13

33.9K 1.6K 149
                                        

SELAMAT MEMBACA~

-

-

-

"Sial! Sial! Sial! " Tian berlari di lorong rumah sakit setelah mendengar kabar kalau Eza mengalami kecelakaan.

"Bagaimana ?" Tanya Tian, nafasnya tersengal-sengal

Bram berdiri, dia menghampiri Tian anaknya sendiri.
Tangan Bram naik lantas menampar anaknya dengan keras hingga bunyinya begitu nyaring di telinga.

Suster yang sedang berlalu lalang terkejut akan aksi itu.

"KEMANA SAJA KAMU TIAN ?"

"KENAPA GAK BISA JAGA EZA? KAMU DULU BERJANJI UNTUK MENJAGA DIA KAN ?"  suara Bram meninggi, dia menyalahkan anaknya sendiri atas apa yang terjadi kepada Eza, pemuda yang begitu di sayangi Bram.

"Sayang, sudah jangan memarahi dia. " Miru mencoba untuk menenangkan suaminya itu.

"Eza di dalem sedang mempertaruhkan nyawanya Tian, ibu Eza sampai pingsan mendengar kondisi anaknya"

Vania begitu syok dia sekarang di rawat di rumah sakit itu.

Gio dan Eza mengalami kecelakaan yang cukup parah, supir bus tersebut dan beberapa orang meninggal di tempat yang bisa di selamatkan hanya mereka berdua.

Sekarang mereka masih di berada di ruang operasi.

Teguh ayah Eza datang dengan nafas yang memburu, "bagaimana ?"

Bram menjelaskan apa yang terjadi, teguh terlihat sedih, dia khawatir akan keselamatan anak semata wayangnya.

"Biar kami yang menunggu Eza, tolong kamu tenangin istrimu yang ada di kamar 02. "

Setelah mendengar itu teguh mengiyakan, dia mencari istrinya, yang katanya berada di kamar no2.

Tian hanya diam, duduk menunggu seorang dokter keluar dari ruangan itu.

Dia berharap Eza baik-baik saja, dia menyesal pernah menampar Eza.

Gala juga datang, dia menghawatirkan Gio.

Selama operasi berlanjut tidak seorang pun yang berbicara.

Teguh sudah ikut bergabung, setelah bergantian menjaga istirnya itu dengan Miru ibu Tian.

Dia juga merasa gelisah, takut dan khawatir.

Ini sudah 5 jam berlalu, akhirnya lampu yang tadinya merah berganti menjadi hijau yang menandakan operasi selesai.

Seorang dokter keluar, Bram dan teguh begitu pula dengan Gala menghampiri dokter itu mereka menanyakan kondisi Eza dan juga gio.

"Operasinya berhasil. Tapi kondisinya kritis. Benturan di kepalanya sangat keras mereka mengalami pendarahan otak dan kita sudah melakukan semaksimal mungkin untuk menolong nya. Saya selalu berdoa untuk kesembuhan pasien."kata dokter itu.

"Makasi dok" jawab teguh. 

Tian terdiam mendengar itu, dia hancur, dia sedih dan sangat terpukul.

Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi dengan Eza.

Teguh menjenguk anaknya, sedangkan gala menjenguk gio.

Tian dan Bram menunggu di luar ruangan.

Sosok perempuan datang menghampiri Tian.
Dia Felly

"Gimana Tian ?" Tanya Felly

Tian tidak menjawab,

Felly duduk di sebelah Tian duduk, Bram juga diam tidak menyapa Felly meski Felly tersenyum ke arahnya.

Tian My Boyfriend Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang