39

18.7K 674 23
                                        

SELAMAT MEMBACA~

_

_

_

Langkah kaki menapak jalan, tidak tau arah tujuan bagaikan hidup tanpa pedoman seperti di landa kebodohan.

Seperti ada yang kurang di rasakan. Pikirannya tidak karuan merasa gelisah bercampur kekhwatiran 
Ia berusaha untuk merasa baik-baik saja namun tidak bisa.

Gelisah dan kekhawatiran berhasil menguasai pikiran Eza. Ia tergesa-gesa langkahnya yang tadi  kecil berubah menjadi larian kencang di lorong rumah sakit.

Sejak dari rumah Eza sudah merasakan takut, entah apa penyebabnya yang jelas ia ingin memeriksanya sendiri. Membuktikan kalau ini cuma perasaanya saja. Di belakang Tian mengikuti, berlari mengejar Eza

Eza membuka pintu kamar inap kedua orang tuanya yang tidak kunjung sadar sampai hari ini.
Masih terbaring lemah, tidak bergerak.

Seorang perempuan yang di tugaskan menjaga kedua orang tua Eza berdiri memberi salam.
Eza memperhatikan perempuan itu sekilas. tidak sedikit menaruh kecurigaan mesti perempuan itu memakai masker.

"Saya permisi, Tuan" pamitnya langsung pergi melewati Eza dan juga Tian.

Eza sedikit lega karena kedua orang tuannya masih hidup, masih bernafas meski harus di bantu dengan infus.

Eza berjalan mendekat ke sisi tengah, memegang kedua tangan orang tuannya dengan tatapan yang begitu lembut.

"Pa,ma," sapa Eza.

Tian menunggu di luar, memberikan ruang Eza untuk mengobrol dengan kedua orang tuannya walaupun obrolan itu tidak akan terbalas seperti pada umumnya. Karena, Eza akan berbicara sendiri.

Tian menutup pintu kamar itu dengan pelan, Ia pergi mencari tempat untuk merokok meninggalkan Eza untuk sementara waktu.

Kini hanya tinggal Eza dan kedua orang tuannya di dalam kamar, Eza sekarang duduk menatap ayah dan ibunya secara bergantian, sambil bercerita pasal kegelisahannya.

Tutur kata Eza terhenti. Saat kedua orang tuannya mengalami kejang-kejang secara bersamaan, Eza begitu panik dengan perubahan kedua orang tuanya. Eza berusaha menenangkan ayahnya dan juga ibunya.

Ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa, bahkan mulutnya tidak mampu untuk berteriak memanggil dokter.

Tidak lama Kejang-kejang itu berhenti, diikuti dengan suara nyaring dari alat pengukur jantung yang tertancap di tubuh kedua orang tuannya.

Suara yang berarti bahwa kedua orang tua Eza tidak baik-baik saja.

Sangat tidak baik-baik saja.

Eza menangis, dia mendekat, lututnya lemas di pegangnya tangan kedua orang tuannya itu, yang semakin dingin per detiknya.

Eza duduk disana. Ia tidak memanggil dokter
Karena ia takut mendengar perkataan yang mengecewakan dari mulut dokter itu.

Eza tau, sangat tau kalau kedua orang tuannya telah mati.
Ia terdiam memperhatikan kedua orang tuannya dengan senyum hambar.

Tian membuka pintu kamar itu, dan melihat Eza duduk di lantai, dengan tatapan kosong Eza menangis tanpa suara.

Tian segera menghapiri Eza, ia duduk bersimpuh menyadarkan Eza. "Za, Lo kenapa?"

Eza menatap Tian dengan sorot mata kesedihan, "Tian, apa Gue udah tua?" Karena syok Eza sedikit melantur

"Gue gak paham, Lo kanapa nangis?" Tian mencoba untuk membangunkan Eza namun Eza tetap tidak mau berdiri,

"Apa gue udah tua? Kenapa secepat itu, gue kehilangan kedua orang tua gue Tian?"

Tian My Boyfriend Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang