Malam telah tiba, namun kehangatan masih terasa di rumah Mouren. Zee sedang duduk di sofa, asyik bermain dengan handphonenya, ditemani oleh Gracia yang duduk di sebelahnya sambil membaca laporan dari laptop.
"Mama gak boleh kerja ya." cicit Zee tiba-tiba.
Gracia sontak mengalihkan pandangannya. "Iya enggak kok, ini mama cuma cek koordinasi di rumah sakit."
"Pokoknya aku nggak mau di tinggal, titik."
"Iya sayang iyaa, kan udah mama bilang... mama ambil cuti,"
Zee menyengir senang sembari gelendotan di lengan sang mama. "Hehehe, makasih mama."
"He'em."
"Zeevara...!" tiba-tiba, suara riang terdengar dari arah pintu depan.
Zee langsung menoleh, terkejut sekaligus excited mendengar suara itu. Di ambang pintu ada Shani, wanita itu berdiri dengan senyum lebar.
"Onty Cani!" seru Zee, ia segera bangkit dari sofa, melangkah cepat menghampiri Shani dengan wajah berbinar.
"Halo sayangku... eh, kaget nggak? Onty tiba-tiba muncul." ucap Shani sambil tertawa kecil, membalas pelukan singkat dari Zee.
"Kaget iya, tapi seneng juga. Kok onty ke sini malam-malam? Ada acara apa?"
"Ya cuma mau nengokin kamu aja, udah beberapa hari juga gak ketemu. Onty udah kangen soalnya, mumpung ada waktu jadinya kesini deh," jawab Shani santai.
Gracia, yang terus memperhatikan, tersenyum hangat melihat interaksi Shani dan putrinya itu. Ia memutuskan untuk tidak menyela, hanya mengamati dari tempatnya. Saat Zee dan Shani berjalan kembali ke sofa, Gracia sedikit menyingkir untuk memberi ruang.
"Mama tau onty Cani bakal kesini?" tanya Zee sambil menoleh ke Gracia, kini ia duduk ditengah-tengah.
Gracia mengangguk sambil tersenyum. "Tadi sore onty kamu sempat kasih kabar. Tapi Mama sengaja nggak bilang biar surprise."
"Oh... pantesan."
Shani menatap Zee lekat-lekat. "Ponakan kesayangan aku ini udah ceria amat, gimana sekarang? Udah sehat kan?" tanyanya lembut.
Zee mengangguk cepat. "Udah. Tadi sore sempet pusing dikit sih. Tapi udah mendingan kok, Mama yang obatin," jawabnya sambil melirik Gracia
"Wah, pinter banget ya mama kamu ngurusin anak gemes ini." goda Shani.
"Ya harus dong, anak sendiri masa nggak diurus," Gracia yang menyahut.
Shani tertawa kecil sambil menyodorkan tote bag yang di bawanya pada Zee. "Nih, ada sesuatu buat kamu."
Zee langsung menyambutnya dengan antusias bahkan membuka tote bag itu dengan semangat, tapi saat melihat isinya hanya beberapa toples nastar, wajahnya langsung berubah. Semangat meletup-letup nya meredup, tatapannya polos menatap toples-toples itu.
Sementara Shani terkekeh kecil, mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Zee. "Maaf ya bukan mainan, mama kamu nggak izinin soalnya." bisik Shani sambil terkekeh, tak peduli walaupun Gracia mendengarkannya.
Zee mendongak, menatap mamanya yang tetap duduk santai. Gracia terlihat tenang, seperti sudah menduga reaksi anaknya. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya, hanya senyum kecil yang penuh makna.
Sebelum datang, Gracia memang sudah mengingatkan Shani untuk tidak membawa apapun setiap kali berkunjung, apalagi mainan. Meski Shani sering menunjukkan kasih sayang pada Zee dengan hadiah-hadiah lucu, Gracia merasa itu tidak perlu. Ia ingin Zee belajar bahwa perhatian dan kasih sayang tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk benda. Jika ingin ke rumah, cukup datang tanpa membawa apa-apa, agar Zee juga tidak terbiasa mengharapkan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved S2
RandomCinta dan kasih sayang yang di miliki oleh Gracia hanya boleh di berikan untuk Zeevara.
