SELAMAT MEMBACA~
-
-
-
Felly berlari di lorong rumah sakit dengan terburu-buru.
"Papa!" Teriak Felly membuka pintu kamar inap di rumah sakit tersebut.
"Jangan teriak-teriak Sayang, Ini rumah sakit," Ujar Femi yang sudah ada di sana,
"Mama! Bagaimana keadaan Papa,?"
"Baik-baik saja, Sayang. Dia lagi tidur," Femi menatap anaknya kemudian beralih menatap suaminya yang tergeletak di atas ranjang rumah sakit.
"Kenapa bisa Papa yang kecelakaan sih Ma," Felly mendekati Femi, Ia melihat keadaan Ayahnya.
"Kecelakaan di kantor Sayang, bukan di jalan raya. Mau Mama jelaskan, tapi Kamu keburu tutup teleponnya," Femi menjelaskan tentang ucapannya lewat telepon tadi.
"Kirain, anak baru itu salah menjalankan misi, " Felly senang melihat Ayahnya yang baik-baik saja.
•
•
•
"Tian, Ada yang mencari Kamu di ruang guru," Ucap seorang Guru yang sedang mengajar di kelas itu, dan kebetulan Ia mendapatkan laporan.
Tian berdiri, Berjalan meninggalkan kelas menuju ruang guru. Sampai di sana Tian melihat Miru.
"Mama?" Panggil Tian.
"Tian, " Miru mendekati anaknya.
"Ini, obat Eza. Dimana Dia ?" Tanya Miru.
"Di UKS, Ma, "
"Baiklah, Mama pulang sekarang, Ingat kasih ini ke Eza, Pastikan Eza baik-baik saja ya, "
"Mama harus pergi sekarang, " Miru bergegas pergi dengan baju rapi meninggalkan sekolah Tian. Dia juga berpamitan kepada para Guru yang ada di ruangan tersebut.
Tian melihat kepergian Miru, Dia penasaran tentang satu hal yang mengganjal menurutnya.
Tidak mau berfikir keras, Tian pergi ke UKS menemui Eza.
"Permisi Bu,"
"Ya, silakan masuk Tian,"
Tian masuk kedalam setelah di beri ijin oleh penjaga UKS. Tian menemui Eza yang tertidur lelap di atas ranjang UKS.
Tian tidak ingin membangunkan Eza, tapi Dia harus minum obat. Tian mengelus pelan wajah Eza, Ia mendekatkan wajahnya, kewajah Eza kemudian mencium Eza.
Cup!
Karena sentuhan itu, Eza terbangun, mata kedua insan itu saling temu, tidak ada yang mau berbicara.
Eza melingkarkan tangannya di belakang kepala Tian, Ia tersenyum, membalas ciuman itu.
Mereka melakukan itu sembunyi-sembunyi tanpa suara kecupan, karena sadar ada pengawas UKS di sana.
"Minum obat, " titah Tian di sela-sela ciumannya.
"Ugh .. "
Mereka menyudahi ciumannya itu, dan bertingkah biasa-biasa.
"Siapa yang bawa ?" Tanya Eza.
"Nyokap," Jawab Tian sambil mempersiapkan Obat yang akan di minum Eza.
"Hal yang paling Gue benci " ucap Eza, meminum obat itu.
"Itu demi kesembuhan Lo," Tian kembali melumat bibir Eza.
"Gak pahit, " ucapnya mencicipi obat yang di minum Eza lewat bibir Eza.
Mereka sudah terbiasa melakukan ciuman tanpa perasaan.
Tapi, diantara mereka Eza memberanikan diri bertanya tentang kepastian hubungannya.
