SELAMAT MEMBACA~
_
_
_
"Sayang ... Sayang kamu kenapa ?"
"Kenapa nangis?"
"Hei ... "
Femi terlihat panik. Ia melihat Felly menangis, kondisinya juga tidak baik-baik saja. Nafasnya tidak beraturan, sesak, sambil menangis.
Segera mungkin Femi mengajak Felly kembali ke ruangannya untuk segera mendapatkan pengobatan.
Satria terburu-buru pergi ke rumah sakit, berlari di lorong rumah sakit menemui Felly. Meninggalkan pekerjaannya karena telepon dari sang istri.
"Felly baik-baik saja ma?" Tanya Satria dengan nafas yang masih memburu.
"Felly masih di periksa dokter Pa," jawab Femi dengan lindangan air mata.
Ia sangat sedih melihat kondisi anaknya.
Kalau boleh di tukar, Femi sangat ingin yang sakit itu Eza bukan putrinya
Katanya Eza itu tidak pantas untuk hidup. Dia beban merusak hubungan orang.
Felly kembali di rawat. Di larang membawanya keluar dari kamar itu bisa menganggu kondisinya.
***
Hari demi hari, bulan telah berlalu. kondisi Felly masih sama bahkan sekarang terlihat makin parah. Badannya kurus, wajahnya pucat pasi.
Dia tidak bisa bergerak, pergi bahkan duduk di kursi roda pun Felly tidak sanggup.
Kata dokter hidupnya sudah tidak bisa di harapkan lagi, hanya menunggu waktu.
Kedua keluarganya tidak terima dengan itu mereka sampai mengacau mengutuk dokter yang merawat anaknya.
Di lain sisi ...
Gio sedang tiduran di atas kasur sambil bermain handphone. Di meja kerja, Gala sedang bergulat dengan pekerjaannya.
"Gal, bosan" ucap Gio menatap Gala.
"Tunggu bentar, lagi sedikit." Jawab Gala tanpa melihat Gio.
Karena terlalu bosan, Gio pergi ke luar kamarnya, pergi ke dapur mengambil minuman dan juga Snack.
Gio duduk di sofa sambil menonton tv acara voli.
Dia menggemari acara tentang sport.
Gio merasa senang karena grup yang di dukungnya memiliki banyak poin dan hampir menang.
Kesenangannya di ganggu oleh Gala yang datang dari arah kamarnya.
Gala duduk di sebelah Gio duduk, Ia juga mengambil Snack yang di pegang oleh Gio
Katanya minta.
Keduanya udah biasa tinggal bersama. Gio yang tinggal di rumah Gala sendiri.
Keduao orang tua Gala sedang berada di luar negeri karena itu tidak masalah kalau mereka tinggal bersama.
Tidak ada yang menganggu katanya.
"Ganti Chanel" pinta Gala
"Gak boleh! " Permintaan itu justru di tolak mentah-mentah oleh Gio.
"Gio ! "
"Gue bilang gak! Ya gak! Lo sebagai pacar harus ngalah." Jelas Gio membuat Gala diam dan patuh.
"Yaudah, gak usah galak" Gala berdiri Ia pergi mengambil minuman di dalam lemari es.
Gio tertawa bahagia ketika grup yang di dukungnya benar-benar menang. Dia sampai lompat-lompat. Gala hanya menatap dengan wajah yang tidak bisa di artikan.
"Pilih grup voli apa aku?" Tanya Gala masih duduk di meja makan sambil melihat ke arah Gio.
"Pertanyaan yang bodoh. Jelas pilih grup" jawab Gio tanpa menatap ataupun melirik Gala yang ada di belakang.
