepala, menatap pintu di balik Nana sejenak. Sekilas, ada kilat aneh di matanya yang sulit dijelaskan. Hanya sekilas, sebelum dibungkus oleh senyum lembut yang ganjil. "Iya, nanti aku periksa lagi. Makasih udah ngasih tau."

Hening sejenak. Pupil mata Nana berkeliaran melihat sekitar; dinding, pintu, pagar tangga, dan apapun asal bukan wajah Dave yang sekarang menunjukkan keramahan palsu seperti biasa. Ya, seperti biasa.

Pemuda itu memang sering memakai topeng guna menyembunyikan jati diri yang sebenarnya agak sakit. Nana tahu itu, karena sudah sering menghadapi Dave yang begitu.

Akan tetapi, kali ini terasa berbeda. Di balik topeng keramahannya, seakan menyembunyikan ketakutan besar yang bisa saja memicu suatu tindakan nekat jika ditekan lebih jauh. Insting manusia yang masih ingin bertahan hidup pasti bisa merasakannya. Pura-pura tidak tahu adalah pilihan terbaik.

"Kamu ..." Nana mengulum bibir bawah. Matanya berkedip cepat, perlahan mengembalikan atensi pada Dave.

Saat itulah, dia baru sadar kalau pemuda itu memegang garpu di tangan kirinya. Bukan sekedar memegang, tetapi menggenggam erat sampai urat-urat bercabang tampak menonjol di punggung tangan.

Cepat-cepat Nana mengalihkan tatapan dari sana sebelum disadari. Senyum kaku dipaksakan muncul di bibirnya, selagi melanjutkan kalimat yang tertunda. " ... udah siap makan?"

"Belum," jawab Dave seraya berjalan mendekat ke arah Nana. Tangannya terulur, meraih lengan gadis tersebut. "Aku anter pulang sekarang ya, Kak."

Dari menjawab pertanyaan, dilanjutkan tawaran untuk mengantar pulang yang terasa tiba-tiba. Jelas menunjukan memang ada sesuatu yang disembunyikan di balik pintu itu, selain bangkai tikus.

Namun, Nana tidak mau mencari tahu lebih jauh meski penasaran. Dia masih sayang nyawa. Memang agak berlebihan untuk berpikir Dave akan membunuhnya jika rahasia di balik pintu terbongkar, tetapi siapa yang tahu?

Pemicu kemarahan setiap orang berbeda. Bahkan ada yang melakukan tindak kejahatan karena debat politik di tongkrongan. Jadi, tidak ada yang tidak mungkin.

Lebih baik Nana tahu batasan dalam melanggar privasi Dave. Ada hal-hal yang bisa dia permainkan, sementara sebagian lagi tidak. Bagaimana pun pemuda itu aslinya memang aneh, hanya saja tertahan oleh rasa ketergantungan pada sosok Renata.

"Kak?" Dave memanggil, menarik Nana dari lamunan singkat. Genggaman di lengan bawah gadis itu menguat. Sebuah ancaman halus agar perintahnya dituruti. "Ayo, aku anter pulang."

Sepanjang perjalanan menuju gang perumahan Nana hanya diisi oleh keterdiaman. Dave bungkam, padahal biasanya banyak bicara meskipun tidak mendapat respon yang setara.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 03 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Joyful For MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang