30. Dave dan Kevin

2.7K 250 14
                                        

Warning!

Episode ini mengandung kata umpatan yang lebih frontal dari biasanya.

Harap pembaca sekalian lebih bijak dalam menyikapinya
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Nana termanggu. Mulutnya setengah terbuka, bergeming begitu mendapati kehadiran Dave yang amat mendadak di samping mejanya dan Kevin. Terlebih saat pemuda cantik itu berceloteh, mengungkit hubungan dan batasan mereka yang seharusnya menjadi rahasia.

"Padahal aku sampe nggak bisa tidur mikirin itu semua, tapi kamu malah terkesan nyepelein. Bukan cuma nyuekin chat sama telponku, sekarang malah ngingkarin janji." Dave terus mengomel tanpa henti, tak memperdulikan perhatian dari beberapa pasang mata yang kini fokus pada mereka. "Apa di matamu aku cuma mainan, Kak? Permohonanku tadi malem kayak angin lalu, ya?"

Merasa posisinya akan semakin berbahaya jika Dave tidak juga diam, akhirnya Nana mengangkat tangan, mengisyaratkan pemuda itu untuk berhenti bicara. Namun, entah karena emosi yang begitu menggebu atau sengaja ingin menciptakan drama baru, Dave terus melanjutkan omelannya.

"Semaleman aku chat puluhan kali, nelpon belasan kali, tapi kamu cuma bales sekali paginya. Apa aku marah? Ya, marah. Aku kesel." Kini suaranya bahkan terdengar agak bergetar. "Walaupun kesel, aku nahan diri dan milih diem karena takut hubungan yang baru dimulai ini bakal rusak. Aku masih berusaha ngeyakinin diri kalo kamu perlu waktu buat nerima aku lagi. Tapi kayaknya aku terlalu mikir positif."

Deretan kalimat dramatis yang keluar dari mulut Dave itu mulai membuat Nana pusing. Suaranya yang merdu perlahan berubah menjadi kecil, melengking, seperti video yang dipercepat tiga kali lipat sampai penyebutannya tidak jelas.

Singkatnya, seperti suara kartun Chipmunk versi tidak imut dan mengganggu. Saking mengganggunya, sampai membuat Nana menggosok telinganya yang terasa gatal sambil mendesis jengkel.

Sementara itu, Kevin yang sedari tadi diam dalam kebingungan pun angkat bicara kala menyadari raut wajah Nana yang jelas sekali merasa terganggu. "Diem dulu."

"Kak, tolong liat aku. Apalagi yang harus aku lakuin biar kamu nggak cuek lagi? Aku udah royal, perhatian, tapi ..."

"Woy, bocah! Gue bilang diem dulu, anjing!" bentak Kevin sambil menggebrak meja hingga Nana yang berada di hadapan pun ikut berjengit kaget, tubuhnya membeku karena tidak menyangka Kevin malah ikut emosi.

Lelaki itu lantas berdiri, memelototi pemuda cantik yang sedari tadi terus mengoceh. "Gue nggak tau lo siapa dan punya masalah apa sama dia." Kevin menunjuk Nana. "Tapi nggak di sini juga ngocehnya, tolol! Lo buta? Liat dia udah keliatan nggak nyaman karena diliatin orang!"

Atensi Dave yang semula berfokus pada Nana  seketika beralih ke arah Kevin. Dia tidak tampak gentar, terbukti dari gestur tubuhnya yang tidak menunjukkan ketakutan bahkan keterkejutan sedikitpun. Bahkan mata sendunya berubah memicing tajam.

"Lo yang diem, anjing. Gue lagi ngomong sama manusia, bukan hewan. Jadi, jangan menggonggong dulu."

Pandangan Nana langsung berpaling pada Dave. Belum juga sembuh dari keterkejutan akibat gebrakan meja Kevin, gadis itu kalua dibuat semakin kaget oleh jawaban Dave. Tidak seperti Kevin yang menggunakan nada tinggi, intonasi suara Dave lebih rendah dan dalam. Namun, bukan itu yang mengagetkan.

Dave yang biasanya sangat softspoken dan hampir tidak pernah mengumpat, bahkan sampai menggunakan aku-kamu saat berbicara dengan orang lain. Entah itu perempuan atau laki-laki. Kini menggunakan sapaan lo-gue, juga membalikkan umpatan Kevin tanpa ragu. Belum lagi, dia melakukan itu di depan banyak orang.

Joyful For MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang