SELAMAT MEMBACA ~
_
_
_
"Seharusnya kamu yang mati, bukan anak saya!"
Femi terus memakai Eza tanpa berhenti. Menyalahkan Eza dan sering kali mencaci maki Eza.
Eza mulai geram dengan ocehan Nenek tua yang ada di hadapannya. Ia mengepalkan tangannya mencoba untuk menahan amarahnya. Tapi, mengingat kelakuan Femi itu membuat Eza murka.
"Benar," ucap Eza kemudian membuat Femi diam sesaat dan menghapus pelan-pelan air matanya.
"Seharusnya yang mati kalian berdua! Kenapa Nenek gak sekalian nyusul, temani Felly ke alam baka?"
Pertanyaan yang Eza lontarkan berhasil membuat Femi kembali murka. Nenek? Sejak kapan wanita cantik, muda seperti Femi di sebut nenek?
"Kamu!" Bentak Femi berteriak sehingga orang-orang yang kebetulan lewat sampai menoleh di buatnya.
Sekali lagi Femi kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dan ia hendak menampar Eza kembali. Tapi, hal itu gak akan terjadi kedua kalinya karena Eza bertekat akan memukul Femi tidak peduli kalau dia orang tua.
"Apa yang mau anda lakukan ?" Suara datar nan dingin menghentikan aksi Femi. Ia menoleh dan melihat Tian berdiri di belakangnya. Dengan pandangan yang mengerikan.
"Ciihh .. kenapa datangnya cepet sih!" Gumam Eza merasa terganggu karena kedatangan Tian.
Rencananya untuk memukul nenek tua ini pasti gagal total. Karena Tian gak akan membiarkan Eza melakukan hal yang melelahkan seperti itu.
Femi menurunkan kembali tangannya, Dia memelas, menangis tersedu-sedu, "Felly Tian, Felly meninggal. " Katanya lagi
"Drama queen" celetuk Eza memutar bola matanya malas.
"Oh, " Ujar Tian tanpa merasa iba ataupun kasian tentang berita itu, Ekspresi nya datar.
Mendengar jawaban Tian, Femi menyimpulkan kalau Tian benar-benar tidak memperdulikan tentang hidup anaknya.
Dia menyesali satu hal, kenapa bukan Tian yang di bunuh ?
Kenapa putrinya begitu mencintai laki-laki yang bahkan tidak pernah meliriknya sedikit pun?
Kenapa hidup putrinya seperti hidup dia dulu waktu masih remaja?
Tian tidak jauh berbeda dari Bram, lelaki yang berani menolak Femi dan memilih wanita miskin seperti Miru
Awal mula mereka bertemu dulu, saat kedua anaknya masih kecil, Femi sedikit kaget melihat kondisi Bram yang terlihat kesusahan, Ia kasian karena lelaki yang sudah menolaknya mengalami ekonomi krisis hingga tinggal di rumah kontrakan.
Di situ, Femi merasa kalau dia menikahi Satria adalah sesuatu hal yang bagus.
sedangkan Bram berbeda, sedikitpun Bram tidak pernah mengingat Femi, wanita yang di tolaknya dulu karena itu Bram bersikap biasa saja.
Namun, setelah mengetahui semuanya, setelah mengetahui betapa kaya rayanya seorang Bram membuat Femi kembali menyesal dan marah ke keluarga Bram khususnya Miru.
Sekarang rasa benci dan iri hatinya itu semakin tumbuh, tumbuh hingga menjalar ke seluruh tubuhnya bahkan sampai meluap-luap.
"Saya bersumpah, sebagai seorang ibu, yang kehilangan anaknya. Semoga kamu! Kamu akan merasakan apa yang saya rasakan saat ini!" Ucap Femi sambil menunjuk Eza dan bergantian menatap Eza dengan Tian.
"Udah nek, sebelum bersumpah, ingat karma! " Kata Eza Ia bosan lantas pergi mencari kedua orang tuannya.
Tian menatap kepergian Eza, Ia kemudian menatap Femi. Tian mendekat ia berbisik ke telinga Femi dengan suara yang halus namun menakutkan.
"Aku tidak akan pernah memaafkan Anda yang sudah berani menampar Eza."
"Ikut menyusul Felly atau, merelakan kedua tangan anda?" Ujar Tian tersenyum menyeringai
Ucapan yang keluar dari bibir Tian bukan ancaman tapi peringatan kalau hidup Femi tidak bakal lama lagi.
