SELAMAT MEMBACA ~
_
_
_
"Bagaimana menurutmu ?"
"Bukankah bagus, Kita kasih tau yang sebenarnya ke Eza?"
"Aku belum siap Pa, "
Percakapan itu terjadi di rumah Bram, rumah yang bagaikan istana.
Terlihat Tian sedang duduk di sofa tanpa memakai baju, Dia telanjang dada.
Malam itu, Bram datang membicarakan hal yang sudah Ia diskusikan dengan istrinya.
Seperti yang terjadi Tian masih belum mau jujur ke Eza tentang keluarganya Eza yang sedang berada di rumah sakit.
"Tian, Kamu mau Eza tau sendiri ? Dan membenci kita ?"
"Dia gak akan benci kita Pa, Eza sudah janji untuk selalu ada di sisi Aku, apapun yang terjadi. " Jelas Tian
"Jangan seperti itu Tian, Kamu gak mau kehilangan Eza untuk yang kedua kalinya kan? Saran Papa, Kita harus ngasih tau Dia. " Ucap Bram
Tian tidak bicara lagi, Dia benar-benar ingin tetap menyembunyikan fakta.
"Tian !" Panggil Bram ketika Tian memilih untuk pergi kembali ke kamarnya.
"Kalau hal itu terjadi, Papa gak mau bantu Kamu"
Perkataan orang tuanya tidak Tian hiraukan, masih tetap dengan pendiriannya.
Tian membuka pintu kamarnya dengan pelan, karena Eza masih tertidur lelap.
Tian berjalan mendekat ke sisi ranjang sebelah kiri.
Ia menidurkan badannya di samping Eza tidur.
"Gue gak tega Lihat Lo sedih Zaa " gumam Tian mengelus rambut Eza.
"Ugh .. "
Sentuhan Tian sedikit mengusik tidur Eza, Dia terbangun mengercapkan matanya, dan menatap Tian.
"Tian? Ughh "
"Jangan gerak, " titah Tian karena sudah tau itu pasti terjadi soalnya Tian mainnya agak kasar terlebih lagi di kamar mandi dia tetap membobol tubuh Eza meski Eza tidak sadarkan diri.
"Lo kenapa ? Mikirin apa ?" Tanya Eza yang menyadari kalau Tian sedang memikirkan sesuatu.
"Bukan apa-apa,"
"Gue laper, "
"Bentar, Gue ambilin Lo makanan di bawah, "
"Ya ... " Jawab Tian sambil menganggukan kepalanya
Detik itu juga Tian keluar kamar lagi, turun mengambil makanan yang tadi di bawa Bram di simpan di dapur.
Tian melihat rumah itu sudah tidak ada sosok Bram mungkin saja sudah kembali ke rumah.
Tian berjalan ke dapur dan mengambil makanan itu untung saja masih hangat.
Banyak hal yang Tian pikirkan, perkataan Bram masih mengiang di kepala Tian.
Sampai di kamarnya Tian membantu Eza buat duduk, Dia menyuapi Eza makanan.
Seluruh tubuh Eza di selimuti tanda kepemilan yang Tian sengaja buat, katanya itu bukti kalau Eza miliknya sekarang.
"Tian, Lo gak mau cerita,?"
"Kurang ?" Tanya Eza
"Iya " Tian tersenyum jahil
"Mau nambah lagi,?" Kembali Eza bertanya.
"Boleh,?" Aneh, karena itu Tian bertanya.
"Boleh, sama mbak kunti mau?"
"Gue sering zaa .. "
KAMU SEDANG MEMBACA
Tian My Boyfriend
Ficción General"Emang ada temenan, tapi mandi bareng ?" "...."
