"Ih, kok dandanan kamu gitu, sih? Nggak imut!"
Nana berseru dengan suara melengking. Pipinya menggembung sok sebal, sementara kedua tangan berkacak pinggang bak ibu-ibu komplek yang sedang mengomeli anaknya. Tidak ada tambahan 'Nya' di akhir kalimat lagi, karena dia sendiri akhirnya menyadari itu terlalu menggelikan.
Dava yang baru saja muncul di ambang pintu kamar setelah menghabiskan waktu lima sekitar belas menit untuk bersiap pun terdiam, berkedip bingung karena merasa sudah cukup rapi dan tampan. Justru bando telinga kucing di kepala yang menjadi pengganggu.
"Apa yang salah, Kak?" tanya Dave pada akhirnya. Jujur saja, dia agak takut kalau Nana akan mengusulkan hal aneh lagi. "Aku udah cukup rapi, kok. Nggak malu-maluin."
"Ini bukan tentang rapi atau nggak malu-maluin, zeyeng. Ini tentang keimutan yang nggak keliatan di outfit kamu," ucap Nana seraya menghampiri Dave. Dia menarik lengan lelaki itu, memaksanya masuk kembali ke dalam kamar.
Aroma lemon bercampur mawar yang menguar di ruangan itu seketika menyambut penciuman Nana. Sebelum otak mampu berpikir, tubuhnya lebih dulu bereaksi. Dia menghirup dalam-dalam wangi yang menenangkan tersebut sambil bergumam, "Hm ... wanginya."
"Tentu. Ini wangi kesukaan kamu. Aku ganti biar kamu betah di sini," sahut Dave cepat seraya melingkarkan satu tangan di bahu Nana dari belakang. Dagunya bertengger di bahu gadis itu. "Nanti sehabis belanja bahan makanan sama masak, gimana kalo cuddle aja sambil nonton? Udah lama kita nggak gitu. Biasanya kita cuddle, kissing, terus bobo siang bareng."
Bukan kali ini saja Dave menyebutkan perbuatan terlampau mesra mereka dulu, tetapi tetap saja, hal itu membuat kening Nana berkerut geli.
Ringan sekali bocah 17 tahun ini berkata demikian seolah itu sesuatu yang normal untuk dilakukan oleh sepasang lelaki dan perempuan yang jelas tidak berhubungan romantis secara resmi.
Yah, Nana tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Dave, karena Renata juga berperan penting dalam mencemari pikiran pemuda yang masih duduk di bangku SMA tersebut. Ingatlah, pemilik tubuh asli ini pernah memberikan novel erotis untuk Dave. Dia juga yang memperkenalkan ciuman Prancis dan hal-hal mesum lainnya.
Dasar Renata sangean. Laknat sekali dia sampai membuat bocah berwajah cantik nan polos macam Dave menjadi mesum begini.
Embusan napas berat lolos dari bibir Nana, diikuti oleh gerakannya yang melepaskan pelukan Dave dengan tenang. "Nggak ada cuddle dan kawan-kawan untuk hari ini. Kita bakal belanja, masak, makan sambil nonton, terus main game kalau masih ada waktu."
"Tapi, Kak ...." Dave ingin protes.
Namun, Nana segera menyela sambil berjalan ke lemari baju Dave. "Nggak ada tapi, Beb. Kalo bukan aku yang minta, ya nggak boleh."
Gadis itu diam sejenak, lalu menggeser pintu yang memiliki cermin besar itu. Seketika, dia terdiam kagum. Ini bukan lemari biasa, melainkan walk in closet. Astaga, bocah SMA kaya ini membuatnya iri bukan main.
Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Nana masuk ke dalam. Dia sengaja bersikap seenaknya, melanggar privasi Dave agar pemuda itu tidak nyaman.
Bau harum dari pewangi pakaian premium semerbak menyebar. Puluhan helai pakaian tergantung rapi mengikuti jenisnya dan warna. Di tengah ruangan, aksesoris tambahan seperti, jam tangan, gelang, dan kawan-kawan di tata sedemikian rupa.
Lalu apa yang akan dia lakukan sekarang?
Senyum miring Nana tertarik. Dia mengambil beberapa helai pakaian secara acak. Celana, kaos, kemeja hawaii, kemeja kotak, hoodie, dan lainnya. Semua pakaian itu dia bawa keluar, dilempar sembarangan ke kasur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Joyful For Me
FantasiSebagai jomblo dari lahir sampai usianya dewasa, Nana sangat menghindari hiburan bergenre romantis, karena itu akan memicu rasa iri yang teramat sangat di dalam hatinya. Melihat bagaimana tokoh utama diperlakukan bak ratu oleh pasangan mereka, atau...