Setelah berkata demikian, Tian pergi meninggalkan Femi, menyusul Eza.
"Awas aja kalian. Sialan!!" Teriak Femi penuh frustasi seperti orang gila. Bahkan orang-orang di sana menganggap Femi gila karena kehilangan anaknya.
"Baik Tan, terimakasih, udah mau jaga kedua orang tuaku " kata Eza yang di dengar oleh Tian.
Miru serta Bram pergi dari rumah sakit, Pergi menuju rumah untuk sekedar mandi dan istirahat. Sekarang yang berjaga adalah Eza dan juga Tian.
"Jaga Eza " bisik Miru kepada anaknya saat mereka berpapasan.
"Hmm" Tian hanya berdehem.
Setelah kepergian Miru. Tian duduk di sebelah Eza duduk
Tian melihat pipi Eza yang merah. Di tariknya dahu Eza dengan pelan oleh Tian.
"Coba lihat " kata Tian matanya fokus menatap pipi Eza.
"Sakit?" Tian bertanya sambil menatap kedua mata Eza. Eza menjawab dengan bahasa tubuh. Ia menggeleng.
"Gue kompres," Tian bangkit dan mencari handuk kecil di laci, ia juga mengambil es batu yang kebetulan ada di lemari es yang ada di ruangan itu.
"Dingin .. " kata Eza saat Tian mulai mengompres pipinya yang memerah.
"Mau Gue cium biar sembuh?" Tanya Tian mencoba untuk menggoda sang empu. Tapi tanggapan Eza ke Tian biasa saja. Bagian Eza menekuk kedua alisnya dan menatap Tian dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan.
"Lo gak sakit kan ?" Tanya Eza, takutnya nanti Tian kena penyakit langka yang membuat otaknya bermasalah.
"Lo belum tau ciuman Gue, membawa kehidupan yang baru " Tian kembali menyair
"Cukup! Jangan di teruskan Gue bisa sesak nafas dengernya. " Ejek Eza.
Meski begitu Tian tidak marah, Ia tertawa sambil menepuk-nepuk kepala Eza dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Di sini Tian sangat bersyukur kalau Eza berada di pelukannya sekarang. Bersyukur kalau Eza tetap ada di sisinya.
"Udah, Lo mau rambut gue berantakan, Acak-acakan kek orang gak ke urus, ya ?"
"Biar gak ada yang suka lo,." Kata Tian terus Saja mengacak rambut Eza.
"Sialan lo." Eza bangkit dan mulai membalas prilaku Tian. Ia juga mengacak rambut Tian.
Suara tawa memenuhi ruangan kamar kedua orang tua Eza.
***
Berita duka tersebar begitu cepat di sekolah yang Eza. Semua murid-murid tau kalau Felly sudah meninggal dunia dan hari ini, Felly akan di kuburkan.
Teman-teman Felly dulu, ikut melayat. Walaupun Felly udah tidak sekolah di sana lagi, masih banyak temannya yang berbondong-bondong melayat ke rumah Felly.
Fitri juga ikut bergabung, walaupun sejujurnya dari lama Ia tidak pernah bersama Felly semenjak Felly sakit.
Tapi kalau masalah melayat Fitri tidak boleh tidak ikut. Ia juga mau melihat Felly untuk terakhir kalinya.
Setelah jam sekolah selesai semua teman-teman Felly pergi kerumah Felly.
Eza dan Tian juga ikut di kawal oleh satu anak buah Bram yang di percayakan untuk menjaga kedua putranya.
"Baik-baik Lo di sana fell, bukan maksud gue ninggalin Lo, hanya saja gue gak suka temenan sama orang miskin, " gumam Fitri menatap wajah Felly yang kaku.
Suara tangis tak berhenti, Femi terus Saja menangis hingga Felly selesai di kuburkan.
Satria juga mendampingi istrinya yang sedang terpuruk. Satria juga ikut menangis.
"Kita pulang, " ajak Tian
"Huum" jawab Eza.
Tian menggandeng tangan Eza dan pergi dari tempat peristirahatan terakhir Felly
"Selamat jalan Felly, beristirahatlah dengan damai di sana. "
_
_
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tian My Boyfriend
General Fiction"Emang ada temenan, tapi mandi bareng ?" "...."
