34

17.9K 805 64
                                        

SELAMAT MEMBACA~

_

_

_




"Zaa ... Gue harus apa biar Lo mau maafin Gue ?"

"Loncat dari atas gedung!"

***

"Dia gak sungguh-sungguh kan ? "

"Dia gak mungkin mau nurutin ucapan Gue kan ?" Gumam Eza gelisah karena Tian yang tumben tidak datang.

Kekhawatiran Eza semakin menjadi-jadi, saat teleponnya gak di angkat oleh Tian.
Dia berlari dengan terburu-buru menuju gedung rumah sakit.

"Gak! Gak! Gak! Lo gak boleh lakuin itu. " Eza terus bergumam sambil berlari.

Ia menaiki tangga katanya biar lebih cepet. Di lift rumah sakit terlalu banyak orang.

Brak!!

Pintu di buka dengan kasar. Sekarang Eza sudah berada di atas gedung rumah sakit.

"Tian ?" Panggil Eza dengan suara lantang, tidak henti menoleh kanan, kiri mencari keberadaan Tian.
Sampai saat matanya melihat seorang laki-laki yang sangat di kenali oleh Eza sedang duduk di tepi gedung menatap kosong ke arah depan.

"Tiaaan!!" Teriak Eza hingga Dia menoleh.

"Gue tau Zaa ,, Gue akan lakuin itu sekarang, setelah itu, Tolong maafin Gue ya. Biar Gue tenang di sana. Gue titip  kedua orang tua Gue."

"Zaa ... Gue bener-bener sayang Lo. Sedikitpun gak bermaksud bikin Lo kecewa sama Gue. Gue sayang Lo za .. "  Tian berdiri menghadap Eza yang jaraknya tidak terlalu jauh.

"Selamat tinggal Za— ... "

"Tunggu!" Eza memotong ucapan Tian.

"Lo mau nurutin semua kemauan Gue kan ?"

"Hmm .. karena itu Gue berdiri di sini dan siap mati. Asal Lo mau maafin Gue. " Tian tersenyum, senyumnya begitu tulus.

Eza menghapus air matanya yang keluar tanpa di suruh, Dia memang jahat sudah mengeluarkan kata-kata yang tak pantas ke pada Tian yang ternyata begitu menyukainya.

"Turun!" Titah Eza.

"Hmm, Lo bilang apa Za ?"

"LO TULI ?"

"GUE SURUH LO TURUN! CARI GUE KESINI. PELUK GUE! JANGAN PERNAH TINGGALIN GUE!" Eza berteriak sangat keras hingga serak.

"KALAU SAMPAI LO LONCAT, GUE GAK AKAN PERNAH MAAFIN LO. GAK AKAN PERNAH!"

"Bukankah Lo yang minta Gue buat Loncat Za ?"

Eza menatap Tian yang masih berdiri di tepi gedung dan siap untuk terjun bebas kebawah.

"Gue gak bersungguh-sungguh dengan ucapan Gue," katanya pilu sedikit terselip penyesalan di dalamnya.

"Gue pengecut, Gue suka lari dari masalah Gue sendiri.  Gue takut kalau Gue bakal kehilangan keluarga Gue. Hanya mereka yang Gue punya. Gue gak nyalahin Lo. Gue nyalahin diri Gue sendiri yang terlalu pengecut ini. "

"Lo mau nurutin Gue kan ? Turun! Cari Gue di sini, dan peluk Gue! " Ujar Eza menunduk.

Detik kemudian Tian berlari dan memeluk tubuh Eza yang sedang terisak.
"Ada Gue di sini, Gue salalu sama Lo Za .. Lo gak boleh ngerasa sendiri. Lo bukan pengecut, Lo kuat Za. "

Eza menangis lepas di pelukan Tian, membalas pelukan itu dengan sangat erat.
"Gue terlalu mudah percaya omongan Orang Gue memang pengecut Tian. "

"Sstt .. "

Tian My Boyfriend Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang